Third : He's Come!

23 4 0
                                    

  Pagi kembali datang menyapa para penghuni bumi. Langit begitu cerah. Burung berkicau dengan riangnya diranting pepohonan. Cukup untuk membuat mood beberapa orang menjadi naik karenanya.

  Namun tidak untuk Nadya. Sedari kemarin, perasaan gelisah menghantuinya. Ia merasa sesuatu yang buruk akan datang. Entahlah, untuk menjabarkannya juga ia sulit untuk melakukannya. Menghela napas pelan, ia melanjutkan langkah kakinya mantap memasuki pelataran sekolah.

  Lorong sekolah sudah banyak dipenuhi murid-murid, berhubung ini adalah hari rabu dan setiat hari rabu akan diadakan apel pagi. Murid-murid bergerombol membentuk sebuah kumpulan dan membicarakan hal-hal yang tidak penting--khususnya para kumpulan gadis--.

  Nadya berjalan kearah kelas XI-IPA-II, kelas Laudya, tanpa menyimpan tasnya terlebih dahulu dikelasnya. Nadya langsung dapat melihat sahabat-sahabatnya sedang sama-sama berbincang. Ia langsung menubrukkan tubuhnya didekat Tania dan menaruh dagunya dipundak milik Tania.

"Lah? Kenapa lo? Baru dateng udah lesu gitu?" Tanya Tania bingung.

"Tau ah."

Laudya mengernyit, "napa sepupu lo, Sid?"

Sidney mengendikkan bahunya, "tau, putus kali ama si Tukul!"

  Mereka semua tertawa mendengar jawaban Sidney, sedangkan Nadya mengembungkan keduanya pipinya kesal. Bukannya terlihat menyeramkan saat marah, Nadya malah terkesan imut, membuat pipinya ditarik oleh Rachel dan Gracia.

  Nadya meringis kesakitan, "ih! Kak Rachel, Gracia, lepasin! Sakit tau pipi gue!"

  Rachel dan Gracia terkekeh kemudian melepas kedua pipi Nadya. Kedua pipi Nadya sukses dibuat merah dengan cubitan kedua orang itu. Nadya mengelus pipinya yang terasa nyeri.

"Shh.. kalian berdua ya, kalau udah nyubi. Nggak ngira-ngira, pipi gue ampe nyut-nyutan lagi!" Kesal Nadya.

"Oh iya! Gue ada berita baru!" Seru Laudya, berusaha mengubah topik pembicaraan.

"Berita apaan?" Tanya Rachel.

  Laudya berdehem, "lo masih ingetkan soal anak baru yang kemarin diceritain Tania?--semua mengangguk-- katanya nih ya, anak baru yang masuk kesini bukan hanya 1 tapi 4 sekaligus loh!"

"Oh ya? Beneran?"

"Iya! Trus nih ya, mereka dari sekolah yang sama. SMA Nusa Bangsa Bandung. Aneh nggak?"

  Nadya terdiam. Bandung? Kenapa perasaannya makin tidak enak mendengar nama kota itu?

"Trus, 2 orang masuk dikelas kita, 2 orang lainnya masuk dikelas lo, Nad." Ujar Laudya.

"Yang bener? Cewek apa cowok? Cakep gak? Ah! Sial! Kelas gue kagak masuk murid baru." Keluh Gracia.

Nadya tersenyum jahil, "mungkin lo jelek, Gra. Makanya kelas lo nggak kebagian dapet murid baru. Takut syok murid barunya."

Gracia langsung menoyor kepala Nadya, "enak aja lo! Muka 11 12 ama Raisa gini dibilang jelek!" omel Gracia kesal.

Mereka berlima langsung berekspresi seolah-olah ingin muntah lalu tertawa, membuat Gracia tambah kesal.

KRINGG!

  Bel masuk berbunyi bertanda apel pagi akan segera dilaksanakan. Mereka berlima mengambil topi mereka dan menunggu Nadya yang baru saja pergi menaruh tasnya dikelas. Kemudian, mereka berjalan menuju ke lapangan.

  Barisan para murid memenuhi setengah dari lapangan sekolah. Berbeda dari sekolah lainnya, para murid bebas untuk masuk kedalam baris mana. Karena itulah, Nadya lebih memilih berdiri di barisan keempat dari kanan bersama kelima sahabatnya.

This Is My Life Story(On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang