Sorry Sorry

1.4K 116 20
                                    

Kebetulan sekali. Saat dia baru turun dari mobilnya dan hendak naik ke lantai atas untuk menemui Seulgi, dilihatnya Sehun keluar dari gedung itu. Kali ini dia tidak takut lagi jika kedapatan menemui Seulgi di apartemennya. Bahkan sudah tak perlu lagi menyembunyikan perasaannya—yang masih ada—pada Seulgi. Semuanya sudah ia ketahui dari Baekhyun. Tentang Sehun, juga tentang kekecewaan Seulgi. Dia mengepalkan tangannya dan menghampiri Sehun yang berjalan gontai. Lalu tanpa basa basi, dia menyapanya dengan satu pukulan tepat di tulang hidungnya.

BUG

"Brengsek!"

BUG

Satu pukulan lagi di pipi kiri Sehun.

"Pengecut!"

BUG

Satu lagi di sudut bibirnya. Sehun tak sempat melawan, bahkan harus mengerjapkan mata berkali-kali saat dia tersungkur di tanah untuk tahu siapa yang memukulnya. Dia terbatuk, tampak darah mengalir dari hidung dan sudut bibirnya. Jongin menatapnya dengan nafas memburu, tangannya masih mengepal.

"Apa yang kau lakukan pada Seulgi, hah?" ditariknya kerah pakaian Sehun agar dia berdiri kembali. "Aku telah merelakan dia untukmu karena aku pikir, kau bisa lebih membahagiakannya! Aku mengira kau adalah yang terbaik untuknya! Kenapa kau malah menyakitinya seperti ini? Brengsek!" Jongin memukul Sehun lagi hingga terjatuh untuk kedua kalinya.

Sehun hanya diam dan menunduk. Itu semakin membuat Jongin murka dan ingin memukulinya lagi. Tapi yang terjadi, dia hanya mengusap wajahnya kasar. Helaan nafasnya pun terdengar kasar.

"Maaf..." akhirnya Sehun membuka suara.

"Apa kau sengaja melakukan ini untuk balas dendam padanya? Kau tidak pantas disebut lelaki!"

"Tidak pernah!" sela Sehun, kini mendongak menatap Jongin. "Tidak pernah sekali pun aku merasa dendam atau berniat membalasnya."

"LALU KENAPA KAU MENYAKITI SEULGI?"

"AKU MERASA BERSALAH!" suara Sehun ikut meninggi. "Aku tahu ini kesalahan besar. Dia begitu baik... terlalu baik... tapi aku malah mengecewakannya," ucapnya lirih.

Jongin menatap Sehun tak percaya. "Aku tidak paham bagaimana kalian bisa bersama," dia berbalik untuk masuk, tapi kembali lagi. "Jika nanti aku melihatnya menangis, aku pastikan kau akan menyesal seumur hidupmu!" dan setelah itu Jongin benar-benar masuk dengan tergesa.

Tidak ingin membuang banyak waktu, bahkan untuk menunggu pintu lift terbuka sekali pun. Dia mengumpat karena benda metal itu tak juga bergeser. Ditekannya tombol buka berkali-kali, tetap tidak terbuka. Lalu Jongin berteriak dan menendangi pintu lift sebelum berlari ke arah tangga. Nama Seulgi terus ia suarakan dengan lirih walau nafasnya terengah karena berlari. Seulgi yang ia cintai mungkin sedang menangis sekarang. Sangat ia yakini itu. Dia saja, seorang lelaki bisa menangis karena ditinggalkan oleh Seulgi. Apalagi Seulgi yang begitu rapuh dan gampang menangis, dia pasti tidak mampu bertahan menghadapi kenyataan ini.

Apakah dia merasa menang? Tidak. Apa dia merasa senang karena ternyata Sehun lebih buruk darinya? Tidak. Atau mungkinkah dia merasa puas karena pasti Seulgi akan menyesal karena lebih memilih Sehun? Jawabannya tidak. Faktanya, justru dialah yang merasa menyesal. Dia menyesal karena tidak mengambil langkah berani untuk merebut Seulgi. Seharusnya malam itu dia menahan Seulgi untuk tidak pergi dengan Sehun, memintanya tetap bersamanya, atau kalau perlu membawa gadis itu pergi jauh sejauh-jauhnya dari Sehun. Kali ini dia akan lakukan. Persetan dengan yang namanya kelancangan. Sehun sama sekali tidak pantas untuk Seulginya. Dia tidak akan biarkan Seulgi bersama Sehun lagi.

Ditekannya bel apartemen Seulgi, cukup panjang agar terkesan memaksa. Ya, dia akan memaksa Seulgi keluar. Rupanya memang tak sia-sia. Seulgi membuka pintunya tak lama kemudian.

BittersweetTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang