TWELVE [ Begin ]

89 7 2
                                    

Menjadi pusat perhatian bukanlah keinginan Daniella, apalagi disaat tengah dia tidak siap menghadapi sorotan tersebut. Dia sudah menyiapkan bukunya dan ingin menikmati waktu makan siangnya sambil belajar, masih tersisa satu mata kuliah lagi yang belum diujiankan. Usaha belajarnya tampak sia-sia karena seseorang yang duduk disebelahnya.

Daniella ingin sekali mengusir sosok itu menjauh tetapi sosok itu seperti bebal. Kadang Daniella juga pikir bahwa seorang Emmanuel Juan dapat tergolong manusia bebal karena ketidakpatuhannya terhadap permintaan oranglain. Beberapa teman Daniella mencoba mendekati meja tempatnya berada namun hampir semua diusir Emmanuel melalui tatapan tajam cowok itu.

Daniella tidak tahan lagi. Dia menutup bukunya sebelum memutar badannya ke arah samping. "Mau lo apaan sih?"

Emmanuel memainkan gantungan tas milik Daniella. "Dapet darimana lo, benda ini? Gue baru liat kayaknya..."

Daniella meringis sembari menarik tasnya kembali ke atas pangkuannya.

"Lo nggak jawab pertanyaan gue,"

"Kenapa kemarin malam lo malah tiba-tiba setuju?"

"Ish, kita bahas itu ntar aja bisa. Gue harus belajar nih dan lo udah ganggu banget. Kalo kayak gini nggak ada yang pengen temenan lagi sama gue." Gerutu Daniella sambil mengamati sekeliling. Emmanuel juga melakukan hal yang sama. Ketika sorot pandangannya mengarah pada semua orang di tempat itu, mereka pun berhenti menatap kedua orang itu.

"Kenapa sih lo peduli banget ama teman lo? Sadar nggak apa yang mereka mau dari lo. Mereka cuma pengen manfaatin lo." kata Emmanuel dengan nada meremehkan.

Alis Daniella melengkung sempurna mendengar ucapan demikian keluar dari mulut seorang Emmanuel. "Lo sadar nggak kalo lo juga nggak berbeda dari mereka. Mereka mungkin menginginkan apa yang ada diotak gue sekarang. Sedang lo menginginkan gue buat ngebalas kakak lo sendiri."

Raut wajah Emmanuel berubah masam. Dia kurang nyaman dengan ucapan cewek ini tetapi tidak bisa menyanggah kebenaran didalamnya. "Gue lupa kalo lo itu pinter."

Daniella mendengus. Bicara dengan cowok itu memang tidak menghasilkan apa pun. Daniella menyisingkan buku ke dalam tas. "Gue harus balik ke kelas sekarang. Gue harus ujian. Bukannya lo juga ada kelas?"

Emmanuel memamerkan senyum setengahnya. "Darimana lo tau jadwal gue? Gue nggak nyangka lo seserius itu pengen jadian ama gue."

"Terserah apa kata lo, gue pergi." pamit Daniella lantas berjalan meninggalkan meja.

"Tunggu gue abis ujian. Kita harus ngomong banyak."

Perhatian dari beragam pasang mata di kantin itu tidak hanya terjadi dikalangan mahasiswa atau pengguna tempat itu saja karena kenyataannya Paris juga menyaksikannya. Dia tanpa sengaja melewati lorong dekat kantin dan pemandangan itu menjadi yang pertama dilihatnya dari sana. Entah mengapa ada yang terasa salah di hatinya. Dia ingin ke sana dan menarik gadis itu menjauhi adiknya namun dia tahu bukan seperti itu aturan yang telah mereka sepakati.

Paris tersenyum masam sebelum berlalu dari tempat itu. Dia tak ingin menarik perhatian karena ketahuan memerhatikan pendekatan yang sedang dilancarkan adiknya pada gadis incarannya sendiri. Mungkin dia sudah kalah, setidaknya untuk saat ini. Tetapi dia yakin suatu saat nanti hal ini tidak akan terjadi lagi.

*

"Daniella... oi!"

Daniella menoleh mendapati Larasati menepuk lengannya cukup keras. "Aw sakit Larasati... kenapa sih?"

Larasati melirik kanan kiri sebelum menarik Daniella ke sudut kelas. "Gue dengar lo bareng Emmanuel yah?"

Daniella mengigit bagian dalam mulutnya. Dia lupa kalau semua orang itu selalu meributkan hal-hal yang dianggap menarik untuk diangkat. Apalagi terkait Emmanuel. "Iya sih, itu nggak sengaja doang dia nemu gue pas di kantin tadi. Lo sih ilang."

Better EnemyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang