Fio.
Sudah 2 bulan nara di amerika. Steffi juga udah bisa mulai tersenyum. Hubungan mereka juga baik baik aja. Gue seneng dengernya. Tapi.. Akhir akhir ini steffi sering banget gue liat ngobrol sama ray. Mereka kayaknya akrab banget. Ya, gue sih gamau narik kesimpulan sendiri yaa. Dan nara juga akhir akhir ini kalau nelpon steffi pasti lewat gue.. Gue juga gatau kenapa. Gue juga gak pernah permasalahin sih.. Sampe pada hari ini. Steffi susah banget dihubungin. Gue juga bingung steffi sekarang jadi jarang cerita ke gue dia lebih milih diam dan tersenyum. Gue sedikit khawatir dengan keadaan steffi, pasti ada yang disembunyikan steffi. Hubungan gue sama steffi juga gak seperti dulu lagi, makan bareng, belajar bareng dan lain lain. Sekarang gue sama steffi seperti teman biasa, yang hanya bertukar senyum saat bertemu. Apa steffi menghindar dari gue? Bunyi hp gue membuyarkan lamunan gue. Steffi. Tumben banget dia telepon. Gue langsung menyambar hp gue dan mengangkatnya. "Halo.." Suara steffi terdengar serak. Ada apa? Apa yang terjadi? "Steff?? Lo kenapa?" Gue mencoba menyelidiki. "Gue mau ngomong. Kerumah gue ya fi.." Tiba tiba telepon dimatikan. Ada apa? Gue langsung menyambar kunci mobil dan melaju menuju rumah steffi.
Rumah steffi terlihat sepi tidak ada orang. Gue memencet bel tua yang suaranya sudah serak. Steffi keluar rumah. Wajahnya terlihat gusar. Matanya bengkak, sepertinya habis menangis. Senyum manis yang biasa gue lihat sudah hilang. Apa yang terjadi dengan steffi? "Steff lo baik baik aja kan?" Gue menatap steffi. "Gue baik baik aja kok fi.. Gue mau cerita" steffi menarik lengan gue masuk ke rumahnya. "Bentar gue ambil minum dulu" steffi masuk kedalam. Gue iseng membaca baca majalah yang ada di ruang tamunya. Gue jadi inget.. Dulu waktu kecil gue sama steffi sering banget bikin kapal terus dimasukin di botol aqua. Terus dihanyutin di kali di depan rumah gue. Indah banget kalo ngenang masa masa itu. Masa dimana steffi hanya milik gue, maksudnya waktu steffi hanya ada buat gue. Gak kayak sekarang kalo sekarang steffi udah sibuk sama nara. Sejujurnya gue cemburu.. Karena waktu yang gue punya untuk bersama steffi jadi berkurang. Tapi selama steffi bahagia gue ikut bahagia. Tiba tiba bunyi hp gue membuyarkan lamunan gue. Nara. Yap pas banget disaat gue dirumah steffi dia nelpon. Pasti mau ngomong sama steffi. "Halo" kata gue. "Hei fi apa kabar? Steffi sama lo?" Suara nara terdengar senang. "Iya.." Dengan malas gue berjalan ke arah dapur steffi. "Steff nara" kata gue sambil memberikan hp gue ke steffi. "Bilangin gaada" kata steffi berbisik. Ada apa? Kenapa steffi enggan berbicara dengan nara? "Eh nar steffinya lagi dikamar mandi nanti lagi yaa byee" kata gue langsung mematikan telepon. Gue yakin nara bakalan bingung disana. "Lo kenapa sih menghindar dari nara?" Tanya gue. "Jadi itu sebenernya gue cape sama nara.." Kata steffi lirih. "Cape kenapa? Nara nyakitin lo?" Tanya gue panik. Gue gamau steffi disakitin. "Enggak kok fi.. Nih minum dulu" kata steffi sambil memberikan segelas sirup dingin. Gue menyeruput sirup itu. Kemanisan. Steffi memang tidak pandai memasak. Bahkan memasak mie saja steffi tidak bisa. Tapi gue gak pernah membahas tentang itu. Karena gue tau steffi paling tidak suka membicarakan tentang kelemahannya. "Duduk dulu yuk" ajak steffi. Gue mengikuti steffi dari belakang. "Sekarang lo cerita kenapa lo cape sama nara?" Tanya gue. "Gue.. Cape fi pacaran kayak gini.. Gak ada kabar. Ngilang ngilangan.. Emang dikira gue gak khawatir? Palingan juga sms doang" steffi berapi api. Gue tau steffi lagi sedih. Gue nyesel kenapa gue gak menyadari ini dari awal. Setidaknya gue bisa menghibur dia sebelum seperti sekarang. "Steff.. Terus lo maunya gimana?" Gue menatap steffi dalam dalam. Mata steffi berkaca kaca. Gue bisa merasakan apa yang sekarang steffi rasakan. "Gatau fi" steffi tertunduk. Sepertinya air matanya mulai turun.
