T.W.O

116 10 0
                                    

"Steph!" seru Jason saat aku hampir meninggalkan gerbang depan. Aku bisa melihatnya berlarian sambil tersenyum seperti orang gila. "Steph, aku ingin tukar nomor denganmu, kalau kau tidak keberatan. Aku masih baru disini, dan aku akan membutuhkan bantuanmu."

"Okay..." balasku. Kami bertukar nomor. Tiba-tiba, bunyi nyaring klakson mobil mengagetkanku. Jay terlihat terburu-buru.

"Jika ada pengumuman atau apapun yang aneh, tolong hubungi aku ya?" Jay lalu mengembalikan ponselku. Seseorang berjalan melewatiku –hampir saja aku terjatuh dibuatnya. Bau parfumnya~

Oh, no! Stephanie! Jangan!

"Dasar bego! Sudah kubilang kita harus cepat-cepat pergi sebelum ayah pulang, kan?!" seru orang tadi sambil menjewer telinga Jay.

Siapa ya, namanya?

"Iya, maaf! Aku masih bertukar nomor!" jerit Jay kesakitan.

"Sudah kubilang beberapa kali untuk menghindari gadis kampus, ha? Kau pikir dengan itu kau bisa lebih pintar dariku?"

Aha! Namanya Leo.

"Kami hanya teman sekelas.." ucapku kemudian. Leo jelas-jelas kaget melihatku ada disana. Seakan-akan beberapa detik yang lalu aku baru datang –padahal sudah lama aku disana.

"Oh, hai! Aku Leonardo Eduardo. Senang bertemu denganmu.." katanya sambil mengulurkan tangannya.

"Aku Stephanie. Senang bertemu denganmu..."

"Lain kali, jika Jay mengacau, laporkan saja padaku. Okay? Kadang dia susah diatur." Katanya. "Kami pulang dulu, ya? See ya tomorrow!"

Aku mengangguk. Sudah 2 kali aku berkenalan dengan lelaki tampan seharian ini. Dan aneh rasanya melihat Leo yang berwajah cuek dan menyeramkan tiba-tiba menyambutku hangat.

Aku kembali naik bus, berhenti di persimpangan jalan dan berjalan kaki untuk sampai kerumah.

Well...

Benar aku kaya...

Tapi orang tuaku menyita semua barang pribadiku termasuk mobil dan barang elektronik lainnya sejak sebulan yang lalu dan menyuruhku untuk mulai membaca buku. Mereka hanya menyisakan ponsel lamaku yang usang. Yah, mungkin bagimu ini aneh. Tapi kucoba menjalani semuanya sebisa mungkin tanpa mengeluh.

Kenapa?

Karena mereka tahu aku butuh itu.

Menyebalkan, memang. Hidup tanpa barang elektronik dan mobil untuk pergi kuliah. Tapi why not? Ketika semua orang sibuk dengan gadgetnya, aku malah mengikuti pelajaran matematika.

Please, Steph. Jangan pikirkan matematika..

Dan satu lagi...

Aron. Aku belum bisa mengalihkan pikiranku darinya sampai saat ini. Diantara tujuh Pangeran Eduardo, hanya Aron yang paling menonjol untukku.

James? No.

Charles? No.

Leo? No.

Travis? No.

Landon? No.

Jason? Jelas bukan tipeku.

Kubuka buku tebal dihadapanku. Kubolak-balik isinya, kubaca sekilas, dan akhirnya aku tertidur. Hmmm...

"Stephanie!!"

Ibu?!!

"Mom!" Seruku. "Can't you see? Aku tidur, Mom!!"

"Mulai besok, alat elektronikmu kembali. Dan kau juga bisa pergi ke sekolah dengan mobil putih kesayanganmu itu." Kata Mom sambil mengayunkan kunci mobilku di udara.

PRINCESS BUBBLEGUMTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang