Harry Styles; I (Don't) Love You

301 18 8
                                    

A/N: Thanks MichelleRostiolina for your request! I hope youand anyone who read this like it! ^^

P.S:  Ini pake alur mundur, jadi jangan bingung ya .__.

*

“Harry!” Panggilku pada seorang pria yang sedang bergurau dengan sahabatku—yang kini sudah mendapatkan status sebagai kekeasih pria itu, Harry. Aku berjalan menuju kearahnya sembari menggenggam kalung ditanganku dengan kuat. Juga, menguatkan hatiku untuk melalukan hal ini. Wajah Harry tiba-tiba saja berubah datar dan dingin saat aku sudah berada didepannya.

“Ada apa?” Tanyanya dingin. Aku hanya tersenyum tipis walaupun hatiku menjerit ingin sekali berteriak didepannya jika aku telah berkorban banyak untuk kebahagiaanya juga kebahagiaan sahabatku. Aku tidak membenci dua orang didepanku ini. Tidak sama sekali. Walaupun mereka berdua telah merenggut kebahagiaanku.

“Aku hanya ingin memberikan ini.” Aku memberikannya kalung berisial ‘forever’ yang dulu Harry berikan untukku.

“Apa maksudmu?”

Bibirku mengulas senyum, “Ini adalah kalung yang dulu kau berikan padaku. Tanda bahwa kau mencintaiku. Sekarang kau sudah tak mencintaiku, jadi aku tak berhak untuk menyimpannya lagi.”

Sebelum aku melangkah pergi, aku harap ini bukan kata-kata terakhirku untuknya. “Aku harap kau masih meningatnya walaupun kau sudah berubah sekarang. Aku pergi dulu, maaf telah mengganggu.”

*

“Kita putus saja.” Wajahku mendongak memandang pria yang beberapa detik yang lalu masih berstatus sebagai kekasihku. Dan sekarang? Mungkin tadi adalah kata kita untu terakhir kalinya Ia takjukan padaku.

Dadaku yang sesak membuatku kesulitan bernafas, “But, why?”

“I don’t love you anymore.” Oh, mudah sekali Ia berbicara seperti itu. Tanpa sama sekali memikirkan bagaimana perasaanku sekarang ini. Orang yang dihadapanku ini, bukan Harry yang aku kenal dulu. “Aku mencintai orang lain.”

“Who?”

“Your best friend.” Hatiku mencelos mendengarnya. Mengapa harus sahabatku?! Mengapa bukan orang lain saja? Ya tuhan. “Kalau kau mencintaiku, biarkan aku bahagia .Walaupun dengan orang lain. Berkorbanlah untukku dan untuk sahabatmu. Kau pernah bilang bukan, cinta itu tak harus memiliki.”

“Mengapa harus aku yang berkorban?”

“Aku tahu, kau pasti tahu betul apa jawaban dari pertanyaanmu itu.” Ia beranjak dari duduknya ,“Aku pergi dulu. Aku harap, kau bisa melupakanku. Melupakan tentang kau dan aku.” Ia menatapku dingin, membuatku tak mengenal siapa sebenarnya yang ada dihadapanku ini. Dia benar-benar bukan Harry.

“Good bye, Michelle.” Sejurus itu Harry berjalan menjauh dariku yang masih tak percaya akan apa yang terjadi barusan.

Dia bilang apa?! Melupakan tentang dia dan aku katanya? Dia pikir melupakan itu mudah? Dia pikir melupakan seseorang itu semudah menyukai seseorang. Sebenarnya apa yang dia pikirkan hingga-hingga bisa menjadi berubah seperti ini?

Mataku yang sedari tadi kutahan agar tidak menangis pun menyerah pasrah. Dan lagi ditambah, potongan-potongan kenangan saat kam—maksudku, aku dan dia masih bersama, berputar seperti kaset rusak diotakku. Sebuah kenangan kecil yang tak bisa kulupakan.

*

Jutaan bintang menghiasi malam yang sunyi ini. Aku tidak bisa tidur. Katanya, jika kita menghitung bintang, bisa membuat kita cepat mengantuk. Tapi nyatanya tidak. Aku masih belum mengantuk sama sekali.

Sebuah tangan melingkar dipinggangku, tanganku menyentuh tangannya yang hangat. Tak usah menoleh atau bertanya siapa orang yang sedang memeluku dari belakang ini. Tentu saja dia, Harry, kekasihku.

Dagu-nya Ia letakan dibahuku, dan kepalaku menyender dikepalanya. “Kau sedang apa disini, love?”

“Aku sedang menghitung bintang supaya aku cepat mengantuk. Sedari tadi aku belum bisa tidur, Hazz.” Keluhku. Harry tertawa kecil yang membuatku mendengus kesal, “Jangan tertawa!”

“Tidak,” Ujarnya berusaha menahan tawa, “Kalau kau tidak bisa tidur, aku akan menemanimu. Kita habiskan malam ini berdua, bagaimana?” Harry mencium tenggukku, yang menjalarkan kehangatan keseluruh tubuhku.

“Terserah kau saja. Aku tidak masalah selama kau bersamaku.”

Kesunyian menyeruak dengan cepat antara aku dan Harry, namun aku tidak bosan. Selama Harry bersamaku, aku tidak akan pernah bosan. Walaupun aku dan Harry terdiam semalaman, aku tidak bosan. Asal Harry memelukku hangat. Asal Harry bersamaku.

“Aku mencintaimu.” Bibirku menyungingkan senyum saat mendengar kalimat itu. Meskipun Harry mengucapkan hal itu sudah berjuta-juta kali, tetap saja membuat hatiku bergetar mendengarnya. “Ah ya, aku ingin memberikan sesuatu padamu.”

Harry membalikan tubuhku hingga menghadap padanya, Ia menggerogoh seseuatu dari sakunya. Lalu senyumnya mengambang saat Ia berhasil mengeluarkan kotak yang berbentuk persegi panjang. Lalu Ia memberikannya padaku, “Ini untukmu.”

“Tapi aku sedang tidak ulang tahun.” Balasku polos. Ia memutar bola matanya.

“Memangnya harus dihari ulang tahun saja kita memberikan kado?” Aku menggeleng, “Nah, silahkan dibuka.” Lesung pipinya terlihat begitu jelas membuatku gemas melihatnya.

Aku membuka kotak persegi panjang itu, dan terlihatlah kalung bertuliskan‘forever’. Membuat mataku berbinar-binar melihatnya, “Kau suka?”

“Tidak.” Balasku, membuat Harry mengkerucutkan bibirnya. Aku tertawa kecil melihatnya, “Tidak diragukan lagi, Harry. Aku sangat menyukainya.”

“Sungguh?” Aku mengangguk mengiyakan ucapan Harry. “Kalung ini sebuah tanda bahwa aku mencintaimu. Walaupun hanya sebuah kalung.”

“Terimakasih, Hazz.”

“Sini aku pakaikan.” Harry mengambil kalung ditanganku dan memakaikannya dileherku. Ia menyibakan rambutku kekiri lalu mencium tenggukku untuk kedua kalinya. Rasanya masih sama seperti tadi. Ada aliran listrik yang membuatku bergetar.

Aku kembali menghadap Harry, “Eits! Sekarang bayar dulu, dong!” Ia tersenyum menggoda, sembari menaik-turunkan alisnya. Aku memutar bola mataku lalu mencium pipi Harry, pas dilesung pipinya. Sungguh, aku benar-benar jatuh cinta saat lesung pipi Harry terlihat ketika Ia tersenyum lebar. Itu sungguh manis.

“Hanya itu?” Aku mendengus kesal, lalu mencium bibir Harry sekilas. Saat aku hendak menjauhkan wajahku dari Harry, Ia malah menarikku kembali. Menutup jarak antara aku dan dirinya. Membuat semburat merah dipipiku. “I love you, Michelle.”

*

Kata ‘tidak’ memang kata yang sangat sederhana, namun mempunyai arti yang sangat fatal jika diselipkan pada kata yang sangat bermakna.

Seperti, aku mencintaimu.

Menjadi, aku tidak mencintaimu.

*

A/N: Buat Michelle, maaf ya kalo engga sesuai sama yang diharapin u,u maklumin aja aku bukan penulis hehe ;3 semoga suka yaaa ^^

Thanks a lot♥

Little MemoriesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang