Di Saat Aku Kan Pergi

129 0 0
                                    

Lima tahun telah berlalu, kini aku sudah menjadi anak dewasa, bukan lagi menjadi seorang gadis remaja yang sering menangis dikala sedang mengingat-ngingat kenangan 7 tahun lalu dengan teman terindahku. Sekarang aku sudah terbiasa dengan semua ini. Aku juga tidak pernah merasa kesepian karena ada sahabat yang selalu menemaniku dirumah, dia adalah hadiah yang dulu Arya berikan kepadaku, seekor Ikan yang selalu aku taruh dalam akuarium. Dulu ikan itu masih sangat kecil, kini sudah menjadi ikan yang tua.

Sekarang aku disibukan dengan kuliahku, minggu depan aku akan melakukan wisuda sebagai lulusan Sarjana Sains. Setelah aku melakukan wisuda aku akan berangkat ke Sanfransisko untuk menerima tawaran pekerjaan disebuah perusaan Sanfransisiko yang juga memiliki cabang di Jakarta.

Satu hari sebelum wisuda, aku harus pergi ke Kampus buat ngurusin surat-surat untuk bekerja di Sanfransisko. Aku menunggu Pak Harno dosenku untuk membuatkan aku surat-surat sekaligus menyiapkan segala persyaratanku untuk pemberangkatan besok. Saat aku sedang duduk didepan ruangan dosen, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang menanyakan kepadaku ruangan untuk fakultas Hukum.

"Permisi mbak."

Menepuk punggungku dari belakang.

Sontak aku menoreh kepada laki-laki itu. Saat aku melihat wajahnya dia mirip seseorang yang taka sing lagi didalam pikiranku. Aku pun tertegun dan terdiam beberapa saat sambil memngingat-ngingat.

"Aada apa yah ?" jawabku dengan sedikit bingung.

Tiba-tiba laki-laki itu mendekatiku dan menanyakan siapa namaku.

"Kamuu.. siapa namanya?" tiba-tiba saja dia menyebutkan namaku. "Kamuu Bunga kan?"

Dengan sontak aku menjawab "Iya namaku Bunga. Dari mana kamu tahu namaku?"

"Kamu benar-benar tidak memngingat aku Bung?". Ujarnya sambil duduk disebelahku.

Aku coba untuk menebak-nebak siapa laki-laki tersebut.

"Kamuu.. Arya?" jawabku dengan tak yakin.

"Bagus lah kamu masih ingat padaku." Sambil tersenyum.

Aku tertegun dan terus melihatnya dan tak percaya aku bisa bertemu dengannya lagi di Kampus.

"Bunga kenapa bengong?" Tanya Arya.

"A aaku engga apa-apa. Tapi kamu benar kan kalo kamu itu Arya?"

"Iya Bungaa.. masa aku bohong?" jawabnya untuk meyakinkanku.

"Kamu selama ini kemana aja Arya? kenapa kamu baru muncul? Sudah berapa tahun kamu menghilang dan tak pernah ada kabar? Kenapa kamu nggak pernah mau kesini lagi? Kenapa kamu pergi selama ini? Kenapa kamu enggak mau ngejenguk aku di Jakarta? Sudah berapa lama Aryaaa kamu tahu kan?"

Aku memukul tangan Arya sambil menangis dan dia hanya terdiam dan melihatku dengan mata yang berkaca-kaca.

Tiba-tiba dia memeluku dan meminta maaf kepadaku. Kenapa dia datang lagi dalam hidupku disaat aku akan pergi ke luar negeri. Dia baru mendaftar di kmapus yang sama denganku di saat aku sudah menyelesaikan semesterku. Oh Tuhan ini sungguh tidak adil bagiku.

Waktuku di Indonesia hanya tinggal 2 hari lagi. Setelah urusanku selesai dengan pak Harno aku pulang dari kampus dan Arya mengajaku untuk pulang bersama. Dia mengajaku ke tempat yang dulu kita sering bermain bersama. Di tempat ini sudah banyak yang berubah dan gubuk kecil tempat aku melukis pun sudah tidak ada karena sudah di bangun arena bermain untuk anak-anak. Mengingat kembali masa dahulu kala kita sering bermain bersama di tempat ini, menghabiskan waktu bersama-sama.

Disaat aku akan pergi Arya kembali, nampaknya Tuhan masih memberikan kesempatan kepadaku untuk bisa melihatnya lagi walaupun hanya beberapa hitungan waktu saja. Aku masih belum siap untuk mengungkapkan apa isi hatiku kepada Arya, mungkin nanti disaat aku sudah kembali ke Indonesia. Cinta itu butuh waktu dan kesabaran untuk memperjuangkannya.

Hari ini aku akan berangkat menuju bandara setelah melakukan pemeriksaan rutin ke dokter karena penyakit paru-paruku yang tak kunjung sembuh. Aku selalu berharap ketika aku berobat di luar negeri penyakitku bisa tersembuhkan. Tahukah apa yang sedang aku rasakan saat ini? Bahkan dihari aku akan pergi Arya tidak ada karena ada urusan penting yang tidak bisa ditinggalkan. Dia hanya mengirim pesan ke ponselku malam tadi yang isinya:

"Bunga hati-hati ya dijalan, semoga selamat sampai tujuan. Maaf besok aku tidak bisa mengantarmu karena aku ada urusan penting yang tidak bisa aku tinggalkan. Aku akan selalu mendoakanmu semoga kamu sukses disana ."

Cuma kata-kata itu yang ia ucapkan. Ketika aku sampai di pintu gerbang pesawat, aku menengok kebelakang betapa sakit hati ini bak tertusuk oleh beribu-ribu jarum yang tajam. Bahkan air mataku menetes dengan deras. Ada seorang pramugari menanyakan kepadaku kenapa aku menangis. Aku menjawab dengan kata "aku tidak apa-apa."

Inilah jalan baru yang harus aku lewati, karena hidup ini bukan hanya untuk cinta tapi mengejar mimpi pun harus aku perjuangkan. Hidup di negeri orang mungkin akan membuatku mengerti akan kerasnya hidup yang ku lalui. Aku juga selalu ingat dengan nasehat mamah "Kejarlah cita-cita terlebih dahulu daripada cinta, karena setelah cita-cita kau dapat cinta juga akan menyusul".

Kata-kata itu yang membuatku selalu belajar dan belajar agar aku tidak akan salah melangkah tujuan hidupku. Jika suatu saat Arya bukan orang yang telah Tuhan pilihkan menjadi teman hidupku, aku yakin rasa cinta ini akan hilang seiring berjalannya waktu. Belajar dari sosok R.A Fatimah yang senasib denganku.

Saat aku pulang nanti semoga pintu harapan masih terbuka untuku. Selamat tinggal negeriku, keluargaku dan laki-laki yang sangat aku cintai dalam diam. Aku akan menumpuk segudang kerinduan dan disaat aku pulang akan aku bagikan kepadankalian semua.


Bersambung ke cerita selanjutnya. Kayaknya bakalan agak lama. Jadi tunggu aja yah :* kiss kiss big hug :D

Cinta Mati "Ingin Ku Katakan"Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang