Made by @Nadaalissa9, August 19th 2015
Almost Is Never Enough - Ariana Grande
Seorang gadis sedang berjalan tergesa-gesa menuju sebuah toko benama "Rezeki" dengan membawa sebuah kotak berisi donat aneka rasa. Ia tersenyum diambang pintu dan langkahnya kini mulai memelan, tatapannya lurus dan tangannya memegang erat kotak tersebut.
"Bude, ini pesenannya. Oh ya kata ibu uangnya yang kemarin diminta sekarang." ujarnya.
Wanita yang dipanggil bude itu tetap fokus dengan pekerjaannya sehingga membuat gadis berambut hitam pekat itu sedikit kesal karna diabaikan. "Bude Ajeng, Masya mau nganter kue lainnya." ujarnya lagi.
Kali ini bude Ajeng sadar akan kehadiran Masya, "Loh Nak Masya, kok gak bilang sih kalo udah sampek?" tanya bude Ajeng.
Masya mengerlingkan, "Dari tadi juga udah manggil bude tapi bude gak denger kali. Oh ya ini pesanannya, sama uang yang kemaren diambil kata ibu." jelas Masya dengan mengangkat kotak yang dibawanya.
Bude Ajeng mengambil uang dari dompet, "ini Sya, mau nganter pesanan kemana lagi?" tanyanya.
"keperumahan sebelah sini bude." jawabnya "Oh bude boleh nitip gak?" tanyanya.
"Boleh dong, bude mau nitip apa? Buat siapa?" tanya Masya beruntun, Bude mengambil rantang makan yang sedari tadi berada dimeja, "ini sya buat keponakan bude, dia tadi pesen. Ini alamatnya, makasih ya syah." ujar bude dengan menyodorkan kertas kecil
"Iya bude sama-sama. Masya berangkat dulu" pamitnya lalu berjalan menuju parkiran yang jaraknya cukup jauh dari tokoh "Rezeki".
Dengan semangat ia mengayuh sepedanya hingga terhenti didepan sebuah rumah minimalis bercat hijau muda, ia mengecek kembali alamat yang diberikan bude Ajeng dan ternyata benar itu adalah rumah keponakannya.
Tok, tok, tok. Masya mengetukan jemari-jemarinya ke pintu kayu itu dan tak lama kemudian munculah seorang lelaki dari balik pintu.
"Iya, mau cari siapa?" tanya laki-laki itu. Masya termangu menatap laki-laki yang ada didepannya, kemudian ia sadar akan tujuannya, "eh- an- anu itu, apa sih kok jadi gini. Ehm, ini dari bude Ajeng tadi dia nyuruh aku buat ngasih ini ke keponakannya" jelasnya dengan mengangkat rantang nasi berwarna putih.
Laki-laki itu mengambil rantangnya dan tanpa sengaja menyentuh tangan Masya, "Oh ... Makasih ya? Nama lo siapa? Kenalin gue Rangga" laki-laki bernama Rangga itu mengulurkan tangannya dan dengan sedikit gugup Masya membalas uluran tangan itu, "A- Aku Masya, ehm kalo gitu aku balik dulu" ujarnya lalu beranjak pergi.
_
Terdengar suara ketukan dari luar. Masya yang baru bangun dari tidurnya terpaksa untuk membukakan pintu itu. Dengan langkah gontai ia berjalan menuju ruang tamu.
Ceklek.
"Pagi, ini gue disuruh bude ngembaliin kotak lo" ujar Rangga dengan mengulurkan kotak milik Masya.
"Eh, makasih ya ngga. Jadi gak enak, biasanya juga aku ambil sendiri" jawab masya. Rangga tersenyum, "Santai aja kali, oh iya hari ini lo mau nganter kue gak?" tanya Rangga.
Masya menganggukan kepala. "Boleh gue bantu? Boring banget dirumah cuma tidur aja haha" tawar Rangga sementara Masya menganga tidak percaya.
Rangga melambaikan tangan. "Eh iya boleh, aku ganti baju dulu." Masya berlari menuju dapur dan didapati ibunya sudah selesai membuat kue-kue dan ia pun berlari menuju kamar mandi untuk bersiap-siap.
_
"Capek ya nganterin kue? Hehe." ujar masya. Rangga menggeleng cepat, "Enggak biasa aja, malah gue seneng Sya." Masya mengangkat alisnya seolah bertanya alasan dari Rangga, "Gue seneng aja bisa bantu lo, besok gue temenin lagi." ujarnya dengan senyuman.
