8 pm ~ New York

12 0 0
                                    

Chris

Mungkin seharusnya aku tidak perlu kasar padanya. Sudahlah. Menyesal tidak ada gunanya. Apa aku harus menelpon lagi? Tapi aku sudah mencoba tiga kali dan ketika aku mencoba untuk yang keempat, dia justru mematikan ponselnya. Dasar wanita. Sudahlah nanti juga dia baik sendiri. Aku harap.
"Chris, ada seorang wartawan yang katanya ada janji temu dengan mu malam ini untuk interview, kau yakin?" Debbie, manager ku mencondongkan kepalanya di depan pintu kamar hotel. Seketika aku mengangkat alis. Wartawan? Interview? Jam segini?
"Apa dia sudah gila? Tidak tidak..orang itu mengada2. Pergilah dan usir dia." Selaku melotot.
"Oke oke. Kau tak perlu menjadi hulk didepanku. Lagi pula masalah mu dengan minka bukan salah ku." Dia membanting pintu tanpa menunggu responku. Sial. Seharusnya aku tidak boleh menumpahkan kemarahanku padanya. Tapi dia datang disaat yang salah, belum lagi dengan wartawan sialan itu.
Ini bukan pertama kalinya aku menginap di The Plaza, tapi entah kenapa pemandangan New York di malam hari seperti saat ini selalu menyihir ku. Ratusan gedung pencangkar langit dengan kilauan cahaya membius setiap mata yang memandang, kilauan lampu jalan yang berkelok- kelok tiada akhir tak kalah menyilaukan mata. Keindahannya tetap memukau walaupun saat ini aku masih gelisah dengan apa yang baru saja terjadi. Bukan karena Minka. Bukan. Itu urusan kecil. Setidaknya saat ini.
"Hei, aku sudah mengusir wartawan iseng itu. Kau tak perlu khawatir. " debbie kembali masuk ke kamarku
"Apa kau tidak pernah diajarkan untuk mengetuk pintu sebelum masuk?" Sergahku.
"Ayilah Chris jangan sentimen begitu, aku sudah berbaik hati menjaga kenyamanan mu disini kan." Balasnya sambil menghempaskan diri di sofa, mengambil remote tv dan menyalakannya.
"Bukannya itu sudah tugasmu?" Timpalku sambil kembali memandang pijaran lampu
"Maaf tuan tapi tugasku berakhir setelah jam 6 sore dan sekarang sudah jam 8. Bisakah kita mengganti topik? Omong2 premiere mu hari ni luar biasa. Sekarang masih menjadi trending topik di twitter. Kau harus bangga. Kenapa tidak ada saluran yang bagus di tv ini?" Debbie terus mengoceh sambil memilih saluran tv favoritnya. Seingatku dia suka nonton jika hanya ada Keanu Reeves di dalamnya. Aku hendak membalas ocehan nya barusan ketika dia berteriak dari depan tv
"Chris! Kau harus lihat ini. Ke marilah! "
Lebih karena refleks dan bukannya penasaran, aku menghampirinya di ruang tv dan mataku secara otomatis langsung tertuju ke layar datar 29 inci tersebut. Dan disanalah dia berdiri. Dengan setelan jas resmi serba hitam, rambut pirang nya dikucir kuda, berdiri di podium sambil berpidato dengan lantang. Aku masih terpaku ketika kudengar ciciyan Debbie menggodaku.
"Ckckck rupanya Masih belum berubah ya?

One Night In New YorkTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang