Paris tercengang ketika melihat ke bangunan lantai empat asrama cewek didepannya. Dia tidak mungkin salah, tetapi begitulah informasi dari bagian administrasi. Emmanuel menempati salah satu kamar paling ujung dekat pintu gerbang asrama cewek. Beberapa kamar di asrama cowok belum selesai direnovasi.
Paris menggeleng tak mampu membayangkan akan seperti apa reaksi Anancia kalau tahu anak tirinya ini hidup sangat membahagiakan diluar rumah, dengan kehadiran cewek-cewek disekitar kamarnya. Padahal sejak hari dimana Emmanuel melarikan diri, Acancia tak habis-habisnya mengomel kepadanya untuk membawa pulang kembali anak sialan itu.
Acancia sepertinya amat sayang pada anak berengsek itu, mungkin karena takut diminta pertanggungjawaban Benjamin ketika kembali dari perjalanan tugasnya keluar negeri.
Paris awalnya tidak peduli. Dia tahu anak itu bisa hidup sendiri bahkan mengurus diri. Tetapi kali ini, dia terpaksa harus menariknya kembali. Laporan bahwa ada perkelahian mahasiswi karena Emmanuel memang cukup membakar kupingnya. Selalu saja urusan perempuan.
Entah kapan adiknya itu berhenti berulah.
Paris menggulung lengan bajunya ke siku. Kali ini dia takkan segan-segan menggunakan kekerasan. Kalau sampai ada gadis yang nekat mendatangi rumah mereka dengan mengaku telah hamil, maka sudah dipastikan Paris akan membunuh adiknya itu dengan tangannya sendiri. Keterlaluan.
Beberapa mahasiswi tampak terkejut ketika Paris berjalan dilorong asrama mereka. Mereka saling bertatapan. Ada yang berhenti untuk sekedar menatapnya ketika lewat. Tapi Paris sedang tak peduli. Dia akhirnya berhenti didepan pintu yang tertutup rapat.
Suara cekikikan seorang cewek dari dalam kamar itu membuat Paris menggeram. Dia tetap mengetuk pintu dengan tegas. Tiga ketukan tanpa respon membuat Paris semakin menguatkan ketukannya.
Hal itu menarik perhatian. Beberapa mahasiswi cewek pun mulai membentuk kerumunan dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Cekikikan itu terhenti. Berganti derap langkah menuju pintu. Bagus, batin Paris. Dia sudah siap untuk menghajar cowok itu ketika wajahnya terlihat nanti.
"Pak Paris?!"
Paris mengalihkan pandangannya. Daniella berdiri disana dengan tatapan bingung menatapnya. Untuk beberapa saat emosi dikepala Paris, berhasil teredam. Dia sadar Daniella tengah memandangnya kemudian bergantian dengan kerumunan kecil yang juga sedang memandangnya. Seakan tahu apa yang hampir saja dilakukannya, Paris menghela napas sebelum balas menyapa. "Halo, Daniella?"
"Apa yang terjadi?"
Paris melirik kembali ke arah pintu sambil tersenyum kecil. "Saya hanya ingin tau apa ada mahasiwa bermasalah dikamar ini."
Daniella ikut menatap ke arah yang sama. Pintu kamar itu telah terbuka setengah. Tidak ada siapapun yang muncul dari dalam sana. Tetapi dia tahu pemilik kamar itu tahu. "Oh baiklah, maaf menganggu. Saya permisi." Kata Daniella sambil melewati tubuh Paris.
Paris masih menatapnya hingga Daniella menghilang dibalik pintu kamarnya sendiri, dua kamar setelah kamar Emmanuel. Paris kembali berpaling pada kerumunan disekitarnya. Mahasiswi-mahasiswinya pun serempak membubarkan diri ke aktivitas masing-masing.

KAMU SEDANG MEMBACA
Better Enemy
RandomEmmanuel Juan adalah musuh abadi Paris. Dia akan melakukan apapun agar bisa melihat kembali luka dimata sang kakak atas kesalahan dimasa lalu keduanya. Termasuk menyeret Daniella mahasiswi idaman sang kakak ke dalam pusaran permainannya. Dia berhara...