Raxel menjulurkan sebuah kotak kecil ke meja depannya. Senyumannya sedari tadi belum luntur kala orang di hadapannya menyetujui pertemuan itu.
"Ambil itu. Titipan dari mama."
Azrie meraih kotak kecil itu dan membukanya. Seperti biasa, ibunda Raxel seolah selalu mengertinya. Sebuah jam yang Raxel idam-idamkan kini berada di depannya.
"Gue minta maaf."
"Lo terlalu sering mengucapkan kata itu, Ra."
Raxel tertegun mendengar jawaban Azrie. Nadanya berbeda. Tepat seperti beberapa tahun lalu.
"Tante baik?"
"Hm?-- mama? Baik."
"Gue kangen sama tante Ghina. Kapan ke Indo?"
Raxel benar-benar tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Azrie bahkan kini menanyakan bagaimana mama Raxel. Obrolan ini terlalu ringan untuk batasan dua orang yang bermusuhan.
"Gue putus sama Sheerin."
Raxel menyeruput minumnya sambil mengangkat kedua alisnya ke arah Azrie.
"Gue baru sadar, dia cewe yang dulu bikin kita berantem juga ya? Kok lucu?"
Azrie sedikit terkekeh yang lebih terkesan sebagai tertawa miris. "Dari dulu emang dia itu punya lo 'kan? Tapi dengan seenaknya gue jauhin dia terus dari lo.""Zrie, gue merasa aneh."
"Hm, emang. Wajar."
"Lo.. ga marah sama gue?"
Azrie tersenyum, dengan sebelah alisnya yang terangkat. "Buat apa gue marah sama sepupu yang bahkan selalu ada buat gue?"
"Zrie?"
"Hm?"
Raxel kini tertawa senang tatkala melihat Azrie yang dengan santainya menyeruput minumannya sambil memandang Raxel bersahabat. Melihat Raxel tertawa, Azrie pun dengan seketika ikut tertawa renyah. Dan apa ini? Mereka kini seperti dua orang yang sebelumnya tidak memiliki masalah. Sungguh kontras dengan apa yang mereka lakukan sebelumnya.
"Kok kita lucu ya? Kayak anak kecil ah. Geli gue."
Azrie terkekeh mendengar penuturan Raxel. "Lo yang begitu aja geli gimana gue? Jijik gue."
"Lo sih bocah banget."
"Yang lahir duluan gue, Ra."
"Ah, silsilah keluarga gue duluan. Gue yang lebih tua."
"Serah-serah lo deh ya."
Raxel memasang rentetan giginya di depan Azrie yang langsung mengundang tawa Azrie. "Diem ah! Jijik! Pengen gue makan tau ga!"
"Bahasa lo dari dulu ga berubah. Ga gaul."
"Serah Ra serah."
Mereka pun tertawa bersama dan menikmati sepanjang sore bersama dengan segala ketidak warasan mereka.
Bahkan, mau berapa lama pun mereka bertengkar, rasa hangat itu tetap terasa ketika mereka berbaikan. Lalu bagaimana dengan cinta? Apakah akan tetap hangat ketika sudah lama terpisah dan tidak saling merasakan?***
Pagi-pagi sekali Raxel sudah benar-benar disibukkan oleh jadwal rapat yang kemarin ia tunda. Kini Raxel hanya bisa menyiapkan segalanya dengan berbagai sumpah serapah yang ia lontarkan. Ziora yang melihat kembarannya sibuk malah lebih memilih menonton tanpa menolongnya sedikit pun.
"Zi... bantuin kek. Jahat amat ama adek sendiri." Rengek Raxel sambil mengecek beberapa dokumen yang berada di meja ruang keluarga.
"Males. Siapa suruh kemaren leha-leha ga ngejalanin rapat."

KAMU SEDANG MEMBACA
Mr. A
Genç Kurgu[INI BUKAN FANFICTION] Sheerin tidak akan pernah mau mengenal dan berhubungan dengan masalah percintaan. Karena baginya cinta itu membawa kekecewaan. Membawa penderitaan. Dan juga membawa tangisan. Hingga pada akhirnya Sheerin bertemu dengan seseora...