Seperti biasa, aku dan anggota High Class yang lain berangkat bersama. Tapi kami menggunakan mercedes hitam milik Landon. Mr. Dennis yang menyetir. Oh iya, jika kalian belum tahu, Mr. Dennis adalah pengacara sekaligus supir pribadi keluarga Eduardo.
"Mr. Dennis, aku ingin semua masalah beres dalam 2 hari ini. Aku tidak mau ada skandal saat aku pergi ke Hamburg. Dan satu lagi, aku tidak mau jika harus pergi dengan business class. Pesan tiket first class. Aku tunggu sampai minggu depan," kata Leo panjang lebar.
Well,
Aku tidak tahu apa yang dikatakannya barusan. Yah, tentu saja. Otak bisnis kakek Eduardo pasti sudah menurun sampai ke tujuh pangeran ini.
"Steph, wanna join us?" tanya Landon.
"Kemana? Hamburg?"
Aku tahu ini pertanyaan bodoh. Tapi, biarlah.
"Iya! Aron akan ada disana. Kalau kau beruntung, kau bisa bertemu dengannya dan bicara langsung saat makan malam," jawab Landon. "Kau tahu kan, Hamburg is the best place ever..."
"Kapan kau berangkat?" tanyaku.
"Minggu depan," jawab Leo.
"Okay," jawabku.
Kami mengambil kelas matematika pagi ini. Dan kalian tahu? Mulai hari ini, High Class harus memakai sepatu putih saat pergi ke sekolah—hanya sebagai identitas.
Seperti biasa, pelajaran matematika terasa sangat cepat. Entah aku yang hilang fokus atau memang Landon yang sengaja mengalihkan fokusku. Ia berkali-kali mengoceh tentang jatah makan malamnya yang semakin hari semakin berkurang.
***
Sharon menghampiri meja kami dengan langkah terburu-buru. Ia lalu mengambil segelas minuman di depanku dan...
"Kau!"
Aku bisa mendengar teriakannya dan suara terkaget-kaget dari segala penjuru cafetaria. Mataku masih tertutup. Bau bubblegum tercium di seluruh tubuhku.
Damn!
"Kau suka Aron, ya?! Kuperingatkan kau! Jangan sekali-kali kau cari perhatian di depannya!" jerit Sharon. "Kau bukan levelnya! Kau itu hanya tikus tanah!"
WTF?! Tikus tanah? Well, kau lebih buruk.
"Bukan levelnya, kau bilang?" sela Landon.
"Kau sebut dia tikus tanah?" Leo menyahut. "Ingat ya, masalah kita belum selesai. Get up, guys! Ada café baru,"
Jay menggandeng tanganku. Ia menuntunku meninggalkan cafetaria yang penuh dengan bisikan orang-orang. Aku bisa merasakan hembusan nafas Sharon yang memburu.
Aku tidak tahu darimana Sharon mengetahui hal ini. Dan ini benar-benar memalukan.
Malam tiba. Aku baru saja mandi dan berhias. Mana yang lebih baik? Kaus pink atau putih? Mungkin putih lebih baik. Aku berbaring di ranjangku dan memeluk bantal.
Hmmm...
Kringggg~
Siapa ya? Landon? Bukan.
Nomor siapa ini?
"Halo?" ucapku. "Siapa?"
"Sorry, tadi Sharon –"
"Aron?!" jeritku.
Tidak!!! Ya tuhan! Ini Aron! Dan dia barusan bilang...
"Aku tahu kabar itu salah. Jadi aku hanya ingin konfirmasi denganmu. Aku minta maaf atas nama Sharon.."

KAMU SEDANG MEMBACA
PRINCESS BUBBLEGUM
Romance"Kau akan menjadi bubblegum favoritku. Eh, ralat. Kau akan menjadi 'princess bubblegum' favoritku selamanya, bubby..." Bubblegum. Yah, permen karet. Semua berawal dari segelas minuman rasa permen karet. Dan dari situlah mereka memangilku dengan sebu...