CHAPTER 8

65 8 0
                                    

RANI POV

Aku menghela napas bosan. Sudah satu jam aku menunggu david di kantin. David bilang sih dia pengen daftar masuk ke klub basket. Terus minta aku tungguin disini, katanya sih david pengen ajak aku pergi sebentar. Berarti ini kedua kalinya aku jalan sama david. Senengnya pake banget. Kalau kata putri sih yang kayak gini tuh kesempatan buat pendekatan. Tapi aku nggak ngerti maksudnya gimana. Aku ngerti arti pendekatan, cuma aku nggak ngerti harus ngelakuin apa selama pendekatan. Lagian Setau aku cowok yang mulai pendekatan. Tapi kan itu kalau cowoknya suka juga. Kalau cowoknya nggak suka gimana? Ya nggak bakal pendekatan dong

"Ran" aku menoleh kesamping. Aku membulatkan mataku karena terkejut. Rafka? Dia samperin aku? Ngajak aku ngomong? Serius? Nggak mimpi? Bukannya kita lagi marahan. Bukan kita sih, tapi Rafka "Ran?"

"Eh? Iya kenapa?" Duh kok jadi bingung gini sih

"Sendirian aja?" Tanya Rafka dan duduk disebelahku. Rafka menaruh botol minuman ber ion nya di meja. Sepertinya dia habis main basket, bajunya masih pake baju basket dan keringatan. Dan ini tuh istimewa banget. Kenapa? Soalnya kalau rafka keringatan wanginya dia kecium banget. Bau? Ya nggak lah. Sekalipun keringatan Rafka nggak bakal bau. Putri aja ngakuin. Hahaha

Aku mengangguk "lagi nungguin david"

"Oh" jawab Rafka singkat. Aku memandang Rafka. Sekilas wajah Rafka terlihat dingin tapi di kembali santai. Satu lagi hal yang aku baru ketahui tentang Rafka.Dia itu orang yang gampang banget berubah mood "emang dia ngapain?"

"Lagi daftar masuk klub basket" jawab ku dan menyodorkan bungkusan potato chip "mau?"

Rafka mengambil dua potongan "thanks" dan aku mengangguk

Dan kami terdiam. Dulu pertama kali aku bertemu Rafka kami selalu diliputi keheningan. Dan jika dulu aku hanya diam saat hening, Tapi sekarang aku tidak suka keheningan itu

"Maaf"

Aku menatap Rafka bingung dan terkejut. Bingung kenapa Rafka minta maaf. Terkejut karena... tidak tau karena apa

"Maaf soal kemarin" Rafka menatap tepat di mataku. Matanya Rafka itu bisa banget menghipnotis. Nggak tau dia belajar dari mana. Tapi buktinya aku nggak bisa berpaling "Gue yang salah"

Aku menggeleng tanpa sadar "Nggak. Bukan lo yang salah"

"Gue tau kok bukan lo yang dorong Stecy"

Aku mengedipkan mataku agar tidak menatap mata Rafka lagi. Aku menunduk "tapi gue nggak sengaja tarik tangan dia"

Aku dengar Rafka menghela napas "Iya gue tau. Gue juga tau kalo yang kemarin Stecy jatuh lo nggak bermaksud buat dorong Stecy" aku menatap Rafka yang juga sedang menatap ku "Gue nggak tau gimana kejadian sebenarnya. Tapi gue percaya sama lo"

Gue percaya sama lo

Oh tuhan.. Seneng rasanya bisa denger Rafka ngomong kayak gitu. Aku pikir Rafka nggak bakal percaya. Dan nggak bakal maafkan aku

"Makasih raf" aku memasang senyum termanis ku

Rafka juga tersenyum "nanti malem jalan yuk. Gue lagi bete nih. Udah lama juga kan nggak jalan bareng" Rafka mengambil dua potong potato chips lagi

Aku mengangguk "boleh. Gue pengen beli novel"

"Oh ya? Novel apaan?"

"Cerita khusus anak cewek lah"

Rafka tertawa mengejek "pasti cerita romance"

Aku menggeleng "Nggak semua cewek suka cerita romantis raf"

FIGHTING FOR LOVETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang