Laki-laki itu terus menendang-nendang samsak yang berada di depannya. Ia hanya menggunakan celana boxer hitam selutut, sehingga menampakkan tubuh atletis yang begitu mempesona. Tubuhnya sudah dibanjiri keringat sejak tadi, membuat kaos tipis yang dipakainya basah dan melekat pada tubuhnya.
" Ran istirahat. Nih minum lu" Riko membawa nampan yang diatasnya terdapat dua gelas, teko berisi air putih dan beberapa camilan. Lalu meletakkannya di meja.
Rana memberhentikan aktivitasnya lalu menghampiri sepupunya yang berbeda usia 4 tahun lebih tua darinya itu.
"Air putih?"
Pertanyaan itu membuat Riko mengalihkan pandangannya dari ponsel dan melirik Rana "Kalo mau yang lain buat sendiri aja. Gue mager" jawab Riko sambil mengetik sesuatu di ponselnya.
Rana hanya mendengus lalu menuangkan air tersebut ke gelas dan meneguknya hingga habis dalam satu tarikan nafas. Rana meletakkan kembali gelas tersebut dan duduk disamping Riko sambil mengibas-ibaskan tangannya seperti kipas.
"Anjir lu! Jauh-jauh!" Riko menutup hidungnya saat tercium aroma yang tidak sedap dihirup. Bukannya menjauh Rana semakin menjadi, ia mengambil koran yang ada di meja lalu mengibaskan koran tersebut tepat di ketiaknya.
"Kampret ya nih bocah!" akhirnya Riko bangkit dan duduk menjauh dari Rana.
"Ketek gue panas ko. Lagian--" Rana mencium ketiaknya sendiri. "wangi kok"
Dasar sedeng nih bocah.
"Wangi lu bilang? Bulu hidung gue langsung rontok nyium baunya" Riko meninju bahu Rana membuat Rana sedikit oleng.
"Bulu hidung rontok ko? Wah.. Tandanya lagi ada yang kangen tuh ko. Si Tiara kali" Rana mencolek dagu Riko dan berhasil membuat Riko memasang wajah jijiknya.
"Apa hubungannya bulu hidung rontok ama kangen?"
"Orang-orang sih pada bilang gitu" ia menuang air putih lagi lalu meminumnya sampai habis
"Itu bulu mata bego! Receh lu"
Rana mengendikan bahu dan memilih memakan camilan yang dibawa Riko. Sedangkan Riko hanya mendumal tidak jelas.
Rana melirik jam tangannya yang tergeletak di meja. Pukul 15.00. Rana pun mengambil kaos lalu memakainya, melingkarkam jam tangan di lengannya lantas bangkit.
"Ko, gue pulang. Udah sore mau belajar gue" ucapnya lalu mengambil pisang goreng dan memasukkannya ke dalam mulut.
"Hm" jawab Riko padat, singkat namun tidak jelas.
Rana berjalan keluar dari ruangan yang biasa digunakan Riko, Omnya dan dirinya ketika berlatih bela diri. Ya semacam ruangan olahraga pribadi. Omnya yang bernama Andri memang berprofesi sebagai pelatih Taekwondo. Namun selain itu omnya juga merangkap sebagai pengusaha yang menjual peralatan olahraga.
Jadilah ia diajak untuk menekuni bidang bela diri itu dan berlatih pada Riko. Dan sampai sekarang, sudah banyak medali yang diperolehnya berkat pertandingan yang selalu ia ikuti. Bangga? Tentu saja. Laki-laki itu bahkan terkenal di sekolah dan diluar sekolah.
"Pulang Ran?" tanya Lilis, bibinya yang sedang asik menonton drama korea di televisi.
"Iya bi" jawabnya lalu melenggang pergi. Jarak rumah Rana dan Riko sangat sangat dekat, hanya terpisahkan oleh halaman maka sampailah ke rumah Rana.
Sesampainya dikamar, Rana langsung merebahkan diri di ranjangnya. Melepas kaosnya dan melempar ke keranjang pakaian kotor.
"Bang!" teriak Fiya lalu meloncat ke ranjang. Rana terkejut.

KAMU SEDANG MEMBACA
Listen to The Rhythm of The Falling Rain
Fiksi RemajaDengarkan rintik-rintik hujan yang turun. Mereka menyampaikan pesan rindu Dari seseorang yang menangis tersedu atau bahagia terharu Dengarkan rintik-rintik hujan yang turun Kutitipkan rasa yang hanya kau anggap angin lalu Lalu terbang bersama debu-d...