***
Setiba di depan gerbang sekolah, teman-temannya menyambut David dengan girang.
"Syukurlah, pemimimpin kita sudah sembuh sekarang." Jardon berseru.
"Ayo kita ke ruang kepala sekolah sekarang!" Ucap David yang tak sabar lagi ingin mengurus anak baru yang dianggap teroris itu.
Semua temannya mengikuti David masuk ke halaman sekolah. Tak lama kemudian Maryam pun masuk ke gerbang sekolah dab menunduk.
"David. . . David. . . Stop!" Teriak Jardon. Lalu David pun menoleh ke arah Jardon.
"What's going on?" Tanya David penasaran.
Jardon mendekat dan berbisik, "there she's, Dave." Jardon berujar sambil menoleh ke arah Maryam. David pun ikut menoleh melihat Maryam.
David terperangah, sosok wanita berwajah cerah itu terus menunduk. Matanya yang bening, hidungya yang mancung, serta alisnya yang tebal membuat David diam terpaku.
"Are you sure that she's a terrorist, Jardon?" Tanya David.
"You don't believe me, Dave? Look at her big veil (lihat jilbab besarnya). Someday you'll see her concealing the bom over her veil (suatu hari, kau akan melihanya menyembunyikan bom di balik bajunya)." Ujar Jardon meyakinkan David.
"Aku tidak mau ke ruang kepala sekolah sekarang. Aku yakin dia bukan teroris," ucap David. Jardon langsung terkejut. Teman-teman sekelasnya melihat David dengan tatapan aneh. Mereka heran mengapa David tiba-tiba berubah pikiran, padahal dia yang paling semangat untuk mengusir Maryam yang dianggap teroris itu.
"Dave, what's wrong with ya? You have to believe me! She's a terrorist. T-E-R-R-O-R-I-S-T. Remember that!" Teriak Jardon meyakinkan.
Maryam terus berjalan dan tak memperdulikan perdebatan mereka. Maryam sekilas melihat ke arah David dan tersenyum, lalu berlalu. Sementara David terdiam kaku bagai terkena hipnotis saat melihat maryam memberikan senyum untuknya.
"David...?!" Teriak Jardon lagi.
"Teman-teman semua, percayalah padaku, dia bukan teroris. Sekarang aku mau ke kelas. Terserah kalian mau ikut belajar atau tidak denganku. Aku tak mau ikut campur lagi." David berkata tegas pada semua teman kelasnya.
"Kalau sampai kau masuk ke kelas, berarti kau bukan ketua kelas kita lagi." Jardon mengancam.
"Terserah, tapi percayalah padaku, aku yakim hadis itu bukan teroris, aku bisa melihatnya, dia gadis baik-baik," ucap David tegas, lalu pergi ke kelas meninggalkan mereka.
Jardon dan teman-temannya bersikukuh untuk tidam mau masuk kelas. Mereka pulang atas bujuk dan rayuan Jardon dengan orasi semangatnnya. Jardon berhasil mempengaruhi teman-teman kelasnya untuk meyakinkan bahwa Maryam benar-benar seorang teroris. Semua teman kelasnya kecewa pada sikap David yang begitu saja yakin bahwa Maryam bukan seorang teroris.
***
February, 15th 2k16

KAMU SEDANG MEMBACA
Tell Your Father That I am a Moslem
Random"jika kau memelukku, maka butuh waktu empat puluh tahun bagi Tuhanku untuk mengampuniku. Biarkan kita sedekat ini. hanya sebatas ini." -Maryam "aku mencintaimu. apakah juga butuh waktu empat puluh tahun untuk mengampunimu jika aku mencintaimu?" - Da...