CHAPTER 1
PLUVIOPHILE- FRAGMEN 7 -
Menjadi hujan (part2)Its been three days, since you called me.
I don't really know how much more this, I can take
Its me, that's pathetic.
Checking my phone every single second
To see if you've been calling,
To see if you still want me.Malam semakin larut, jam di dinding sudah menunjukan pukul 23:56. Disaat orang-orang lain sudah terlelap dalam mimpi, Juni masih belum bisa memejamkan matanya, ia terlihat gelisah, kakinya seakan tak bisa berhenti bergerak, ia mondar-mandir mengitari setiap sudut kamar kostnya. Sesekali ia mengecek smartphonenya, berharap ada sebuah balasan dari pesan singkat yang ia kirim beberapa saat lalu, pesan yang ia tujukan pada Lova.
3 hari yang lalu Lova sempat menelepon Juni, menanyakan bagaimana kabarnya, Juni yang saat itu masih bimbang Antara mengikhlaskan Lova atau masih tetap ingin bersama Lova hanya menjawab seperlunya saja, tak ada canda seperti sebelumnya, kaku tingkah Juni, Kelu pula lidahnya.
Setelah ia benar-benar yakin akan perasaan nya pada Lova barulah Juni merasa menyesal kenapa tempo hari ia menjuteki Lova yang menelepon nya. Ia kini merasa bagai orang yang paling bodoh di dunia. Sesaat sesudah menelepon Chita, Juni segera mengirimi Lova sebuah pesan singkat yang berisi ajakan untuk bertemu esok hari. Sejam, dua jam, tiga jam balasan yang di tunggu Juni belumlah muncul juga, Juni gelisah, mengecek terus menerus layar smartphonenya menampilkan balasan yang ia tunggu.
Asbak yang berada di samping monitor Juni terlihat penuh dengan abu dan puntung rokok, Juni mencoba meredam rasa gelisahnya dengan membakar batangan racun tersebut, matanya mulai lelah menunggu, kemudian Juni berjalan menuju dispenser yang terletak di sudut ruangan, suntikan caffeine dari kopi ia rasa bisa mengurangi rasa kantuknya. Saat Juni tengah mengaduk campuran kopi hitam dan gula, sebuah getaran yang berasal dari saku celananya terasa, dengan terburu-buru Juni merogoh saku, meraih smartphone nya. Dengan sumringah Juni melihat nama dari pengirim pesan tersebut.
She was the one, the only one for me.
I made mistakes, but she always forgave me.
She was the one, my only obsession.
She kept my feet on the ground
She kept my head in the clouds."maaf, besok aku ada acara," begitulah isi pesan yang diterima oleh Juni. seketika itu, kaki Juni yang sedari tadi tak bisa berhenti bergerak mendadak lunglai seperti tak bertenaga.
Dengan perasaan kecewa Juni membalas pesan itu "Oh, ada acara apa emangnya?" Tanya Juni penasaran.
Ia lalu mencoba menenangkan diri dengan secangkir kopi, tapi entah kenapa saat itu aroma khas dari kopi yang biasanya dapat membuat tenang kini tak berpengaruh sedikitpun.
Beberapa saat kemudian balasan dari Lova datang, "Besok aku mau ke luar kota.""Kemana? Mau ngapain?" Balas Juni.
Lova memang begitu, di hari libur ia senang sekali berpergian, mungkin untuk menghilangkan penat setelah bekerja. Itu bukan hal yang aneh memang bagi Juni, ia sudah mengetahui kebiasaan Lova yang seperti itu, namun kali ini berbeda, sebuah perasaan yang kurang enak menyelimuti dirinya.
Kopi yang tadi panas kini tak lagi mengepulkan asap, sedangkan abu dan puntung rokok semakin memenuhi asbak, beberapa abu terlihat jatuh di luar asbak. Jam di dinding kini menunjukan pukul 01:44 namun pesan yang Juni kirim belum mendapat balasan dari Lova. Juni semakin penasaran.

KAMU SEDANG MEMBACA
J U N E
Teen FictionSebuah cerita sederhana antar manusia yang secara tak langsung saling berhubungan dengan bulan Juni. "Seseorang pernah berkata padaku, Bila ingin orang yang kamu sayangi mencintai dirimu, buatlah ia tertawa. tapi bagaimana bila setiap kali ia tertaw...