Tenang

4.6K 168 5
                                    

Andra

"Jadi gimana regennya tadi?" Tanya Tasha sambil melirikku dengan mata sayunya. Kami sedang berada diatas ranjang, persiapan untuk tidur malam ini.

"Ga tegang seperti yang aku harapkan. Sialnya ga ada Arim sih." Jawabku.

"Kak. Udahlah,"

"Tapi aku masih kesal sama dia, ngapain pake cara ngancem-ngancem istri aku? Emang dia siapa sih,"

"Iya kak sabar, jangan dibawa emosi. Yang harus kita lakuin sekarang itu cuma bersikap tenang," balas Tasha yang menurutku kata-katanya dewasa.

"Iya sih sha. Asal kamu juga berhenti mikirin dia, aku juga pasti bisa kebawa tenang kok. Oh iya tadi pas kamu wawancarai aku kok kamu sama sekali ga mengeluarkan satu dua patah kata?"

"Lagi bad mood sebenarnya. Soalnya yang seharusnya wawancarai kakak tuh bukan aku sama Yeni, tapi adik kelas, kami kan juga udah regen, tapi Yeni nya aja yang centil sama kakak, padahal aku tuh udah punya planning abis pulang mau ngapain,"

Yaampun, ternyata yang niat ketemu sama aku bukan istriku tapi malah temennya.

"Yah tapi kan kamu bisa pulang bareng aku, "

"Tapi jam 6 sore sampe rumah tuh aku gabisa tidur sore dulu, udah keburu tidur malem, makanya aku ngantuk banget sekarang," jelasnya dan lalu ia menguap.

"Kak, aku bobo duluan ya, oh iya kakak kalo mau cium atau mau apa pelan-pelan ya jangan heboh," apa maksudnya? Heboh? Emangnya aku seagresif itu?

"Aku tuh ga-"

Tiba-tiba ia mencium pipi kiriku

"Goodnight!"

Tasha....

Dia....

Oh tidak....

"Tasha, terimakasih loh kamu udah sukses buat aku ga bisa tidur malam ini," ucapku masih dalam keadaan tidak berkutik

"Loh emang kenapa? Yaelah kak dicium doang langsung melting gitu," jelasnya dengan entengnya.

"Tapi sha..."

"Udah ah kak. Tidur dulu!"

Tapi bagaimana bisa dia tau kalau aku selalu melakukan hal itu?

***

Pagi ini aku berencana untuk bertemu janji dengan teman-teman lama ku, awalnya aku mengajak Tasha tapi dia menolak karena alasan banyaknya tugas. Aku juga sudah menakut-nakutinya jika ia sendirian di rumah ini nanti bisa digodain sama penghuni rumah ini, tapi ia malah membala bahwa dia sudah berkenalan baik dengan penghuni rumah ini sampai ia mengenal nenek buyutnya. Agak berlebihan sih cara ia menolak dan cara aku merayunya, tapi aku kalah telak kalau masalah beradu membual dengannya.

Sampailah aku di cafe Reganza. Perjalanan yang terasa cukup jauh akibat macetnya jalan ibukota memakan waktu sekitar 3 jam di perjalanan. Aku pergi dari rumah pukul 10 pagi dan sampai di cafe tersebut pukul 1 siang. Memang lokasi ditentukan disana karena letaknya yang central dari rumah teman-teman ku.

Awalnya meet up akan dilaksanakan pada malam hari. Jelas aku sangat menolak hal itu, aku orang pertama dan yang keukeuh menolak agar meet up tidak dilaksanakan malam hari. Kenapa? Karena kalau malam hari banyak godaannya, mereka para kaum pecinta sejenis akan mengadakan meet up di nightclub dan pasti akan melakukan hal yang engga-engga. Jelas aku kan sudah meninggalkan dunia gelap itu. Dan lagi kalau diadakannya malam hari, yang ada aku gabisa malmingan sama Tasha.

Akhirnya meet up dilaksanakan di dua waktu, yaitu siang dan malam hari. Oh ya, aku lupa menjelaskan bahwa aku akan bertemu dengan teman-teman kaum gay ku dulu. Mereka sudah tau kalau aku menikahi seorang perenpuan pada akhirnya. Ada yang merasa dikhianati dan ada juga yang merasa senang atas pernikahanku ini.

I love You, My Cutie Little GirlTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang