"Kamu tahu hal apa yang aku benci dari hidup ini? Ah, disaat aku butuh sosok teman namun, tak bisa terengkuh. Aku ingin berbagi, tapi pada siapa?"
***
TUBUH Nilam kaku. Lidahnya terasa kelu. Tatapan matanya kosong, memburam dan didetik selanjutnya setetes air mata jatuh mendarat dipipinya diikuti beberapa air mata lagi yang siap meluncur.
Rasanya Nilam sudah tak sanggup menahan bobot tubuhnya, kakinya lemas membuat dirinya terduduk dengan gerakan dramatis.
Kenapa cobaan demi cobaan terus berdatangan pada cewek itu. Kenapa harus Ayah yang terbaring disana. Nilam tak kuasa melihat wajah pucat Ayah dibubuhi berbagai macam selang.
Perasaan baru tadi pagi Ayah menyapanya, baru beberapa jam lalu Nilam mencium tangan Ayah untuk pamit bekerja. Secepat mata berkedip kini Ayah sudah tidak berdaya. Jantung Nilam seperti berhenti berdegup, pasokan udara di rumah sakit pun seperti kosong.
"Ayah, nggak pa-pa 'kan, Bu?" Ibu terduduk menyamakan tinggi dengan putrinya. Mencengkram erat bahu Nilam, memberi kekuatan agar putrinya bisa sedikit tenang.
"Berdoa aja, sayang." lirihan Ibu seakan menghunus jantung Nilam. Cewek itu merasa hidupnya tak adil, karena setiap cobaan pasti datang hanya pada keluarganya. Jujur, Nilam capek hidup seperti ini.
"Kenapa semesta nggak adil sama kita, Bu."
Ibu mengusap lembut rambut Nilam lalu mendekap putrinya. "Nggak boleh ngomong gitu. Setiap manusia punya jalannya sendiri buat bahagia. Mungkin jalan kebahagian kita harus melewati cobaan dulu. Tuhan nggak akan kasih cobaan melampaui batas kemampuan umatnya." kata Ibu lembut namun, penuh dengan petuah-petuah yang membuat Nilam sadar dan membenarkan ucapan beliau.
"Dari mana kita bisa bayar pengobatan, Ayah?" Ayah sudah sejak lama terkena hipertensi, pembuluh darah di otak Ayah nyaris pecah --karena, Ayah terjatuh dikamar mandi-- jika tadi Ibu tidak buru-buru membawanya kerumah sakit. Kini Ayah terkena stroke. Lengan bagian kiri Ayah sudah tidak berfungsi baik, Ayah harus sering-sering melakukkan terapi jika sudah sadar nanti dan itu semua tidak membutuhkan biaya yang sedikit.
Ibu tersenyum, "Rezeki datangnya dari mana aja. Allah pasti kasih rezeki untuk keluarga kita." kata Ibu membuat hati Nilam sedikit tenang.
Nilam ingin seperti Ibu yang selalu tersenyum meski beribu cobaan menghampirinya, bersyukur dengan segala yang Tuhan berikan, tegar, kuat. Ah, Ibu memang bidadari dalam keluarga. Tanpa Ibu mungkin cewek itu tak sanggup hidup, tanpa Ibu hidup Nilam berantakan.
Begitu pun Ayah, beliau sosok pigur yang amat penting dikehidupan Nilam tentu setelah Ibu. Beliau yang mengajarkan Nilam arti hidup, arti dunia yang kejam ini. Ayah, laki-laki pertama yang Nilam cintai dalam hidupnya, Ayah cinta pertamanya yang tak pernah membuat cewek itu patah hati.
Nilam ingin Ayah kembali sembuh, berkumpul kembali bersama mereka dirumah.
"Kamu pasti belum solat isya, kan?" pertanyaan Ibu dibalas dengan anggukan oleh Nilam, "Biar hati kamu tenang, solat dulu gih. Minta kesembuhan sama Allah untuk Ayah." Nilam mengangguk, menghapus air matanya, bangkit dan bergegas ke mushola.
***
Di sepanjang koridor tak ada senyuman yang terbit dari bibir Nilam. Cewek itu berjalan dengan wajah murung, ada lingkaran hitam dibawah matanya yang tampak sembab.

KAMU SEDANG MEMBACA
Forgive My Heart
Teen FictionDimulai dari Dimas yang menghampiri ke tiga remaja yang tengah mengobrol. Memberi sedikit sapaan dan senyuman. Membuat Nilam dan Aulia seakan terpesona dengan sosok Dimas. Berbeda dengan Ifya, Cewek itu merasakan sesuatu yang mengganjal. Persahabata...