Perpustakaan sekolah itu nampak sepi. Terlihat tidak ada seorang pun disana. Hanya ada seorang penjaga perpustakaan yang sesekali menguap di balik meja kerjanya. Mungkin ia juga mengira tak ada seorang pun disana selain dirinya. Tapi jauh di dalam perpustakaan yang nampak penuh dengan rak buku terdapat seorang perempuan disana. Ia sedang mondar-mandir sambil sesekali mengambil buku dari raknya hanya untuk membaca judulnya lalu mengembalikannya ke dalam rak seperti semula.
Perempuan itu sering ke perpustakaan sekolah, entah itu untuk membaca novel, mengerjakan tugas atau menyendiri diantara ratusan buku tua. Tapi meskipun begitu ia tidak pernah ke perpustakaan sekolah di jam pelajaran seperti saat ini. Perempuan berambut indigo itu melirik jam tangannya dengan tatapan bosan. "Masih 30 menit lagi." Bibir mungilnya berucap setelah melirik jam tangan yang menunjukan pukul 08.00 pagi.
Krriiieett....
Terdengar suara pintu yang di buka perlahan. Sepertinya Shizune sensei sang penjaga perpustakaan memutuskan untuk keluar. Tidak mungkin ada orang lain yang masuk ke perpustakaan di jam pelajaran sekolah, selain perempuan berambut indigo tadi tentunya.
"Permisi Shizune-san."
Itu suara seorang pria. Sepertinya memang ada yang memasuki perpustakaan. Perempuan berambut indigo itu berada hampir di sudut perpustakaan yang sebenarnya cukup jauh dari pintu masuk perpustakaan tapi karena suasana yang sepi seolah membuat suara sekecil apapun dapat terdengar jelas olehnya, termasuk suara pria tadi. Ia cukup mengenal suara itu. Itu adalah suara milik salah satu gurunya. Seorang guru dengan rambut pirang berkulit tan yang hampir di gilai seluruh siswi di sekolahnya. Seharusnya guru itu mengajar biologi di kelas 12-A sekarang. Untuk apa ia kesini? Pikir perempuan berambut indigo. Ah, sepertinya tempat persembunyiannya sudah ketahuan.
"Oh Naruto, sedang apa disini? Ada yang bisa ku bantu?" Tanya Shizune sensei dari balik mejanya.
"Aku disini untuk mencari salah satu muridku yang kabur dari kelasku." Jawab pria yang bernama Naruto sambil sesekali mengedarkan pandangannya ke penjuru perpustakaan.
"Muridmu? Tidak ada siapapun disini selainku, Naruto."
"Ah, sepertinya murid kesayanganku menyelinap masuk diam-diam. Aku tahu pasti dia disini karena ini salah satu tempat kesukaannya."
"Memangnya siapa yang kau cari?"
"Seorang gadis kekanakan berambut indigo."
"Indigo? Hm, sepertinya aku tahu siapa yang kau maksud. Masuklah dan cari sendiri dia di dalam."
"Terimakasih Shizune-san." Setelah berterimakasih pada Shizune sensei, Naruto mulai berjalan masuk ke perpustakaan bagian dalam. Ia yakin muridnya ada disini. Kelincinya tidak mungkin bisa bersembunyi dari serigala sepertinya.
Sementara itu, sosok perempuan berambut indigo yang dimaksud Naruto hanya mendesah pasrah. Lagi-lagi ia ketahuan. Ini sudah ketiga kalinya dalam sebulan ia meninggalkan kelas diam-diam sebelum guru biologinya itu memasuki kelas. Dan sudah ketiga kalinya pula Naruto, sang guru, menemukannya untuk kemudian menyebutnya perempuan kekanakan. Demi Tuhan ia benci sebutan itu.
Suara ketukan sepatu Naruto seakan menggema di dalam perpustakaan. Naruto tahu pasti dimana muridnya berada. Dimana lagi kalau bukan di deretan rak buku tempat penyimpanan novel. Muridnya yang satu itu sangat suka membaca novel, terutama dengan tema percintaan yang menurutnya terlalu dibuat-buat. Tak lama kemudian matanya menangkap siluet seorang perempuan berambut indigo. Perempuan bertubuh mungil namun berisi itu sedang membelakanginya. Pura-pura sibuk membaca buku yang dari tadi hanya di bolak-balik halamannya. Naruto tahu perempuan itu menyadari kehadirannya tapi memilih mengacuhkannya. Naruto berjalan menghampiri muridnya dan langsung melingkarkan tangan tannya pada pinggang ramping muridnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Idiot Teacher
FanfictionHinata bersembunyi diperpustakaan demi bisa menghindari guru biologinya yg kelewat mesum. Menurutnya guru biologinya itu mesum brengsek. Kali ini Hinata tidak akan memaafkan kesalahan si guru idiot mesum brengsek! Naruto tahu murid kekanakannya bers...