CHAPTER 2

117 12 0
                                    


RANI POV

Aku berjalan ke kantin sendiri. Putri tidak masuk hari ini, katanya sih dia ada pemotretan. Aku tidak masalah, toh aku juga terbiasa. Aku berjalan ke stand makanan dan membeli nasi goreng. Kebetulan sekali hari ini aku punya uang jajan lebih.

Aku berjalan ke meja di dekat jendela sambil membawa piring nasi goreng.

Meja di dekat jendela itu jarang ada yang nempatin. Bisa dibilang kayak meja anak kutu buku gitu. Kadang juga anak yang suka di bully duduk disitu. Aku bukan salah satu dari yang tadi aku sebutkan. Aku hanya memang suka sendiri. Well, aku tidak di bully tapi juga tidak ada yang mau berteman denganku.

Kenapa aku tidak di bully? Mungkin karena putri. Pernah sekali aku menjadi korban ke jahilan dodi, dan putri sangat marah. Dodi dan putri berantem sampai sulit di pisahkan jika bukan reyhan yang memisahkan. Begitu begitu putri itu tenaganya kuat loh. Dia itu ahli bela diri karate.

Aku memakan nasi goreng dalam diam. Nasi goreng buk melly emang yang paling enak deh. Bener kata reyhan yang suka makan disini.

Saat aku sedang asik makan bangku di depanku tertarik dan menimbulkan suara yang keras. Aku mendongak dan melongo menatap Rafka yang duduk di depanku

"Kenapa disini?" Tanyaku refleks. Tentu saja begitu. Bukannya nggak sopan, tapi kan nggak mungkin aja rafka mau duduk disini. Biasanya juga dia duduk bareng temen temen basketnya

"Nggak mau nyapa gue dulu gitu?" Tanya Rafka yang terdengar kesal. Apa aku keterlaluan

"Maaf" ucapku sambil menunduk

Aku mendongak saat mendengar tawa Rafka. Tawanya indah. Hahaha aneh bukan. Tapi memang begitu. Tawanya menenangkan dan indah

"Hahaha nggak usah ngerasa bersalah gitu juga kali" Rafka mengambil sendok dan mulai makan "gue cuma lagi males aja duduk bareng mereka. Berisik banget. Jadi gue duduk disini. Gue juga gue liat lo sendiri. Dari pada sendirian ntar kesambet loh"

Aku tersenyum mendengar ucapan Rafka. Aku hanya mengangguk dan kembali makan. Dalam hati aku senang. Bukan senang lagi tapi senang banget. Gimana nggak? Rafka kapten basket, anak famous, duduk bareng aku dan makan bareng. Unbeliveble banget bisa duduk sama anak famous

"Ngomong-ngomong kemana tuh temen lo? Biasanya barengan"

"Nggak masuk. Ada pemotretan kayaknya"

"Oh"

Sungguh aku merasa anak ini aneh. Dia datang dan mendekatiku, bukannya aku percaya diri, tapi memang begitu. Bicara padaku seolah kita udah saling kenal. Padahal cuma baru ketemu di bis dan kebetulan duduk bareng aja. Dia juga kenapa minta duduk bareng. Ya mungkin sih, dia liat aku pake baju seragam yang sama dan duduk sendiri. Jadi ya mungkin dia duduk bareng aku cuma karena sebatas sapa anak satu sekolah.

Aku melihat seluruh kantin mencari reyhan. Putri bilang dia minta di jemput dan nyuruh aku untuk kasih tau reyhan. Kenapa nggak kasih tau sendiri. Kan putri pacarnya. Emang putri menyebalkan.

Tapi yang Aku lihat banyak anak yang menatapku sambil berbisik bisik. Oh ayolah, aku tau sebabnya apa. Rafka. Pasti.

Kenapa hari ini aku jadi sial gini sih. Aku memandang intan yang menatapku dengan pandangan membunuh. Aku menekan ludah, bisa gawat kalau begini. Intan itu anak yang paling suka membully anak lain yang seketika anak famous kayak Rafka gini. Dan sekarang aku satu meja bareng rafka. Bisa kena bully nih.

"Kenapa lo jadi kayak abis ngeliat setan deh?"

"Emang setan"

"Hah?"

FIGHTING FOR LOVETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang