Bab. 4

63 3 0
                                    

Anggadika Dimastara masih berkutat pada laptopnya, mencoba memastikan kesalahan-kesalahan pada proposal akhirnya. Ia akan segera menyelesaikan program student exchange nya di Aussie. Ia sudah meninggalkan Indonesia selama 5 bulan. Angga merindukan Indonesia, merindukan masakan ibunya, merindukan bayolan teman-temannya, semuanya. Namun, ada rasa ragu menjalar dihatinya. Semacam rasa cemas dan takut. Ketakutan akan perbuatan celanya akan diketahui orang, terutama Senja.
"Hei, Angga. What do you think about?"
Seorang gadis berambut pirang, berkulit putih pucat, campuran keturunan Amerika-Indonesia, namun lebih mendominan wajah Amerikanya, masuk ke kamar Angga. Gadis itu merebahkan dirinya diatas kasur milik Angga. Memejamkan mata lalu bergumam,
"I'll be miss you so bad, babe. Are you will come back for me? I'll be miss your smell, your eyes, your smile, and all about you. Promise me?"
"I don't know, Claire. Don't ask me, i can't promise but i'll try. Aku mencintaimu, Claire." Angga tersenyum padanya, dan gadis itupun memeluk Angga seerat mungkin, berharap ia takkan pergi ke Indonesia dan sesegera mungkin melupakan Senja dan memilihnya untuk selamanya. Lupakan saja Senja, dia hanya gadis kikuk dan bodoh. Batinnya.
"Okay, babe. Selesaikan acara berbenahmu dan pergilah ke dapur untuk makan malam." Perlahan Claire pergi menjauh dari kamar Angga, hingga sosoknya hilang dari pandang.
Angga menutup laptopnya, lalu menelungkupkan wajahnya di antara kedua tangannya. Gemuruh kekesalan membara dibenaknya. Ia memukul-mukul kepalanya dan bergeming,
"I'm sorry, Nja. Aku bukan pria yang baik buat kamu. Aku sudah mengkhianati kamu. Aku bodoh karena tergoda hasratku oleh pesona Claire. I'm so sorry, Senja. Senjaku yang malang."
Di sisi lain, Senja sedang sibuk menonton televisi. Ia menikmati acara televisi sambil melahap kentang goreng buatan Sarah, ibunya.
Sesekali ia tertawa, lalu melonjak kaget dan bergeming sendiri. Itulah hal-hal yang disukai Senja saat asyik menonton siaran drama korea favoritnya. Kali ini, ia lebih memilih posisi tidur dan kaki diangkat ke atas sofa.
"Anja, ini sudah malam. Mau sampai kapan kamu nonton tivi terus? Eh itu kakinya nggak kayak gitu, kamu itu cewek, Senja." Sarah menggeleng sekaligus heran dengan kelakuan putrinya itu. Mau di apa-apakan pun, Senja tidak akan berkutat dari sana. Paling-paling ia hanya menjawab, "iya, bun", " oh bentar.", atau yang paling parah ia hanya diam saja. Ngeyel.
Suara motor bergemuruh terdengar dari arah garasi, menandakan si pemilik motor itu baru saja pulang dari kuliah malamnya. Senja terperanjat, ia segera berlari menuju ke arah garasi, tanpa memperdulikan lagi tontonannya. Kalo soal sosok itu, Senja memang akan luluh dan melupakan segalanya.
"Kak Niko udah pulang? Jam segini? Kurang malem, kak. Kakak tau, aku udah nunggu dari jam 8, sampe gue bosan terus makan semua kentangnya. Telat, kak Niko nggak usah marah. Itu salah kak sendiri. Fine? So happy laper ria." Senja mendumel panjang pada Niko, kakaknya itu. Sudah kebiasaan apabila yang akan mendumel itu Senja, bukan Sarah. Senja akan berbicara panjang lebar jika kakaknya itu pulang telat, atau tidak membawakan barang titipan Senja.
Niko. Ia adalah kakak angkat Senja. Sarah menemukan Niko yang tengah menangis di kuburan sendiri, tepat diatas makam ayah dan ibu kandungnya. Sarah mengerti apa yang dirasakan Niko. Niko hanyalah anak kecil yang sendirian karena ditinggal kepergian orangtuanya karena sebuah kecelakaan naas yang menimpanya. Akhirnya, Sarah membawa pulang Niko dan mengadopsi sebagai anaknya. Semenjak itu Niko menjadi sosok kakak bagi Senja. Waktu itu, Niko baru berusia 5 tahun, dan Senja barulah bayi kecil yang berusia 3 bulan. Masih merah dan sangat kecil. Niko sangat girang melihat Senja kecil yang terlihat menggemaskan. Ia sering menimang-nimangnya serta mengecup pelan kening mungil milik Senja. Bahkan, Niko pernah berkata, "Ibu, aku bakal jagain adek sampe aku nanti nyusul mama papa aku." Kasih sayang Niko itu terbukti sampai sekarang, apapun yang diinginkan Senja, ia akan menurutinya. Apapun yang terjadi pada Senja, Niko akan selalu ada disampingnya. Menemaninya disaat apapun, menjadi sayap pelindung bagi adik kesayangannya itu.
"Anja, adik paling cerewet yang sampai sekarang nggak bosen-bosen nonton drama korengan. Bocah gembul." Niko mengelus puncak kepala Senja lalu mencubit pipinya.
"Drama Korea, Kak. Bukan korengan."  gerutu Senja.
"Hahaha, abis film alay cengeng kayak gitu kok ditonton. Mending nonton film horor kayak Insidious." Niko melenggang ke arah kamarnya.
"Hah, didatangin hantunya baru tau. Hiihhh.." Senja menakut-nakuti kakaknya itu dengan menirukan tingkah hantu dalam film Insidious.
"Kakak nggak takut,  lo tau apa yang lebih serem daripada hantu?"
"Apa emang?"
"Senja Alkhaira lagi ngamuk plus mendumel dihadapan seorang pangeran tampan, Niko." Niko pun akhirnya terkekeh dan menutup pintu kamarnya.
"NIKO JAHATTT!!!!" Senja berteriak kencang dan mengerucutkan bibirnya.
Senja berlari ke kamarnya, mengambil handphonenya lalu mengetik kata "Angga" di layar hpnya.
Ia mengirim sebuah pesan berisikan, 'Heh, aku sebel sama Kak Niko yang bilang aku lebih horor dari hantu. -.-'
Senja kembali menatap layar hpnya, membuka multichatnya dengan Ara, Leoni, dan Ares.
Senja: Eh lo pada mau nemenin gue jemput Angga nggak besok?
(ti)ARA: Gue mah ogah -_-
Leoni: Gue sih serah lo pada
Coren: ANGGA BESOK BALIK??! GILA TUH ANAK AKHIRNYA INGAT NEGARANYA. GUE KIRA DIA LUPA INDO.
Senja: Capslook lo jebol? Dia nggak segitunya kale -_-
Leoni: Ah lo kan ngebela si Anggur, Nja.
(ti)ARA: 2
Senja: So, gue harus ngelawan dia gitu? Ntar dipegat, mati gue :"(
Coren: Masih ada gue, Nja. Gue mau kok sama elo walau TERPAKSA. :")
(ti)ARA: Kepaksa atau emang demen, Res?
Leoni: Gue sih nggak yakin kalo Ares kepaksa xD
Senja: ........
Coren: .......
(ti)ARA: Aelah, Ares malu malu kayak tai kucing
Leoni: Hahaha dasar Ara mak comblang :v
Senja: 2
(ti)ARA: Gue sering nyomblangin orang, kok gue sendiri kagak ada yang mau ya? :((
Senja: Karma lo, Ra. Rasain lo :P
(ti)ARA: -______-
Leoni: Hah, skakmat lo, Ra.
Coren: Gue udah bilang apa, Ra. Lo itu keseringan nyomblangin orang dan lo kena kutukan jomblo ngenes. Happy Joner, Ara xD
Senja: 2
Leoni: 3
(ti)ARA is offline.
Senja is offline.
Senja masih saja terkikik dengan obrolannya dengan ketiga makhluk itu. Sejak SMP, Ara adalah tipe cewe yang sering gonta-ganti cowo, tiap bulan dia udah ganti pacar kayak ganti sepatu. Nyari bentar doang, eh langsung dapet kayak nyari kucing. Ara memang tipikal cewe memesona dengan segala kecantikan dan pesona yang selalu ia tebarkan ke cowo-cowo yang menurutnya tampan dan tajir.  Sedangkan Senja? Ia hanya tipe gadis yang lebih memilih diam saja dan sekadar tawar senyum jika disapa saja. Kalo nggak disapa, ya buat apa tebar senyum? Nggak ada gunanya, gue bukan Ara. Batinnya.
Namun semenjak bertemu dengan Angga, ia mulai mengubah pemikiran itu. Ia berubah menjadi seorang gadis yang selalu tersenyum, namun teruntukkan hanya untuk menarik perhatian Angga. Lalu setelah mereka resmi berpacaran, Senja kembali pada pemikiran awalnya dan ia menetapkan bahwa prioritas senyum pesonanya hanya untuk Angga seorang, tidak untuk yang lain. Senja yang malang, ia tak mengetahui bahwa Angga kesayangannya kini telah berkhianat darinya, ia sudah berpaling pada Claire.

Uhehehehe, bonus pap nya si Angga ya guys, semoga kalian bisa berandai-andai jadi pacarnya si tamvan itu 😆😂😂
Kao Jirrayu La-Ongmanee as visual Anggadika Dimastara

HUJAN DAN SENJATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang