Sixth : Sick.

37 2 0
                                    

  Nadya menghela napas berat. Akhir-akhir ini ia merasa tubuhnya lelah sekali. Tugas sekolah dan osis makin menumpuk saja, dan lagi.. festival sekolah akan diadakan setelah 1 minggu selesai UTS. Itu berarti, 3 minggu lagi akan diadakan festival sekolah. Tentu saja, ia akan sangat sibuk dan harus beberapa kali tidak masuk kelas untuk mengikuti rapat.

Menjadi sekretaris osis memang sangat menyita waktunya. Mulai dari pembuatan proposal hingga mengurus persetujuan proposal festival dari masing-masing kelas dari ketua osis--Rendi-- dan kepala sekolah. Dengan tugas begitu banyaknya ia harus membawa tugas tersebut kerumahnya dan tentunya itu membuat dirinya harus begadang.

Nadya kembali menghela napas berat. Oh tidak, pastinya dengan kesibukan ini, beberapa tugasnya akan terabaikan. Ia mengusap wajahnya kasar. Tidak, jangan berpikir buruk, ia pastinya masih bisa melakukan tugasnya sebagai pelajar.

Nadya pun menghembuskan napasnya keras dan kembali fokus dengan beberapa berkas yang berada dihadapannya. Tangan mungilnya dengan cekatan menari diatas papan keyboard netbook miliknya. Matanya sudah memerah dan lingkar hitam senantiasa berada dibawah matanya. Kedua bola matanya sudah tampak memerah diakibatkan mengantuk, tetapi ia terus menahannya walau saat ini jam sudah menunjukkan pukul 4 pagi.

******

  Berjalan di tengah koridor sambil memegang beberapa kertas dan kacamata yang bertengger dihidung mungilnya sudah menjadi kebiasaan Nadya selama beberapa hari ini. Tak ayal membuat sahabat-sahabatnya mengkhawatirkan dirinya, tapi karena memang gadis itu bebal, dia tetap melewati hari-harinya dengan siklus seperti itu.

Hap!

"Hey!" Tegur Nadya saat ia merasa beberapa berkas ditangannya sudah berpindah tangan. Ia mendengus melihat seorang pria tengah menyengir lebar melihatnya.

"Robert! Jangan kebiasaan bikin kaget, deh!" Gerutu Nadya kesal. Robert terkekeh melihat wajah cemberut Nadya.

"Hehe, iya deh maafin gue. Tapikan gue mau nolongin, jadi harusnya lo berterima kasih."
Nadya memutar bola matanya bosan.

  Melihat pemandangan seorang Robert bersama Nadya juga sudah menjadi hal yang biasa bagi para murid-murid sekolah ini. Setelah kejadian menangisnya Farhan--jangan bicarakan ini didepan empunya, atau kau akan mati--, Nadya dan Robert kembali akrab seperti dulu. Begitu juga dengan Irene.

  Robert memberi sebuah kantung kecil pada Nadya. Nadya menatap kantung itu bingung.

"Gue punya firasat kalau lo belum sarapan. Jadi, gue bawain lo roti ama susu stroberi kesukaan lo." Ujar Robert tersenyum.

Nadya tersenyum senang, "makasih, Rob!"

  Robert mengusulkan mereka untuk duduk terlebih dahulu di bangku taman yang kebetulan dekat dari posisi mereka. Mereka berdua melewati Sidney yang kebetulan berada didekat taman bersama Farhan.

  Sidney menatap mereka berdua dengan pandangan waspada. Tidak, bukan mereka, lebih tepatnya kearah Robert yang sedang bercanda bersama Nadya.

"Kerdil, lo yakin biarin mereka kembali seperti dulu?" Tanyanya.

  Farhan mendecak sebal mendengar panggilan Sidney kepadanya, "ck, gue nggak kerdil. Udahlah, lo tenang aja. Gue yakin, Robert bakal pegang janjinya. Lo taukan kalau dia ngelanggar janjinya apa yang bakal gue lakuin." Ujar Farhan dengan nada horror.

  Sidney merinding sekilas kemudian menyeringai, "ya gue tau kok, lo nggak bakal nyelakain kakak lo sendiri. Walaupun lo itu kerdil." Ejeknya dengan nada menyebalkan ditelinga Farhan.

"Gue bilang kan berhenti manggil gue kayak gitu! Itu dulu, gue sekarang udah tinggi." Sebal Farhan.

  Sidney memandangnya remeh, "heh.. bener nih?"

This Is My Life Story(On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang