Lita pov
Matilah aku. Anak baru akan ikut presentasi di rapat direksi. Dari segi pakaian, rasanya aku memang pantas menjadi ob di antara mereka. Padahal aku merasa ini adalah baju semasa kuliahku yang terbaik.
Dari segi attitude, habislah aku dengan para staf direksi dan sekretarisnya itu. Oh Tuhan. Sidang skripsi pun aku tidak seminder ini. Bagaimana tidak, 4 dosen penguji itu sudah pasti kalah dengan puluhan pasang mata berpakaian rapi disini. Ruang sidang pun tak sebesar aula ini. Dan sidang skripsi hanya mempertaruhkan nilai, sedang rapat ini mempertaruhkan karirku.
Hukuman ini benar-benar...
***
Aditya pov
Haha, terang saja dia tampak berbeda dan mencuri perhatian. Hampir semua orang disini berjas sedang lainnya kemeja yang cukup cerah. Sedangkan dia bergamis yaaah walaupun berkancing. Tetap saja, apalagi hijab besarnya dan semua gelap berwarna biru donker seperti itu.
Cara berjalannya tampak sangat percaya diri walau aku tahu itu hanya dibuat-buat. Lihat saja ekspresinya dan tangannya yang tak berhenti mengusap-usap hidung, hampir tiap hari aku melihatnya. Bagaimana aku tidak hafal?
Secara presentasi, okelah. Slidenya jelas dan yang pasti... menarik. Banyak sekali animasi yang diberikan. Dasar anak fresh graduate.
Tapi itu semua sepertinya jadi keuntungan. Biasanya kalau hanya staf atau sekretaris yang presentasi, direksi akan ngobrol sendiri. Tapi sekarang mereka nampak tenang dan memperhatikan anak buahku itu.
"Mas Adit, dia anak buahmu?"
Tuh kan, anak marketing yang terkenal paling modist dan tukang ngobrol dan daritadi berisik tepat di belakangku ini aja tertarik.
"Iyalah, kenapa?"
"Melihat slidenya, kurasa dia lebih pantas jadi bagian marketing daripada di QC."
Aku hanya tertawa. Walau kamu sama manajer denganku, tapi kamu hanya pion Nak. Aku sedang menanti tanggapan para direktur di barisan depan, jadi diamlah. Aku hanya berikan senyum agar percakapan tak penting ini berhenti.
18 slide sukses disampaikannya dalam 6 menit. Jajaran direktur itu langsung bertepuk tangan dan mengangguk-angguk, ah pertanda baik. Tidak sia-sia aku hanya mengoreksi materinya dan membebaskannya berkreasi dengan slide, slidenya yang terlalu kekinian itu nyatanya malah menyunggingkan senyum para direksi sementara para notulen sibuk membuat catatan panjang.
"Kalau rapatnya selesai sebelum makan siang, kamu boleh pulang, ga perlu absen, ok?"
Dia, yang telah kembali duduk di sebelahku, mengangguk.
***
Lita pov
"Oiya, presentasi kamu tadi bagus."
Aku hanya tersenyum getir. Sesampai di kos aku tiduran menutupi mukaku dengan bantal.
Tuhan, kuatkanlah aku. Di usiaku yang sudah kepala dua ini, aku tak ingin berpindah-pindah kerja. Nyamankanlah aku disini. Aku sudah dewasa, aku harus menjadi orang yang mapan dan bukan lagi pengangguran. Aku ingin mengurangi beban orang tuaku, Duhai Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang.
Keesokan harinya, setelah makan siang, pak Aditya mengadakan rapat internal sebagai follow up rapat direksi kemarin. Tentu saja diantaranya mengenai angka insiden yang tinggi di bagian kami. Tak lupa ia memperingatkan senior-senior itu agar tidak sok senior.
"Lita, kemarin menunjukkan kemampuannya mempresentasikan masalah-masalah yang menyebabkan angka IR kita yang tinggi. Jadi, dia bukan cuma bisa nganter dokumen IR tetapi juga bisa menganalisa penyebab dan menawarkan solusi. Jadi, serahkan sendiri IR kalian jangan suruh orang maupun junior. Bukan masalah apa, tapi saya perlu menanyakan kejelasan kejadiannya itu aja. Ya tentu saja mungkin nada saya agak tinggi. Tapi Lita sekarang tidak perlu kuatir jadi ob, karena manager marketing siap menampung dia kalau appraisalnya disini jelek. Ya, dari presentasi kemarin, pak Dikta melihat bakatnya."
***
Aditya pov
Si gadis berkacamata tebal menunduk sambil mengusap-usap hidung. Ujung bibirnya sedikit terangkat. Teman-temannya melirik tajam penuh kebencian.

KAMU SEDANG MEMBACA
Mendadak Married!!
General FictionLita harus menikahi atasannya yang terkenal galak. Tak ada rasa cinta dari keduanya. Keadaan yang menyatukan mereka.