Steffi.
Menangis. Itu hal yang paling aku benci. Tapi kenapa aku malah menangis didepan fio? Enggak aku gak boleh cengeng. Aku gak mau membuat fio panik dan khawatir dengan keadaan aku. "Steff.. Gue ngerti kok" fio memelukku. Setidaknya hatiku menjadi lebih tenang. Aku bisa mendengar detak jantung fio. Aku bisa mencium bau khas fio yang unik. Bau buah buahan. Selera fio memang beda dari yang lain. "Fio.. Makasih yaa.. Gue sayang sama lo" aku memeluk fio erat banget. Seperti tidak ingin kulepaskan. Fio mengusap usap rambutku. "Steff.. Maaf nih gue boleh tanya?" Fio tersenyum. "Boleh" kataku mantap. "Lo udah deket sama ray sejak kapan?" Deg. Jantungku seakan berhenti. Aku kaget minta ampun. Sebenarnya aku tidak memiliki perasaan apapun terhadap ray. Tapi entah mengapa setiap aku berdekatan dengan dia aku merasa nyaman. "Mm? Kapan yaa.. Belom lama kok fi" aku mengetuk ketukan jariku dimeja. "Ohh yaa gapapa.. Lo gasuka kan sama dia?" Fio menyelidik. "Engg.. Engga kok fi.. Tapi gue ngerasa nyaman aja setiap deket dia" aku tertunduk. Aku tahu aku salah.. Ini sama saja aku menduakan nara. Tapi perasaan tidak bisa dipaksa. Aku merasa nyaman bersama ray. Dan perlahan posisi nara bisa terganti dengan ray.. Walaupun sebenarnya aku tidak ingin. Tapi hatiku selalu berkata begitu. "Ohh.. Gue cuman takut lo..." Fio tidak menyelesaikan kata katanya. Tapi aku tau apa yang ia maksud. "Iya enggak mungkin fi gue sayang nara.. Nara cinta sejati gue" kataku sedikit berbohong.
Ray
Gue menjatuhkan badan gue ke tempat tidur. Pelajaran hari ini membuat gue sedikit penat. Gue menekan nomor steffi. "Ray?" Steffi mengangkat telepon gue. "Iya steff jalan yuk penat nih tadi di kampus ribet" kata gue. "Ehhiya ray ayuk.. Kemana?" Steffi sepertinya senang dengan ajakan gue. "Makan siang aja bareng mau gak?" Ajak gue. Gue emang paling ga jago kalo disuruh nyari tempat buat nge date. Emm.. Ini gue ngedate sama steffi apa cuman makan bareng? "Ayuk. Gue masih dikampus nih lo jemput yaa" kata steffi. "Iyaa tunggu yaa steff" gue mematikan telepon. Sejujurnya gue mulai tertarik dengan steffi. Steffi berbeda dari yang lain. Dia ramah,baik, pintar, cantik lagi. Banyak yang bilang sih kalo steffi itu punya pacar di amerika. Tapi steffi gak pernah cerita sama gue tentang itu. Yang gue tau dia punya satu sahabat yang baik banget tapi kalo sama gue dingin. Fio. Gue juga gatau kenapa fio selalu dingin kalo ketemu gue. Mungkin cemburu kali yaa? Hahaha.
Gue memarkir mobil gue di parkiran. Mata gue mulai mencari sosok steffi. Steffi tidak terlalu tinggi jadi sedikit susah untuk menemukan dia. "Hai" seseorang menepuk pundak gue. Steffi. "Hai steff yuk" ajak gue. "Gue ikut ya" kata fio dibelakang steffi. Tuhkan ini anak mengganggu banget. "Masa ikut? Gue cuman ajak steffi" kata gue dingin. "Iyanih fi kapankapan aja kita jalan berdua okeee??" Steffi mengiyakan. Gue seneng steffi membela gue. "Oke noprob" kata fio sambil ngeloyor pergi. Steffi sepertinya tidak enak sama fio tapi bodo deh bukan urusan gue.
Fio.
Gue ganyangka steffi lebih milih ray daripada gue. Gue bukannya cemburu, gue cuman takut kehilangan steffi. Gue takut steffi dimainin sama ray. Ray terkenal playboy. Gue emang gak tau pasti gimana sifatnya ray. Lagian steffi juga sudah ada nara yang setia sama dia. Gue takut mereka putus.. Karena gue yakin nara yang terbaik buat steffi.

KAMU SEDANG MEMBACA
Distance
Teen FictionKetika cinta mulai bosan. Ketika cintaku mulai memudar. Dan ketika "selamanya" sudah tak berlaku lagi.