Tetesan hujan yang jatuh dari ujung tenda menghambur ke atas trotoar, menghantam deretan paving block yang berjajar. Meninggalkan beberapa lekukan kecil disana. Entah sudah berapa tetesan yang menghantam tapi belum cukup untuk membuat lubang besar di atas kerasnya paving block tersebut.
Juni yang tampak duduk termangu di bawah tenda yang melindunginya dari hujan yang turun cukup lebat hanya berteman kan secangkir kopi yang sudah tak lagi panas, udara yang dinginlah penyebabnya. Sebatang rokok yang terapit di sela jemarinya sudah hampir habis, tapi Juni tampak tak peduli, asapnya mengepul, terbang ke udara lalu hilang terbawa angin. Pandangan Juni masih saja kosong menatap sebuah bangunan di hadapan.
Ia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya, kenapa ia bisa seperti ini? Kosong, hampa. Kesepian? Entah, Juni pun tak mengetahuinya. Yang ia yakini hanyalah perasaan pada gadis berkerudung pink yang dulu pernah datang ke lapaknya. Lova.
Sudah beberapa bulan di kalender yang berganti sejak pertemuan pertama itu, setiap harinya perasaan yang menyesakan dada semakin menjadi. Sebuah perasaan yang tak bisa disampaikan, perasaan yang membuat lidahnya kelu tak bisa berucap. Namun perasaan itulah yang membuat ia bertahan. Meski tak ada balasan, namun bagi Juni ketika Gadis bernama Lova itu tersenyum segalanya berubah. Sebuah senyuman saja sudah membuat Juni merasa cukup senang. Meski ia tahu mustahil untuk...
"Datang dari mimpi semalam
Bulan bundar bermandikan sejuta cahaya
Di langit yang merah, ranum seperti anggur
Wajahmu membuai mimpikuSang pujaan tak juga datang
Angin berhembus bercabang
Rinduku berbuah lara uh laraSang pujaan tak juga datang
Angin berhembus bercabang
Rinduku berbuah laraSang pujaan tak juga datang
Angin berhembus bercabang
Rinduku berbuah lara uh lara
Uh lara uh lara uuh berbuah lara uh lara"===============
Chapter 1.
PLUVIOPHILE- Fragmen 1 -
Angin pujaan hujan.6 bulan yang lalu.
Jalanan di depan lapak Juni mulai dipadati oleh kendaraan bermotor, entah apa yang sebenarnya terjadi tapi antrian sudah mulai panjang, jalanan yang biasanya lengang berubah macet.
Juni berfikir mungkin ada si komo yang lewat di depan sana, sama seperti lagu yang selalu ia ingat saat kecil dulu. Kemacetan ini membuat semangat dagang Juni berapi-api, dengan semangat ia berteriak mempromosikan barang dagangannya."Mas! Mbak! Mari-mari silahkan mampir dulu daripada nunggu komo lewat! Mari!! Banyak dvd bagus! Cuma enam rebuan ajaa!" teriak nya dengan suara parau.
Tiba-tiba Juni berhenti berteriak, saat sebuah skuter matic berwarna putih keluar dari gedung di seberang jalan. Matanya seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kecantikan semesta bagaikan dirangkum dalam satu wajah, megah. Bisu Juni menyaksikan anugerah.
"Tak ada yang namanya kebetulan didunia ini. Semuanya sudah digariskan sang ESA" itulah yang Juni tuliskan sebagai pesan perpisahan semasa sma nya. Suatu yang ia yakini. Bagaimana ia bisa tiba di kota ini walau sebelumnya tak ada pikiran untuk dirinya tinggal di kota yang mempertemukan dirinya dengan ciptaan terindah Tuhan yang maha kuasa. Ia yakin pertemuan ini bukanlah sebuah kebetulan, pasti ada sebuah alasan atas segala yang ia alami saat ini.

KAMU SEDANG MEMBACA
J U N E
Teen FictionSebuah cerita sederhana antar manusia yang secara tak langsung saling berhubungan dengan bulan Juni. "Seseorang pernah berkata padaku, Bila ingin orang yang kamu sayangi mencintai dirimu, buatlah ia tertawa. tapi bagaimana bila setiap kali ia tertaw...