Hari Bersejarah

202 22 3
                                    


Hari ini Shelina masuk sekolah seperti biasanya, namun kali ini ia sengaja berangkat lebih pagi dengan alasan agar bisa bertemu dengan Alvino. Alvino memang selalu berangkat lebih pagi, karena itulah Shelina susah payah bangun pagi dan mandi lebih cepat dari biasanya. Ya, namanya juga lagi berjuang. Apa saja ia lakukan supaya bisa mendapatkan hati orang yang ia sukai.

Lima menit yang lalu ia melewati gerbang sekolah dengan harapan bisa bertemu dengan Alvino, ia juga berharap semoga keberangkatannya yang sepagi ini tidak begitu sia-sia mengingat hari ini dia sangat terburu-buru hanya karena ingin bertemu dengan Alvino. Ya, semoga.

Shelina menaiki tangga yang dekat dengan kelas Alvino, sebenarnya ada sebersit rasa takut di dalam dirinya karena ini masih sangat sepi terutama di area tangga. Awan yang masih gelap, ditambah lampu yang entah kenapa tidak ada yang menyala satupun.

'Sial, kenapa gue jadi parno-an gini?' Umpat Shelina dalam hati.

Shelina tetap menaiki anak tangga satu persatu sambil berdoa dalam hati semoga tidak ada hal-hal yang membuatnya jantungan.

Setelah akhirnya ia bisa melewati area tangga dengan selamat, ia pun segera berjalan menyusuri setiap ruang kelas yang salah satunya terdapat ruang kelas Alvino. Shelina lagi-lagi berdoa semoga ia dapat melihat Alvino, hatinya gugup bukan main.

Beruntungnya sudah ada beberapa siswa yang datang, jadi Shelina tidak begitu merasa takut. Tiba-tiba Shelina mengernyit, dari semua kelas yang ia lewati hanya kelas Alvino lah yang pintunya masih tertutup. Ia berpikir, masa iya belum ada yang datang? Lalu Alvino..

'Jadi dia belom dateng? Oh god,' batinnya lagi.

Tapi Shelina masih saja penasaran, dia berniat ingin masuk ke dalam kelas Alvino dan mengecek apa benar belum ada yang datang termasuk Alvino. Awalnya ia bermaksud ingin mengintip lewat jendela dahulu, ia pun berjinjit dan mencoba mengintip, tapi apa daya ukuran badannya yang tidak terlalu tinggi membuat dirinya sulit untuk menengok ke dalam kelas itu.

Shelina mendengus, mau tidak mau ia harus masuk ke dalam kelas itu. Shelina mengumpulkan segala keberaniannya untuk masuk ke dalam kelas Alvino dengan harapan yang masih sama seperti saat melewati gerbang sekolah.

Ia membuka pintu dengan celah yang pas dengan tubuhnya. Akhirnya Shelina dapat masuk ke dalam kelas itu.

Gelap.

Shelina merinding, ternyata kelas Alvino belum dinyalakan lampunya. Tanpa berpikir apa-apa, Shelina langsung saja menyalakan lampu kelas.

*ceklek*

"EH!"

Tiba-tiba matanya terbelalak, jantungnya hampir copot, mulutnya ia tutup dengan tangannya saking terkejutnya pada sesuatu yang berada di pojok ruangan.

Ada orang di sana.

Bagaimana Shelina tidak kaget? Di kelas yang sunyi dan gelap seperti ini ternyata sudah ada penghuninya. Ia ingin menghampiri orang itu, tapi ia takut.

Wajahnya tak terlihat karena wajahnya ditenggelamkan diantara kedua tangannya yang berada di atas meja. Shelina mencoba mengatur napasnya sebelum mendekati orang misterius itu.

Orang misterius itu, dia cowok. Shelina yakin itu, ia bisa melihat dari sepatu dan celana yang dipakai orang itu.

Dia, tidur?

Jarak mereka semakin dekat, Shelina menghampiri cowok itu dengan langkah sangat pelan. Takut-takut kalau ternyata dia bukan manusia, maksudnya bisa saja cowok itu jelmaan dari setan? Seperti di film-film horor yang sering Shelina tonton.

SELENOPHILETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang