05. Not In That Way - Luthfia (luthfia_AF)

206 22 3
                                    

Made by @luthfia_AF, September 11th 2015

Not In That Way - Sam Smith


Siang itu Fauzan memilih menghabiskan waktunya dengan memainkan bola orange besar di lapangan bersama teman-temannya. Keringat membanjiri dahinya, juga kaos yang dia pakai sebagai dalaman seragam. Fauzan menatap pantulan sinar matahari yang terlihat kokoh menyinari seakan menunjukkan keperkasaannya.

Biasanya, di jam istirahat yang bertepatan dengan jam 12 siang, dia menghabiskan waktu dengan Uthik. Pacarnya sekarang. Atau tidak, dia akan memakai waktunya untuk mengganggu Danisa. Sahabatnya yang sekarang jadi adik kelasnya.

Tapi hari ini, dia sedang tidak mood bersama Uthik. Dan dia juga tidak bisa menemukan Danisa di manapun dia mencari. Akhirnya, Fauzan memilih menantang sinar matahari dengan terus berlarian di bawah teriknya.

"Kak Fauzan! Kak!"

Fauzan menoleh ke asal suara, dia melihat adik kelasnya melambay di pinggir lapangan. Fauzan mengenali cewek itu sebagai Dhila, teman dekat Danisa di kelas. Kenapa cewek itu kelihatan panik begitu? Bahkan dia tidak perduli dengan pelototan anak cewek angkatan Fauzan yang menatapnya sinis terang-terangan.

Fauzan berlari kecil menghampiri Dhila, dihapusnya keringat yang membanjiri dahinya dengan handuk kecil miliknya. "Kenapa, Dhil?" Tanya Fauzan ketika dia sudah berada tepat di hadapan Dhila.

"I-itu, Kak. Danisa... dia... Danisa..."

Entah kenapa, Fauzan merasa tangannya mendingin. "Danisa kenapa!?" tanyanya cepat, memotong kalimat berantakan yang coba diucapkan Dhila. Tangan Fauzan mendingin, mendadak perasaan khawatir menderanya.

"Danisa tadi dibawa sama Kak Ken ke lorong kelas 12! Aku nggak tahu ceritanya kak, aku tadi lagi di kamar mandi. Waktu balik, aku udah lihat Kak Ken narik tangannya Danisa ke tangga yang menuju ke lorong kelas 12."

Shit. Fauzan mengumpat dalam hati. Kakak kelasnya itu rupanya tidak menanggapi peringatan dari Fauzan. Padahal sudah jelas Fauzan melarang keras cowok itu mendekati Danisa, seincipun.

Fauzan menoleh ke arah tangga kelas 12, tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Dia tahu sudah hukum tak tertulis bahwa tangga itu hanya boleh digunakan oleh kelas 12. Dan anak angkatan bawah yang berani menggunakan tangga itu, artinya cari mati.

Tapi toh tetap dilangkahkannya juga kakinya menuju ke tangga itu. Fauzan mengumpat, peduli setan dengan peraturan itu. Dia hanya ingin segera menemui Danisa!

*

"Sebentar lagi masuk, Kak. Sa-saya permisi dulu ya." Danisa sudah hampir mencapai pintu, ketika tangannya kembali ditarik oleh Ken. Kakak kelas yang Danisa tahu cukup getol mendekatinya.

Ken tersenyum super manis, "Kok buru-buru sih, Nis? Tenang aja, di sini kamu aman kok." Gumamnya lembut.

Aman? Danisa malah merasa sedang berada di kandang harimau yang di dalamnya berisi puluhan harimau yang siap menerkamnya. Danisa melirik takut-takut kakak kelas cewek yang berada di kelas ini, yang menatapnya dengan berbagai perasaan.

Ada yang kesal, ada yang geli, ada yang sinis, dan malah ada yang tidak perduli. Benar-benar menyedihkan rasanya.

Danisa berusaha melepaskan cengkraman Ken, namun cowok itu malah menguatkan cengkramannya lalu mendorong Danisa hingga punggungnya terantuk tembok. "Danisa Putri." Ken menggumamkan namanya dengan begitu lembut.

"Suit suit~ Sosor Ken, sosor!!"

Terdengar kehebohan dari anak buah Ken di sekolah ini, yang membuat Danisa tidak sempat berteriak apalagi melepaskan diri. Danisa tahu Ken adalah salah satu ketua gank di sekolah ini, preman sekolah panggilannya. Dan itulah alasan terbesar Danisa sama sekali tidak mau menanggapi Ken.

Rhythm of LifeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang