Steffi.
Hp ku berdering. Fio. Sudah lebih dari 5 kali ia berusaha menelponku. Tapi aku terlalu sakit untuk mengangkatnya. Sebenarnya aku tidak terlalu marah kepadanya. Tapi aku kecewa. Ray sudah menceritakan semuanya. Kenapa masalahku tidak pernah kunjung selesai? Aku membenamkan kepalaku di bantal. Air mataku mulai mengalir. Tiba tiba hp ku bergetar. Tanda pesan masuk. Aku segera menyambar hp ku dan membuka pesannya.
'Steff, aku kangen.. Kita udah lama banget gak skypean. Smsan juga kamu jarang bales. Kamu kenapa sayang?'
Ternyata itu dari nara. Aku segera membalasnya.
'Iya nar maaf aku lagi banyak tugas. Mau skypean sekarang?"
Aku segera memencet tombol send. Dan pesan sudah terkirim. Aku langsung mengambil laptop dan menyalakannya. Aku baru teringat sesuatu.. Aku tidak mungkin skypean dengan nara dalam keadaan begini. Mataku bengkak. Aku segera berlari ke kamar mandi untuk mencuci mukaku. Setidaknya mataku tidak terlalu terlihat habis nangis.
Skype ku berbunyi. Tanda ada telepon masuk dari nara. Aku segera mengangkatnya.
"Steffiiii!!! Aku kangen parah tau gak sama kamuuu" kata nara. Wajahnya terlihat bahagia sekali.
"Iyaaa aku juga kangen sama kamu naraa" aku tersenyum.
"Kamu apa kabar sayang?" Nara sekarang mengenakan kaca mata. Memang seminggu yang lalu ia bilang kalau matanya suka buram. Rambutnya juga lebih rapih. Nara terlihat lebih dewasa. Aku ingin segera memeluk dia.
"Baik kamu sayang?" Aku berpura pura tidak terjadi apa apa.
"Aku juga baik. Fio apa kabar?" Nara menyebut nama fio. Membuatku mengingat masalah itu.
"Dia baik" jawabku datar.
"Ohaha aku kemaren periksa mata terus sekarang pake kaca mata dehh. Menurut kamu gimana? Masih ganteng kan?" Nara membenarkan kacamatanya yang sedikit turun.
"Masihlah sayaang. Kamu mau pake kacamata atau engga tetep ganteng" aku berkata jujur.
"Kamu bisa aja" nara tersenyum.
Sejujurnya aku ingin sekali bicara tentang perasaanku sekarang. Perasaanku yang mulai memudar. Perasaanku yang mulai pindah ke lain hati. Tapi aku tidak tega.. Aku tidak tega melihat nara terluka. Aku takut kehilangan nara. Aku tidak membayang jika harus hidup tanpa nara. Apalagi ray tidak pernah bilang kalau ia suka padaku. Aku tidak mau mengharap lebih dari ray. Aku harus belajar mencintai nara lagi seperti dulu. Aku pasti bisa.
"Steff" wajah nara sedikit pucat. Ada apa?
"Iyaa sayang?" Aku berusaha tersenyum.
"Kamu masih sayang aku?" Pertanyaan itu terdengar samar. Aku merasa seperti ditusuk oleh pertanyaan itu.
"Ma-masih sayang emang kenapa?" Aku berusaha tersenyum walau aku tahu nara pasti tahu bahwa senyum itu palsu.
"Enggak.. Aku takut kehilangan kamu" suara nara terdengar serak. Sepertinya ia rapuh dalam ketakutan. Sama seperti aku.
"Aku juga nar.. Gamau kehilangan kamu.. Kamu jangan pernah berubah yaa... Tetep mencintaiku kayak sekarang dan selamanya" aku gak sanggup membendung air mataku. Aku menangis.
"Aduhaduh sayang... Jangan nangis dong.. Aku gak akan ninggalin kamu kok. Promise" kata nara sambil tersenyum tulus. Aku tau senyuman itu selalu tulus. Gak pernah bohong.
"Iyaa aku juga sayang..." Aku tersenyum. Meskipun terlihat dipaksakan.
"Sayang.. Besok lagi yaa.. Aku mau ngerjain tugas dulu.. Numpuk"
"Iyaa sayang gapapa kok.. Semangat yaa kamu" aku tersenyum.
"Okee babayy my darling muah" kata nara sambil memonyongkan bibir tanda menciumku.
"Muah.. I love you" kataku sambil menutup telepon. Aku mematikan laptopku dan menyimpannya. Setidaknya hatiku sedikit lega..
***
Fio.
Gue berjalan menyusuri koridor kampus. Wajah gue pasti berantakan banget. Semalem gue gabisa tidur. Pikiran gue kacau. Di kepala gue sekarang cuma ada steffi,steffi dan steffi. Gue gabisa mikir yang lain. Shit.
"Fio" suara itu memberhentikan langkah gue. Gue nengok kebelakang. Steffi. Wajahnya muram. Matanya bengkak. Pasti habis nangis. "Steffi?" Gue mendekat. "Ada apa?" Ingin rasanya gue memeluk dia. "Gue minta maaf" wajah steffi menunduk. Gue bisa melihat kalau dia rapuh banget. Pasti ada yang ga beres. "Gue yang salah" kata gue. Tanpa diperintahkan gue langsung memeluk dia. Erat. Steffi tidak membalas pelukan gue. Gue mengusap rambutnya. "Duduk dulu yuk" ajak gue. Lebih baik gue bawa steffi ketempat yang tenang agar steffi bisa menenangkan dirinya.
"Lo kenapa steff?" Gue bertanya dengan hati hati. "Gue.. Gue mau putus sama nara" suara steffi terdengar pelan sekali. Tapi gue bisa mendengar dengan jelas apa yang steffi ucapkan. "Lo serius?? Kenapa?" Gue mengerutkan dahi. "Cape ldr" steffi membuang muka. Sepertinya air matanya sudah mulai turun. "Steff..." Gue memegang pipi steffi. Mata steffi merah. Gue mengelap air matanya yang mulai turun membasahi pipinya yang lembut itu. Gue menatap steffi dalam.. Gue terhanyut dalam suasana. Gue memeluk steffi lagi. Steffi sepertinya merasa gerah gue perlakukan seperti ini. "Fio.." Steffi melepaskan diri. "Aku sayang kamu.." Gue memeluk dia lagi.
***
Steffi.
Fio. Nama itu yang terus terngiang di pikiranku. Tadi siang dia menyatakan bahwa dia sayang aku. Tapi apa maksudnya? Kenapa perasaanku ke fio berubah? Aku sayang dia.. Sebagai sahabat. Fio juga begitu. Tapi kenapa pernyataannya tadi membuatku merasa beda? Aku tidak mungkin cinta dengan fio.... Dia sahabatku.. Sampai kapanpun sahabat tidak akan pernah menjadi cinta...
"Steffi?" Ray melambaikan tangannya didepan wajahku. "Eh ray? Kenapa?" Aku berusaha tersenyum. "Engga.. Kirain lo kesurupan" ray tertawa kecil. "Ray gue balik duluan yaa" aku bangun dari dudukku. "Eh cepet banget? Yaudah hati hati yaa" kata ray sambil mengedipkan mata. Ray memang selalu genit dengan semua wanita. Bahkan guru saja pernah ia kedipi. "Baay" kataku sambil berlari.
"Fio" kataku sedikit berteriak. "Fio!" Ulangku lagi. Dia menoleh sambil melambaikan tangan dan menunjukan giginya yang sedikit berantakan itu. "Hai" sapaku. Fio hanya tersenyum. Ada apa? Kenapa fio cuek denganku? "Lo kenapa? Nanti jalan yuk. Pengep nih otak gue" aku berusaha mencairkan suasana. "Boleh.. Gue jemput ya jam 4 jangan ngaret" kata fio. Tapi tatapannya tetap kearah depan. Sama sekali tidak menoleh kearahku. "Fioo?" Colekku. Dia menoleh. "Steff.. Aku mau bilang sesuatu" fio menatapku dalam. "Apaan sih? Penting banget yaaa?" Hatiku berdegup gak karuan. Wajah fio mendekat.. Semakin dekat.. Satu kecupan mendarat dikeningku. "Aku cinta kamu" kata fio tulus. Hah?! Semoga ini mimpi buruk. Dan sebentar lagi aku akan mendengar suara alarm ku. Tapi ternyata ini bukan mimpi.. Suara alarm ku belum juga terdengar. "Fioo? Lo bercanda kan? Galucu ah" aku berusaha menanggapinya dengan santai. Walau sebenarnya hatiku berdegup kencang. Fio mengusap usap rambutku. Lalu fio tersenyum dan berlari meninggalkanku. Aneh.

KAMU SEDANG MEMBACA
Distance
Teen FictionKetika cinta mulai bosan. Ketika cintaku mulai memudar. Dan ketika "selamanya" sudah tak berlaku lagi.