Ray-Sasha-Dipga [2]

26 1 0
                                    

Di sebuah kamar tengah duduk sendiri seorang anak laki-laki sambil menangis, tiba-tiba datang seorang anak perempuan dengan rambutnya yang di kuncir layaknya dua air mancur. Anak perempuan itu mendengar suara isakkan anak laki-laki yang tengah duduk membelakanginya, dia pun mendekatinya.

"Onald, kamu kenapa nangis?" tanya anak perempuan itu.

"Aku kangen sama ayah, aku mau ketemu ayah." rengek Onald, anak perempuan itu pun berjalan ke depan Onald sehingga akhirnya mereka berhadapan.

"Onald, kalo onald nangis nanti papa onald malah khawatir. Kan onald bisa telponan sama papa." kata Eca yang masih berumur 5 tahun.

"Tapi onald kangen main sama papa, dipeluk papa, tidur sama papa." rengek onald

"Kan masih ada papa eca, onald peluk aja papa eca. Papa eca, papanya onald juga." jelas Eca yang setelah itu memeluk Onald seraya menepuk-nepuk pundaknya, dan perlahan suara isakkan Onald mengecil.

"Hey kamu yang rambutnya panjang, jangan melamun." seru dosen Ray seraya melemparkan penghapus yang akhirnya mengenai kepala Ray.

"Aw!" ringis Ray, yang sudah sadar dari lamunannya.

"Kamu, jawab soal ini!" perintah dosen gendut itu pada Ray, Ray pun maju ke depan dan mengerjakan soal di papan tulis itu dengan lancar dan segera kembali duduk ke kursinya.

Kelas pun selesai dengan cepat sehingga Ray bisa sampai di Apartemen duluan. Sedangkan Sasha yang berada di gedung fakultas kedokteran kemungkinan besar akan pulang sore.

"Ray lu nanti malem dateng ke opening cafe gue ya, lumayan ngisi kekosongan malem minggu lu." kata Yudha seraya bercanda.

"Yeh, liat aja kalo nanti malem gue dateng ga sendiri lu harus gratisin makanan gue ya."

"Hahaha, ray ray gue tau lu pasti mau dateng bareng mama lu." canda Yudha lagi.

"Yah liat aja entar deh yud."kata Ray seraya menepuk pundak Yudha dan berjalan meninggalkannya.

"Ditunggu ya ray." seru Yudha.

~ ~ ~

Benar saja Sasha baru pulang sekitar jam 3-an, ia memilih untuk langsung pulang karena terlalu capek. Sampai di Apartemen Sasha mencium aroma sedap, Sasha pun berjalan menuju asal aroma tersebut. Ternyata aroma tersebut berasal dari masakkan yang sedang Ray buat.

"Lo bisa masak?" tanya Sasha yang berdiri di samping Ray sambil melihat masakkan yang tengah Ray buat.

"Yaiyalah gue kan cowo multitalent, emangnya elu ca." ejek Ray.

"Yeh, gue itu bukannya ga bisa masak, cuma gue kurang jago aja." kata Sasha yang masih memerhatikkan gerak tangan Ray.

"Mau ya lo?" tebak Ray yang melihat tatapan Sasha yang dari tadi tak lepas dari Ayam Rica-rica yang ia buat.

"Ga ah makasih, gue udah kenyang." tolak Sasha lalu berbalik ingin menuju kamarnya. Namun ketika baru saja ia berbalik tiba-tiba perutnya bersuara menandakan ia lapar. Ray yang mendengar suara itu langsung tertawa kecil.

Sasha membulatkan mata tak percaya, dalam hatinya "Kenapa ya nih perut, ga bisa diajak kerja sama banget. Kan jadi malu-maluin gue.". Ray segera mengambil piring dan menyendokkan dua sendok nasi dengan beberapa ayam rica-rica buatannya.

"Nih, gue tau lu laper, ga usah so jaim gitu." kata Ray seraya menyodorkan piring berisi nasi dan Ayam rica-rica buatannya itu.

"Emh, yaudah deh kalo lu maksa." kata Sasha seraya mengambil piring itu cepat dari tangan Ray, lalu duduk di sofa ruang tv seraya menyalakan tv. Ray yang melihat tingkah Sasha hanya menggeleng, ia pun menyusul dengan membawa sepiring ayam rica-rica nya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 11, 2016 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

We Just FriendTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang