Hati Ini Tak Pernah Berubah

132 0 0
                                    

Hari-hari kulalui tanpa hadir Arya disisiku, aku mencoba untuk bisa merelakan semua ini walaupun sebenarnya amatlah berat untukku. Sudah 2 tahun aku tak pernah melihatnya lagi, entah bagaimana kabarnya saat ini dan apakah dia masih ingat dengan aku?.

Air mata ini tiba-tiba jatuh membasahi baju seragam Putih Abuku. Aku sekarang sudah menjadi anak SMA bukan lagi anak SMP, tapi rasanya aku ingin kembali lagi menjadi anak SMP agar aku bisa bersama-sama terus dengan Arya.

Didepan gerbang aku menunggu jemputan Ayahku. Tak lama Ayahku datang.

Tiit Tiitt...

Bunyi klakson mobil Ayahku tepat didepanku.

"Bunga.. ayo naik" ujar ayahku sambil memberikan senyuman untuku.

Aku pun membalas senyuman Ayahku.

"Ayah kenapa lama datangnya? Aku sudah dari tadi nungguinnya".

"Iya maaf tadi ayah ada urusan sebentar di Kantor".

Ponselku tiba-tiba berbunyi, tanda ada pesan masuk "kring" dengan penasaran aku membuka pesannya. Aku tidak tahu siapa yang mengirim pesan padaku karena nomer telponnya tidak pernah menghubungiku sebelumnya.

"Hi.. kamu Bunga kan yang anak kelas 11 IPA satu? Maaf sebelumnya jika SMS ku mengganggu waktumu."

Pesan singkat yang aneh. Aku pun membalas pesan singkat tersebut dan menanyakan sebenarnya siapa yang mengirim pesan ini.

"Iya kamu benar. Maaf ini dengan siapa dan dari mana kamu tahu nomer telponku?"

Ketika berkali-kali aku tanyakan namanya dia tetap saja tidak mau mengaku siapa dirinya. Itu benar-benar membuatku semakin penasaran dan entah kenapa aku berfikir bahwa pesan ini dari Arya. hmm tapi memang bukan, akhirnya dia mau mengaku siapa namanya dan ternyata dia adalah kak Rendi anak kelas 12 IPA dua. Ya ampun aku benar-benar kaget karena aku sempat membalasnya dengan kata-kata yang kurang sopan. Aku memang tidak mengenalnya tetapi hanya saja aku tahu karena sering bertemu di Lab Sains. Untungnya dia tidak marah karena aku langsung meminta maaf.

Sekarang hampir setiap hari aku SMS-an sama kak Rendi samapai aku hampir lupa sama pekerjaan sekolah dan sempat aku mengalami beberapa kali remedial ulangan harian karena aku nggak ada waktu buat belajar. Untungnya aku langsung bilang sama kak Rendi kalo sebaiknya kita nggak terlalu sering berkomunikasi karena kan kita juga punya kewajiban untuk belajar dirumah.

Hari ini kak Rendi menyuruhku menunggunya di halaman sekolah. Aku sih nggak tahu kenapa tiba-tiba kak Rendi menyuruhku untuk menemuinya. Sudah 15 menit aku menunggu tiba-tiba kak Rendi datang.

"Hey Bunga" ucap kak Rendi.

"Maaf ya kalo lama menunggu. Tadi kakak habis nyelesain tugas dulu bareng anak-anak" sambil tersenyum dan menghampiriku kemudian duduk.

"Iya nggak apa-apa kok kak. Aku juga baru aja duduk eh kakak udah datang". Terpaksa aku berbohong, sebenernya kan aku udah nungguin 15 menit yang lalu.

"Oh.. ya bagus kalo kayak gitu. Kamu nggak ada janji kan sama temen-temen kamu sekarang?" Tanya kak Rendi meyakinkan.

"Enggak lah kak kan tadi aku udah bilang. Emangnya ada apa sih kak? Kok tumben-tumbenan suruh aku ke sini?" tanyaku dengan penuh penasaran.

"Eeum.. kakak sebenarnya ada sesuatu yang pengen kakak omongin dari dulu sama Bunga. Bunga nyadar nggak dari dulu kakak suka liatin dan merhatiin Bunga di Lab Sains?"

"Liatin gimana sih kak? Bunga nggak ngerti deh?"

Tiba-tiba kak Rendi memegang tanganku.

"Bunga.. kakak suka sama Bunga dari pas waktu kakak lihat Bunga yang pertama kalinya. Kakak cuma mau bilang bisa nggak Bunga terima cinta kakak?"

Kata-kata kak Rendi benar-benar membuatku kaget dan tidak menyangka. Aku bingung apa yang harus aku katakna sama kak Rendi. Di sisi lain aku masih sayang sama Arya.

"Maaf kak. Aku nggak tahu apa yang harus aku katakana ke kakak. Boleh nggak kakak kasih Bunga waktu untuk bisa menjawab?" ujarku sambil melepaskan tangan kak Rendi.

Setelah dua hari, aku akhirnya memutuskan untuk memberikan jawaban kepada kak Rendi. Setelah aku pikirkan matang-matang, aku harus menuruti apa kata hatiku. Karena hati tidak pernah salah. Aku menemui kak Rendi di tempat kemarin kami bertemu.

"Kak Rendi, Bunga udah punya jawaban untuk kakak. Semoga kakak bisa terima apap pun dari jawaban Bunga".

"Iyah Bunga.. kakak akan terima apa pun jawaban dari Bunga. Nah sekarang beritahu kakak jawabannya".

"Bunga minta maaf nggak bisa nerima cinta kakak. Karena di hati Bunga udah ada seseorang yang mengisi hati Bunga."

"Apa Bunga udah punya pacar sampai-sampai Bunga menolak Kakak?"

"Bunga nggak pernah punya pacar kak. Tapi Bunga udah mencintai seseorang yang nggak bisa Bunga lupakan sampai sekarang dan Bunga akan terus menunggunya sampai kapan pun. Bunga Cuma mencintainya." Tak terasa aku meneteskan air mata.

"Memang kalo boleh tahu orang yang Bunga cintai itu siapa?" Tanya kak Rendi dengan nada yang lirih.

"Dia adalah temen pertama Bunga dulu, tapi sekarang Dia tidak disini lagi."

"Mmm ya udah kalo Bunga tidak bisa terima kakak. Kakak ngerti kok perasaan Bunga. Tapi tolong ijinkan kakak untuk selalu mencintai Bunga".

Waktu terus berlalu dan kak Rendi yang selalu setia menemani hari-hariku. Kita nggak pernah pacaran, walaupun hanya menjadi sebatas kakak dan adik mungkin itu lebih baik. Karena hatiku masih belum bisa menerima kak Rendi. Hatiku masih tetap sama untuk selalu mencintai Arya.

Cinta Mati "Ingin Ku Katakan"Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang