NINE [ Basic One ]

116 11 0
                                    


Tak ada yang tahu dengan jelas apa yang bersemayam dalam pemikiran Emmanuel Juan ketika kembali menjalani kegiatan kampusnya secara normal. Bahkan yang tak pernah diduga siapapun adalah ketika dia akhirnya menempati salah satu bangku paling belakang dikelas Paris saat ini. Pemandangan itu mencenangkan semua orang, tidak terkecuali Daniella.

Selama Paris menjelaskan sesuatu, tentu semua perhatian terfokus ke arahnya. Sayangnya entah mengapa itu tidak menarik perhatian Daniella sedikitpun. Diam-diam ekor matanya selalu saja mendustainya dengan melirik ke belakang. Dia penasaran apa yang tengah dilakukan Emmanuel. Hampir pertengahan semester berlalu, baru kali inilah Emmanuel tampak.

Tatapan Daniella itu sepenuhnya diacuhkan Emmanuel yang pura-pura tidak menyadarinya. Pandangannya terus mengikut Paris. Dan dia hampir saja tertawa karena sadar roman Paris secara tidak langsung berubah. Buktinya lelaki itu tidak menghabiskan waktu mengajarnya secara full dan tiba-tiba mengumumkan tugas.

Emmanuel tersenyum lebar. Rencananya awalnya berhasil.

Dia penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia memang tak begitu serius ketika meminta Daniella menjadi pacarnya. Tetapi ide aneh itu mendadak tercetus dalam benaknya, menimbang bagaimana cara Daniella menghindarinya tetapi tidak melakukan hal yang sama pada Paris. Padahal dia pikir, Paris pasti dengan mudah telah menemukannya karena cewek seperti Daniella pasti tidak sulit untuk diintimidasi. Apalagi untuk ukuran orang seperti Paris Juan. Rupanya, dia keliru. Gadis itu seperti belum menentukan pilihan. Emmanuel merasa akhirnya memiliki kesempatan emas. Dia ingin tahu, apakah tindakan Paris selanjutnya, dengan rencana brilian dikepalanya.


*


Satu per satu mahasiswa meninggalkan ruangan kelas. Daniella memang menjadi yang terakhir. Tetapi dia seakan lupa kalau masih ada Paris dibagian depan kelas. Emmanuel dibagian belakangnya. Entah mengapa tubuh Daniella menjadi sulit bergerak ditempatnya.

Bodohnya karena dia tidak mengikuti saja langkah teman-temannya tadi. Sikap lambatnya akhirnya membawa masalah sekarang. Dia melirik sekilas ke depan. Paris masih dengan santainya merapikan buku-buku tetapi gerakannya terkesan lambat seakan menanti. Dia enggan berbalik ke belakang, karena tahu Emmanuel pasti tengah stay ditempatnya dan belum ada tanda-tanda meninggalkan kelas.

Daniella merasa tidak pantas membiarkan dua orang itu sendiri dalam kelas. Tidak ada yang menjamin mereka tidak akan bertengkar lagi. Tetapi disisi lain dia juga tidak bisa terus-terusan disana. Bisa-bisa dia kembali terlibat.

"Sial."

"Lo kenapa?!"

Daniella tersentak. Emmanuel sudah berdiri disebelah kursinya. "Nggak apa-apa."

"Lo belum lupa penawaran gue kan?!"

Daniella melirik cepat ke depan kelas. Paris sudah menghilang. Aneh. Dia pikir Paris masih menantinya. Biasanya dia kan akan menagih tugas baru untuk dikerjakan. Walau kadang itu tidak diperlukan juga.

"Lo penasaran amat ama dia?!" tanya Emmanuel ikut menatap ke arah yang sama.

"Maksud lo,"

Emmanuel hanya tersenyum, kedua tangannya diselipkan ke dalam saku celananya. "Lihat aja, lo bakalan jadi cewek gue sebelum dia bisa melakukan itu."

Daniella terpaku sebelum menggeleng. Omongan cowok disebelahnya ini makin hari semakin tak jelasnya. Dia merasa tidak punya alasan lain untuk tetap berada disana. Ketika dia berdiri dan melangkah, Emmanuel juga melakukannya. Bedanya cowok itu tidak berjalan mendahului Daniella. Dia hanya mengikut dari belakang sambil tersenyum lebar.

Better EnemyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang