Maaf yaa agak lama kayanya bisanya update cuma tiap weekend deh, stay tune, leave vomment, and vote. Thanks!
Lita pov
Appraisalku harusnya baik-baik saja. Kinerjaku juga kurasa makin baik. Jumlah IR menurun drastis. Tapi entah kenapa, tetap saja aku dipindah ke divisi pemasaran.
Dulu waktu masih di bagian QC, kupikir bagian marketing itu enak, gajinya lebih gede (keliatan dari kostum kerja mereka yang ngejreng-ngejreng), jalan-jalan keluar kantor, jam kerja fleksibel, santai, ketawa-ketiwi di kantin enggak keburu sama mesin yang mulai hidup.
Ternyata oh ternyata, jam kerjanya iya bener-bener fleksibel. Bisa tiba-tiba harus sampai kantor jam 6 pagi, bisa mendadak pulang jam 11 malem. Jalan-jalan keluar kantor juga bener, lunch disana sambil meeting, ke kantor advertising sambil revisi, ke antah berantah sambil ngadain event. Belum kerjaan kerjaan yang harus dibawa pulang. Gimana gaji gak lebih gede? Dan gimana lagi cara nikmatinnya selain beli baju dan aksesorisnya? Piknik? Mana ada waktu...
Tiga bulan di divisi ini, berat badanku memang naik, tapi aku juga kena tipes sekaligus dbd. Tiga hari lalu aku demam tinggi, untung di kantor ada obat panas di dalam first aid box. Tapi saat bangun pagi tadi badanku demam lagi, bahkan perutku mual-mual seolah ada naga yang ingin keluar. Terseok-seok aku mengendarai motor ke rumah sakit terdekat dan berjalan sendiri ke ugd. Perawat disana agak bingung, pasien lemas ini datang sendirian bahkan naik motor. Melihat wajahku yang sudah pucat, jalan sempoyongan, dan muntah-muntah kembali, sebuah infus langsung ditancapkan di pergelangan tanganku dan darahku diambil sebanyak 1 syringe.
Andai kalian tahu rasanya sakit sendirian di kota orang tanpa keluarga, itu menyesakkan. Perawat menanyaiku demi mengisi lembar administrasi. Sakit-sakit begini, aku tahu diri dan masih bisa mikir (untung saja!) Aku membawa kartu identitas dan kartu jaminan kesehatanku. Pokoknya jadi pasien mandiri. Termasuk saat dokter memutuskan aku untuk dirawat inap, untung saja aku sudah bawa beberapa potong pakaian.
Menangis tersedu-sedu aku menelepon ibu di kampung halaman. teman sebangsal heran menatapku. Sebenarnya aku bisa saja menginap di kamar yang sendirian, tapi aku nanti kesepian :(
Ini hari kedua dimana infuset menancap erat di pergelangan tangan kiriku. Teman-teman marketing kantor membesuk saat jam makan siang. Mereka bawa keramaian di bangsalku yang sepi ini. Buah-buahan, kue dan bunga berjajar di meja. Sepulang kerja, aku tak menyangka rekan QC semua ikut hadir. Aku tak habis pikir, mereka yang sepertinya tak menyukaiku tetap datang. Ah dasar orang dewasa. Mereka juga menaruh beberapa buah tangan ke meja. Agak malam, ibu ayahku datang, alhamdulillah. Sekali lagi, sakit di kota orang tanpa keluarga itu buerat pembaca.
Senang sekali aku kembali berkumpul dengan orang-orang kesayanganku. Sayang, itu terganggu saat seorang pembesuk datang agak malam.
"Malam Lit."
"Eh malam, Pak."
Datang juga ni orang. Kalo nggak gara-gara dia membuangku ke marketing, aku ga bakalan tepar begini.
Dia menyalami dan ngobrol dengan orang tuaku. Kadang-kadang aku ditanyai tapi kebanyakan diam.
"Kamu diantar siapa kesini Lit?"
"Sendiri Pak."
"Sendiri? Naik motor?"
Aku hanya mengangguk. Dia beranjak dari kursi tunggu. Berdiri ke tepi kasur.
"Saya lihat kamu kelelahan di divisi yang sekarang, apa kamu mau kembali ke QC?"
"Enggak lah, saya juga sudah mulai adaptasi kok."
Dia mengangguk-angguk. "Kalau mau, kalau ini saya ga memaksa. Di kantor induk sedang mengadakan rekrutmen besar-besaran, saya bisa rekomendasikan kamu."
Huh! Dulu aja aku dibuang.
"Ini sebagai permintaan maaf saya juga, mungkin kamu menganggap saya membuang kamu. Tapi kamu mungkin juga tahu, kalo appraisal bukan hanya penilaian saya, tetapi juga teman satu bagian."
Aku mengangguk saja. Eh kok tahu sih aku mikir gitu. Jadi nggak enak, hehehe.
"Nggak usah dipikirin sekarang, ga buru-buru kok. Semoga lekas sehat ya. Saya pamit deh, udah malem."
Setelah bersalaman denganku, ayah dan ibuku, dia langsung pulang. Gantian ayah ibu.menginterogasi aku. Itu siapa? Kok datang sendirian? Kayanya baik? Aku pura-pura ngantuk aja, walaupun sebenarnya aku kepikiran soal rekomendasi ke kantor induk tadi. Mungkin gajiku akan naik disana, aku kembali ke passionku sebagai chemist dan yang penting jauh dari teman-teman yang tidak menyukaiku.
Seminggu istirahat di 'hotel' dan 3 hari istirahat di rumah, aku kembali ke rutinitas di divisi marketing. Teman-teman hari ini rajin mengingatkanku untuk banyak ngemil sehat dan saat jam istirahat aku langsung disuruh ke kantin. Tapi kan aku lagi jadi 'anak mama' sekarang , jadi aku sudah dibekali bento oleh ibuku. Tiap jam ibu sms mengingatkan untuk minum yang banyak, minum vitamin, jangan capek-capek, pulang tepat waktu. Dinikmatin aja mumpung ada yang perhatiin. Jomblo sih...
Seminggu kemudian, aku sudah tidak membawa bento. Badanku sudah sangat fit dan mulai kembali lembur. Sambil mendesain sebuah storyboard aku ngemil kentang goreng dan capucino di kantin. Tiba tiba sebuah gelas kopi mendarat di belakang laptop. Aku mendongak.
'Pain ni orang?' Iya, aku sudah terlalu sebal dengannya semenjak terbuang.
"Mulai kejar setoran lagi ni." Ucapnya santai sambil duduk di hadapanku.
Aku menyeringai.
"Tawaran saya waktu itu boleh mulai dipikirkan lo."
Aku terdiam.

KAMU SEDANG MEMBACA
Mendadak Married!!
General FictionLita harus menikahi atasannya yang terkenal galak. Tak ada rasa cinta dari keduanya. Keadaan yang menyatukan mereka.