Bagian VIII : Masalah

1.3K 224 23
                                    

.
.
.

Dokter muda itu tampak memeriksa beberapa berkas pasien yang ada di meja kerjanya. Obsidian miliknya tampak menelisik dengan seksama, tak ingin ada bagian yang terlewat.

Di antara berkas-berkas para pasiennya, juga terdapat berkas catatan medis milik gadis bermata hazel yang mencuri perhatiannya itu. Kim menelitinya dengan sungguh-sungguh, menelaah setiap catatan yang diberikan setiap kali visitting dan observasi dilakukan.

Keadaan Yuki secara keseluruhan sudah membaik, jauh membaik bahkan. Hanya saja,menurut catatan medis ini, gadis itu mengalami masalah serius di bagian ginjalnya. Dan hal itu memang membutuhkan perhatian khusus. Bagaimana pun, cairan kimia yang gadis itu paksa tenggak membuat tubuhnya harus menerima konsekuensi dari perbuatan nekatnya tersebut.

Belum lagi masalah lambungnya yang menjadi jauh lebih sensitif dibanding sebelum terjadi peristiwa tersebut. Untuk itu Yuki sementara dilarang mengkonsumsi makanan yang bersifat asam agar lambungnya tidak kembali terluka.

Kim sudah memperingati Yuki soal lambungnya yang terluka. Namun Kim tidak tega membiarkan gadis itu tahu tentang organ ginjalnya yang rusak. Untuk masalah ini Kim yang akan mencari solusinya seorang diri. Dokter muda itu hanya berharap Yuki bisa kuat menjalani semuanya.

Kim tidak menginginkan ini. Tapi ada sesuatu yang harus pemuda baby face itu lakukan. Meski tak ada seorangpun yang boleh mengetahuinya.

"Pagi dokter ganteng." Sapa Inge, sahabat se-profesinya sambil melangkah masuk ke ruangannya. Dokter yang sudah dikaruniai seorang putra itu tampak menggoda sahabat karibnya dengan senyum jenaka.

"Eh Nge, kebetulan. Aku baru mau nemuin kamu." Kim, yang baru saja menyadari kehadiran sahabatnya itu langsung terlihat sumringah.

"Ada apa? Mana pasien yang menarik perhatianmu? Goda Inge padanya.

"Aku mau minta tolong..." Kim mengucapkannya dengan nada serius, membuat Inge batal menggodanya lebih jauh.

"Tolong cariin aku donor ginjal."

Kata-kata Kim sukses membuat Inge menaikkan sebelah alisnya.

"Donor ginjal? Buat siapa?" Tanya Inge langsung.

"Buat pasien aku," jawab Kim apa adanya.

"Maksudnya, pasien yang menarik perhatian kamu?" Tanya Inge lagi. Kim tidak menjawab tidak, maupun tidak meng-iya-kan.

"Kim, sebaiknya kamu jangan terlalu..." belum sempat Inge meneruskan kalimatnya, dokter muda itu sudah memotongnya.

"Kali ini aku bener-bener minta tolong sama kamu, Nge."

Inge akhirnya mengangguk karena mendengar nada permohonan di suara sahabat karibnya itu. Inge sangat mengenal Kim. Sahabatnya itu bukan remaja kemarin sore yang baru mengenal cinta. Kim terbiasa dikelilingi gadis-gadis cantik yang menginginkan dirinya. Tapi baru kali ini Inge melihat binar lain di wajah Kim. Sesuatu yang mengingatkan Inge bahwa tatapannya pada sang istri yang dicintainya pun memiliki pandangan seperti dokter muda itu.

Kali ini Inge merasa Kim tidak main-main, dan siapapun gadis itu, dia sangat beruntung bisa mendapat perhatian seorang Kim Kurniawan.

----000000------

"Pah, Mah...Apa Yuki harus ikut pulang ke Jakarta?" Tanya gadis itu pada kedua orangtuanya. Sang Ibu tampak sedang merapikan pakaian Yuki dan memasukkannya di sebuah tas, sementara Ayahnya hanya duduk di kursi tepat di samping ranjang perawatannya.

"Yuki nggak mau pulang ke Jakarta?" Tanya sang Ayah lembut. Gadis itu menggeleng pelan dengan ekspresi sedih. Sang Ayah langsung mengusap kepala Yuki perlahan.

A Gift From GOD ( AL/YUKI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang