Part paling gaje yang aku bikin. Gak deh semuanya gaje. Typo bertebangan.
Mitha's pov
Mungkin kalimat 'jadi pacar saya' seharusnya lebih cocok dengan 'jadi babu saya'. Bayangkan, saat ini aku sedang menenteng jas dan tas kerjanya mas ganteng. Mengikutinya dari belakang, kayak babu. Kenapa dia gak sekalian beliin aku daster ibu-ibu dan kemoceng aja biar puas?
Aku teringat beberapa jam lalu saat ia dengan seenaknya mengusirku dari ruangannya dan membuat keputusan.
"Diam kamu saya anggap 'iya'." kalimat itu terus muncul di otak maupun telingaku.
Ketika ia mengatakan tiga kata itu aku diam dan tak berani menjawab. Mukaku merah sampai ke telinga. Belum lagi tatapan tajamnya yang terus menatapku sampai ia menyimpulkan status itu.
"Mulai sekarang kamu pacar saya."
"Udahkan? Sekarang kamu gak perlu ngerasa berhutang budi."
"Keluar sana! Saya mau kerja."
Kalimat yang keluar dari mulut mas ganteng itu memang menyakitkan. Apalagi yang terakhir. Aku masih ingat ketika pukul dua siang tadi ia memintaku untuk membelikan makan siang.
Dan yang lebih menyakitkan lagi ia memintaku untuk membelikannya pecel lele yang ada di dekat daerah Mall. Jarak dari kantor ke mall itu kira-kira dua km, dan aku harus membelikannya untuk mas ganteng.
"Kenapa gak suruh OB aja si Mas? Ntar mereka makan gaji buta." sangkalku ketika ia menyuruh. Biarkan saja aku memanggilnya dengan sebutan yang kemarin-kemarin. Aku pacarnya kan?
"Kamu gak kasian sama pacar kamu? Saya maunya kamu yang beliin saya makan." jawabnya enteng.
Ya Allah, ampunilah dosa hambamu ini. Mana tadi angkot penuh, panas, macet juga. Apa gini resiko punya pacar bos? Ganteng lagi?
"Kalau kamu jalan sambil melamun gitu, saya pastiin jidak kamu udah memar-memar sampai rumah." jawabnya tiba-tiba berhenti.
Duk...
Ia berhenti tiba-tiba di depanku dan membalikkan tubuhnya yang otomatis aku menabrak dada bidangnya yang empuk. Empuk eh?
"Aduh-- sakit tau! Kalau berenti itu bilang-bilang kek." jawabku mengusap dahi dan refleks menjatuhkan jas dan tas kerjanya. Bilang aja kamu keenakan nabrak dada mas ganteng.
Farrel memberikan tatapan tajamnya. Dan melirik ke jas dan tasnya yang sudah berada di bawah lantai.
"Ambil! Itu mahal." katanya ketus lalu berjalan meninggalkanku. Sumpah aku cium ntar mulut ketusnya itu!
"Serius ya! Kalau kamu gak ganteng aja udah aku tonjok kamu! Kalau perlu aku tendang sekalian juniornya! KEZELL!!" ucapku ketika ia mulai menjauh. Huh, untuk nggak dengar.
Aku kembali berjalan mengikutinya dari belakang sambil sedikit berlari. Cepet sekali jalannya. Apa langkah kakiku yang kependekan? Kemudian ia berjalan ke arah mobilnya. Lihatlah tampangku, bibir menekuk, rambut aut-autan. Tidak punya hati sekali kamu mas hiks..
Aku membuka pintu belakang dan memasukkan jas dan tasnya. Kemudian kearah depan tempat Farrel yang duduk di kursi kemudi.
"Sudah aku taruh disitu. Aku pulang dulu ya." jawabku tersenyum padanya. Fake smile huh?
Aku berjalan kearah lobby kembali dan mulai menjauh dari mobilnya. Dan ia tidak membalas ketika aku berpamitan padanya. Ketika aku ingin menelpon Pak Udin tiba-tiba ada mobil yang berhenti di depanku.
"Perempuan gak baik malem-malem sendirian."
Aku mendongak dan betapa mengejutkannya ia ada depanku sambil tersenyum.

KAMU SEDANG MEMBACA
Cause Changing Someone
Teen Fiction"If nothing ever changed, there'd be no butterflies" -unknown Farrel yang memilki watak keras, dingin dan mempunyai wajah yang membuat para wanita terpesona ternyata mempunyai sisi lain di dalam dirinya. Carmitha, cewek cantik yang mempunyai tiga ka...