Bagian VII : Flashback (1)

1.3K 224 21
                                    

.
.
.

Kejadian hari ini tak akan pernah Al lupakan seumur hidupnya.

Tamparan Keyna, esspreso hangat yang bahkan belum dia sentuh yang disiramkan gadis itu padanya, makian serta sumpah serapahnya selalu membuat pemuda itu merasa mendidih, bahkan hanya dengan mengingatnya.

Lo akan menyesal.

Kalimat itu selalu berulang, berputar di pikirannya. Menyesal? Tidak akan. Justru Al merasa lega terbebas dari gadis itu dan teman-teman barbar nya.

Gadis itu selalu menjadi sumber masalah, bahkan setelah hubungan mereka tak lagi ada.

Andai sejak dulu dia tahu segala keburukan Yuki, dia tak akan pernah merencanakan hari bahagianya bersama gadis itu. Dia justru sudah membuat keputusan yang baik, tapi kenapa semua orang justru menganggapnya salah?

Al pun segera membersihkan diri. Kemudian pergi ke tempat tidurnya untuk segera terhanyut ke alam mimpi. Alam dimana tak ada lagi tempat untuk nama gadis itu di sana.

-----00000-----

.
.

"Jika kondisimu terus membaik, mungkin 3 atau 4 hari lagi kamu sudah bisa pulang." Ujar dokter Kim sambil merapikan peralatan medical check-up miliknya. Yuki terlihat menyunggingkan senyum bahagia yang segera dibalas oleh senyuman yang sama oleh sang dokter muda.

"Papa dan Mama-mu dimana?" Tanya dokter Kim saat memandang berkeliling dan tidak menemukan sosok kedua orangtua Yuki di sana.

"Papa dan Mama sedang pergi sebentar, dok. Apa ada sesuatu yang harus dibicarakan dengan mereka?"

"Ah tidak. Saya hanya bertanya saja karena biasanya mereka selalu menemani kamu." Jawab dokter muda itu kembali menyunggingkan senyuman menawannya.

"Dokter Kim..." panggil Yuki, terlihat bingung dan malu. Wajah seputih pualamnya terlihat sedikit merona di bagian pipi.

"Ya... ada apa?" Dokter Kim sedikit dibuat kebingungan dengan tingkah Yuki.

"Boleh saya bertanya hal yang... sedikit pribadi?"

"Ya, silahkan."

"Hmmm... berapa usia dokter sebenarnya?" Setelah terdiam beberapa saat, Yuki menanyakan hal yang sejak awal membuatnya penasaran. Karena dokter Kim terlihat begitu... muda. Disamping wajahnya yang memang tampan dan lugu khas remaja.

Kim sedikit tergelak saat Yuki menanyakan usianya. Mungkin gadis itu orang ke-sekian yang menanyakan hal itu padanya.

"Usia saya sudah cukup matang. 28 tahun." Jawabnya sambil mengulum senyuman geli.

Yuki terlihat terkejut dan tidak percaya. Dengan wajah baby face seperti itu, apa iya usianya bahkan sudah melampui usianya?

"Kenapa? Tidak percaya? Butuh saya tunjukan KTP saya?" Tawar dokter Kim, masih dengan tawa geli-nya.

"Ah, bukan. Tidak usah dokter. Maaf saya hanya terkejut karena usia dokter Kim..." belum sempat Yuki menyelesaikan kalimatnya, dokter Kim sudah menyela.

"Panggil Kim saja, supaya tidak terlalu formal. Lagipula usia kita tidak jauh berbeda kan? Biar saya tebak... usiamu, 24 tahun?" Ujarnya penuh keyakinan.

Yuki mengangguk. Bagaimana dokter itu bisa mengetahui usianya? Apa terlihat jelas ?

"Kamu tidak perlu berpikir kenapa saya bisa tahu. Saya bukan peramal atau pesulap. Saya tahu dari daftar riwayat kamu yang ada di..." Kim langsung memenggal kalimatnya. Hampir saja dia menyebut bagian administrasi.

A Gift From GOD ( AL/YUKI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang