Bab 20

419 51 5
                                        

Terowongan bercabang itu sempit, hanya cukup untuk satu atau dua orang berjalan berdampingan. Suara desisan Zetsu yang bergerak membuat udara terasa panas dan penuh ketegangan.

“Siap?” Sasuke menoleh sekilas ke Hinata, matanya merah menyala. Nada suaranya tetap dingin, tapi ada sesuatu yang membuat Hinata menahan napas.

Hinata mengangguk, tangan kanannya siap menyalurkan Gentle Fist. Di belakangnya, Gaara menatap kedua orang itu, pasirnya bergerak perlahan mengikuti setiap gerakan Hinata. Perhatian Gaara berbeda—tidak peduli seberapa besar ancaman, ia tetap ingin melindungi Hinata tanpa harus selalu menekan atau memaksa.

Tiba-tiba, Zetsu muncul. Tubuhnya lebih besar, gerakannya cepat dan liar. Sasuke melesat maju, Chidori menyalak di tangannya, menyerang Zetsu dari depan. Serangannya presisi, tapi Zetsu itu terlalu cepat, menangkis dan membalas dengan tendangan panjang yang hampir menghantam Hinata.

Tanpa pikir panjang, Gaara membentuk perisai pasir besar untuk menahan serangan itu. Hinata terselip di antara perisai dan Sasuke. Tubuhnya menyentuh Sasuke, jarak mereka terlalu dekat.

“Hinata!” Sasuke berseru, menahan tubuhnya agar tidak tergelincir. Detik itu, mata mereka bertemu—mata merah Sasuke dan mata putih Hinata—detik yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

Hinata tersadar betapa dekat mereka, tapi sebelum ia bisa menarik napas, Zetsu lain menyerang dari belakang. Gaara cepat menutup celah itu dengan pasirnya, menahan serangan. “Tetap fokus!” katanya tegas.

Hinata menyalurkan chakra ke tangannya, menembakkan Gentle Fist yang tepat ke tubuh Zetsu yang mencoba mendekat. Sasuke melesat di sampingnya, memotong Zetsu dengan Chidori. Gaara menambahkan serangan pasir dari arah lain. Dalam sekejap, tiga serangan itu menghantam Zetsu secara bersamaan, membuatnya terguling ke lantai.

Debu tebal memenuhi ruangan. Hinata terengah, dada berdebar. Ia menoleh ke Sasuke yang menatapnya singkat, dan kemudian ke Gaara yang tetap tenang, pasirnya kembali ke posisi siap.

Detik itu, Hinata menyadari sesuatu. Sasuke membuatnya merasa waspada dan diperhatikan, tetapi Gaara memberinya rasa aman dan nyaman. Hatinya terbelah, tidak tahu harus merasa lega atau gugup.

Sasuke mencondongkan tubuh sedikit, suara dinginnya terdengar hampir seperti bisikan: “Jangan lengah.”

Gaara meletakkan tangan di bahu Hinata sebentar, menatapnya penuh perhatian: “Aku akan selalu menutupimu.”

Hinata menelan ludah, detik itu jantungnya terasa seperti terbelah menjadi dua. Di tengah pertarungan yang menegangkan, hatinya juga bertarung—antara ketegasan dan perhatian Sasuke, atau ketenangan dan perlindungan Gaara.

Zetsu yang tersisa mulai bangkit kembali, menandakan pertarungan belum selesai. Hinata menatap kedua orang itu, dan dalam hatinya ia sadar: bahaya di sini bukan hanya dari Zetsu… tapi juga dari perasaan yang semakin sulit ia abaikan.

...

Zetsu yang tersisa menatap mereka dengan tubuh basah dan penuh tentakel yang bergerak liar. Ruangan sempit membuat setiap gerakan berisiko, dan Hinata merasakan adrenalin memuncak di setiap langkahnya.

“Gaara… hati-hati!” teriak Hinata saat salah satu tentakel Zetsu hampir menabrak pria berambut ikal itu. Gaara cepat menahan serangan dengan pasir, tetapi ia hampir kehilangan keseimbangan.

Sasuke melesat di samping Hinata, Chidori menyala di tangannya. “Jangan sampai lengah, Hyuuga!” ucapnya dengan nada tegas tapi anehnya… Hinata merasa ada kepedulian di balik kata-katanya.

Dalam satu gerakan cepat, tentakel Zetsu menyerang dari arah lain. Hinata otomatis menangkis dengan Gentle Fist, tapi tubuhnya terpental sedikit ke arah Sasuke. Tanpa sadar, mereka saling jatuh terdorong ke dinding sempit, wajah mereka hampir berhadapan.

UnintendedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang