Chapter 7 : Reverse

438 43 11
                                    


Writer POV

"Dimana Jose?" Alex bertanya kepada kakaknya sesaat dia sampai di box repsol.

"Sedang menjemput Alara" Jawab Marc yang sedang mempelajari print out track sirkuit Sachsenring.

"Ah iya Alara, dimana gadis itu?" Tanya Alex lagi.

Marc memejamkan matanya menahan emosi untuk menempeleng adik satu-satunya itu tak bisa dipungkiri bahwa Alex sedikit tulalit.

"Kan aku bilang Jose sedang menjemput Alara, berarti baik Alara ataupun Jose tidak sedang disini." Jawab kakaknya itu.

"Aku juga tidak bodoh Marc, yang aku maksud kemana Jose menjemput Alara?" tanya Alex lagi, sewot.

"Kenapa kau ingin tahu sekali? Alara masih di hotel." Jawab Marc yang mulai kehilangan konsentrasi kepada papan kerja di hadapannya.

"Aku harus meng-update instagram dan aku butuh Jose" Jawab Alex tak sadar kakaknya sangat ingin menerkamnya saat itu juga.

"Demi tuhan." Marc hanya menggelengkan kepalanya sedangkan Alex hanya tersenyum.

"Tapi Marc, apa kau dan Alara memang pacaran? Setelah kuingat-ingat dia itu kan wanita yang kau tabrak waktu dibandara, bukannya kau terlihat sangat kasar padanya saat itu?" tanya Alex bertubi-tubi.

"Siapa yang suka dengannya? Aku hanya ingin main-main dengan gadis itu." Jawab Marc enteng.

"Kau sudah tak waras, sejak kapan kau jadi seperti ini? Dia Alara Torres—meskipun dia bukan seorang Torres tetap saja aku tak akan membenarkan sikapmu itu." Tak disangka Alex jauh lebih dewasa dari kakaknya.

Marc hanya terdiam, dia sendiri bahkan tak tahu apa sebenarnya yang dia inginkan dari Alara, menang darinya? Lalu apa lagi yang harus dilakukannya kepada gadis itu? Mencampakkannya? yah aku akan mencampakkannya! Batin Marc tapi untuk alasan apa aku harus melakukan itu kepadanya? Tambah suara itu lagi ragu.

"Aku juga tidak tahu Lex, aku hanya ingin membuatnya sadar karna telah meremehkanku." Jawabnya jujur.

"Bagaimana jika itu hanya alasanmu? Bagaimana kalau sebenarnya kau benar-benar menyukainya?" tambah Alex lagi.

"Tidak mungkin, dia tak lebih dari sebuah permainan." Jawab Marc sambil tertawa angkuh.

"Marc.." panggil Jose yang telah berada di pintu box yang hanya berjarak beberapa langkah dari tempat Marc dan Alex duduk, dia menatap pebalap sekaligus temannya itu dengan tatapan horor sedang Marc menatap lurus kebelakang Jose dimana Alara terdiam mematung.

Alara masih terdiam, darahnya seakan mengumpul dikedua pipinya dan kapan saja siap meledak, dia bingung harus merespon seperti apa, seharusnya hal ini bukan masalah besar baginya malah sesuatu yang cukup menyenangkan tahu bahwa Marc hanya menganggapnya tak lebih dari sebuah permainan, tetapi tetap saja mendengar kata-kata itu langsung dihadapannya membuat Alara sulit bernapas, dan hatinya terasa ngilu ntah karna kata-kata dari ucapan Marc atau ekspresi Marc yang begitu enteng mengucapkannya seakan dia hanya gadis tolol dihadapan lelaki itu. Beberapa detik berlalu tak ada satupun dari mereka yang tahu harus melakukan apa, Alex dan Jose bertukar tatapan lirih ntah untuk Marc atau Alara sedangkan Marc menunduk tak berani menatap siapapun.

"Aku permisi ke toilet." Ucap Alara dengan senyuman pilu yang akhirnya memecahkan keheningan, gadis itu berbalik bersiap untuk meninggalkan tempat itu sesegera mungkin.

Alara berjalan dengan cepat sambil memperingatkan dirinya untuk tidak menangis aku tidak akan membuang sebulir air mataku untuk bajingan itu! Don't you dare Alara! Perintahnya dalam hati

The Slipstream ( Marc Marquez Fan Fiction)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang