A/N: Here it is! One-shot for my beloved crazy friend, Ayu! I hope you, (and anyone who read this), like it! Hihihi
*
“Jadi, kau juga menyukainya, ya?” Tanganku bermain dengan garpu dan pisau diatas piring yang berisi steak pesananku. Tanpa menatap seseorang—yang katanya temanku ini. Drama sekali memang, dua orang teman menyukai pria yang sama. Cinta segitiga?
Persetan dengan dua kata itu.
“Ya, memangnya kenapa? Aku lebih dulu suka padanya. Sejak aku masih junior disekolah. Dan sekarang aku sudah senior. Jadi, sudah hampir tiga tahun aku menyukainya.” Akunya, “Jika kau temanku, sebaiknya tak mengangguku.” Tambahnya seraya tersenyum sinis. Aku memutar bola mataku mendengarnya.
Zayn Malik.
Pria yang tidak populer disekolah. Pendiam. Tak suka bergaul. Dingin. Pintar. Dan disukai oleh sepasang teman—Ayu dan Hanna. Aku dan dia. Dan itu sangat menyebalkan sekali. Mengingat sekian banyak perempuan disekolah, kenapa harus Hanna yang ternyata juga menyukainya? Yang pasalnya adalah temanku juga? Walaupun bukan teman dekat. Tapi sama saja.
“Tapi bukankah belum pasti kau juga akan jadi dengan dirinya? Bukankah belum pasti juga dia juga akan menyukaimu. Dia yang menentukan semuanya, bukan dirimu. Jadi, tak usah mengaturku. Ini sudah menjadi hak-ku untuk mencintai siapapun, termasuk dia.” Belaku. Menyantap steak-ku yang sudah habis seperempat ini.
Hanna menyesap teh hangat kesukaan-nya, dia suka teh hangat. Aku tahu, dia juga temanku. Teman? Cih. “Baiklah kalau begitu, kau benar juga. Tapi sayang-nya, aku lebih dekat dengan dia dari pada kau. Jadi, kesempatanku untuk mendekatinya lebih besar dari pada dirimu.”
Satu alisku terangkat, “Oh ya?”
“Kau tahu bukan kalau rumahku itu searah dengan rumahnya. Akhir-akhir aku sering pulang bersamanya. Berbincang dan bercanda dengannya. Kau tidak tahu itu, bukan?”
Aku tersenyum merendahkan, “Kau tidak ingat bahwa dia satu kelas denganku? Dan aku juga sering berkomunikasi dengannya lewat pesan singkat. Aku punya nomer ponselnya. Kau tidak punya, bukan?”
Ini semacam sedang pamer. Okay, aku akui, ini memang sedang saling pamer. Tidak bisa dicekal lagi. Aneh sekali kelihatannya memang. Bertengkar tanpa harus menyerukan suara keras. Seperti ini, duduk manis dikursi masing-masing yang dibatasi meja, dengan tenang. Bertengkar dengan ucapan dan ekspresi. Bukan dengan kekerasan dan anarki.
Itu lebih baik.
“Tapi berbincang langsung lebih menyenangkan dari pada melalui pesan singkat.” Ia kembali menyesap teh-nya lalu menyelipkan rambut ditelinganya. Ia cantik, aku akui itu hal itu. Namun, mengapa aku baru tahu sekarang bahwa Ia tidak sebaik yang aku kira?
“Aku juga sering berbincang dan bergurau dengannya dikelas. Waktunya lebih banyak denganku daripada denganmu.”
“Well then. Kalau begitu, kita bersaing secara sehat saja. Bagaimana?” Hanna menyodorkan tangannya kedepanku sembari tersenyum menantang.
Aku tersenyum sembari menjabat tangannya, “Tentu saja.”
Aku menghabiskan steak-ku dan langsung menegguk minumanku. Dan aku hampir tersedak saat mendengar suara seseorang yang memanggil namaku juga Hanna, “Ayu, Hanna? Kalian disini juga?”
Aku menoleh kearahnya, “Zayn?” Ujarku dan Hanna berbarengan. Sedangkan Zayn hanya tertawa kecil melihatku. Aku menyipitkan mataku memandang gadis pirang yang berada disamping Zayn itu.
Cantik sekali.
Sepupunya, mungkin?
“Iya. Boleh aku bergabung dengan kalian?”
“Boleh!” Lagi-lagi aku dan Hanna berucap serempak. Membuatku menggerlingkan mata dengan sebal. Kembali membuat Zayn tertawa kecil, lalu Ia duduk dikursi kosong. Juga gadis yang yang ada disampingnya pun ikut duduk. Kursi disini memang untuk empat orang.
“Kalian kompak sekali.” Aku hanya tersenyum tipis pada Zayn. Ya, kompak. Kompak karena sama-sama menyukaimu. Hah.
“Oh ya, dia siapa Zayn? Aku tidak pernah melihatnya.” Ucapku pada Zayn. Sedangkan gadis itu hanya tersenyum melihatku. Aku pun ikut tersenyum membalasnya.
“Oh ya, kenalkan,” Zayn menggenggam tangan gadis berambut pirang itu, “Namanya Perrie Edward, kekasih baruku.” Zayn maupun gadis yang bernama Perrie itu tersenyum.
Berbeda denganku dan Hanna yang sama-sama membelakan mata. Lalu bertukar pandangan satu sama lain. Beberapa detik kemudian kami berdua tertawa.
Terlihat Zayn dan Perrie yang terlihat bingung, “Kalian kenapa?”
“Tidak.” Jawabku dan Hanna. Aku merangkul pundak Hanna sembari mencoba menahan tawaku.
Kemudian membisikan sesuatu ditelinganya, “Hey, I can’t get him, you know. And at least, you too.” Memang sakit, sih, mengetahui bahwa Zayn ternyata mempunyai kekasih. Setidaknya, itu membuatku dan Hanna tidak jadi bersaing.
Aku dan Hanna sama-sama tersenyum menyiratkan permintaan maaf atas percakapaan yang ternyata hanya sia-sia, “Yeah. Same.”
*
Aku memang tidak bisa mendapatkannya.
Setidaknya, kau juga tidak bisa mendapatkannya.
Jadi, kita impas bukan?
A/N: I know it’s strange..... But, i hope you like it :-)
thank you <3

KAMU SEDANG MEMBACA
Little Memories
Fanfic[One-shot request. But, I close this request for a while.] Just an empty memories. Someday, they'll disappears.