Paginya, aku malas untuk turun kebawah mengingat masalah kemarin, mengenai ketidak percayaan ibu dan ayah.
Aku memaksakan untuk turun, dari sini terlihat ayah,ibu,dan Mba Okta sudah duduk kursi meja makan.
"Sarapan dulu, nak. Mau roti atau nasi?", tanya ibu yang masih duduk dikursi roda. Aku tidak menjawab. Hanya menyaut roti dan pergi ke sekolah tanpa berpamitan dan tanpa diantar.
"Sayang, kamu mau kemana?", ayah mengejarku. Aku tetap diam dan keluar rumah.
Aku berhenti sejenak. Menoleh pintu rumah, ayah sudah tidak mengejarku. Dalam benakku terselip kekecewaan karena ibu dan ayah tidak mempercayaiku, terselip pula perasaan bersalah karena aku mendiamkan mereka serta pergi ke sekolah tanpa berpamitan. "Ah sudah lah toh agar mereka sadar", kataku dalam hati.
❤❤
Sesampainya di sekolah aku menatap ponselku. Ada 3 pesan masuk dari Mba Okta , "elu kenapa dek?", kata dia dalam pesan singkat. Aku memilih untuk tidak membalas.
"Muka lu belum disetrika? Kusut amat", ejek Bianca. "Diem lu!", jawabku. "Jiah lagi emosi. Ga ganggu deh", Bianca mengerti.
Selama jam sekolah, aku diam saja sampai pulang. Dirumah, kudapati ibu dan ayah serta Mba Okta duduk di ruang tamu. Aku tidak menyapa mereka, melewatinya untuk memasuki kamar tetapi ayah mencegahku.
"Ivona. Kamu kenapa sih?", tanya ayah. "Ngga papa.", aku memandang ke arah lain.
"Jangan bohong, Ivona. Pasti kamu marah karena ibu dan ayah tidak percaya mengenai kegiatan camping itu?", tanya ayah. "Aku ngga marah kok, cuma kecewa aja.", jawabku cuek.
"Maafkan ibu, sayang. Bukannya ibu tidak mempercayaimu. Tapi ibu hanya waspada saja. Ibu tidak ingin kamu kenapa-napa.", ibu mendekatiku menggunakan kursi rodanya kemudian memelukku. Aku membalas pelukannya.
"Vona tahu, bu. Maafkan Vona karena terlalu sensitif", kataku sambil mencium kening ibu.
"Sekarang, ibu sudah percaya tentang kegiatan camping itu, karena tadi ibu sudah menelpon Bu Rini.", ibu tersenyum.
"Syukurlah jika ibu sudah mempercayaiku.", batinku. "Apakah ibu mengizinkanku untuk pergi camping?", tanyaku ragu.
"Tentu saja, sayang. Okta, tolong bantu Ivona berbenah. Ibu kan belum boleh berjalan", kata ibu. "Siap bu, beres. Ayo Vona ke atas", ajak Mba Okta.
❤❤
"Aduh duh Ivona, kok kamu bawa baju kaya gitu? Kalo mau pake kaos merah, kamu cocoknya pakai celana jeans. Kenapa pake training gini? Engga mecing ah", omel Mba Okta.
Mba Okta memang selalu memperhatikan style. Dia terlalu modis.
"Biarin ah mba. Yang penting nyaman kan", jawabku cuek. "Ngga hitz Ivona. Nurut kata mba napa. Bawa nih jeansnya", Mba Okta menjejalkan celana jeans ke tas ranselku.
"Ya ampun ini ketat banget mba. Aku ngga mau pake. Titik", kataku mengeluarkan celana jeans dari ranselku.
"Ngeyel kamu dek. Yaudah sih terserah kamu.", Mba Okta mengacak-acak rambutku.
Aku tidak suka berbenah bersama Mba Okta karena dia terlalu rempong, terlalu memperhatikan style. Macam Ivan Gunawan saja. Ah!
❤❤
"Dah siap.", aku mensleting ranselku. "Yakin udah ngga ada yang ketinggalan?", tanya Mba Okta. "Insha alloh engga mba", jawabku. "Okelah", kata Mba Okta
❤❤
Hari ini Kepsek/Bu Atun menyuruh kami untuk berangkat sekolah, namun pulang lebih awal, untuk persiapan camping. Aku tak membawa tas.
"Udah siap semua, Von?", tanya Bianca. "Udah dong. Elu?", aku menanya balik. "Udah juga.", jawab Bianca. "Oke deh", aku menyatukan jari jempol dan telunjukku membentuk huruf O.
Datanglah Pak Mujib.
"Selamat pagi. Saya hanya ingin mengingatkan bahwa besok tidak usah membawa makanan dikarenakan kalian sudah mendapat anggaran dari sekolah. Ya, sekian. Kalian boleh pulang. Selamat pagi.", Pak Mujib keluar kelas.
"Pengumuman macam apa itu?", kata Dio. "Ayah lu tuh", ejek Pram. "Enak aja. Ayah lu tercinta!", balas Dio sambil menjitak kepala Pram.
"Gelang sipatu gelang. Gelang siramai ramai. Mari pulang marilah pulang. Marilah pulang. Bersama sama"
"Hahazek. Balik yuk, Pram?", ajak Dio. "Elah labil lu! Tadi ngejek gue. Sekarang ngajak balik bareng.", gerutu Pram. "Oh gitu? Lo pengin jalan?", sindir Dio. "Canda ah, Di. Sensi amat. Yuk balik", kata Pram merangkul Dio.
Pram memang selalu nebeng Dio. Maka dari itu, jika Dio membolos, Pram terpaksa harus berjalan sampai rumahnya yang lumayan jauh, sekitar 1 KM.
Aku yang melihat tingkah teman sekelasku hanya menggeleng dan tersenyum saja. Segerlah aku keluar kelas untuk pulang, sendirian, tanpa teman. Perlu diingat bahwa aku pemberani, tidak tergantung kepada teman!
❤❤
Dirumah, sudah banyak sekali makanan ringan.
"Ibu, banyak sekali jajannya. Untuk siapa saja?", tanyaku heran. "Tentu saja untuk camping kamu", jawab ibu. "Banyak banget bu, kayaknya ransel Vona ngga muat deh?", elakku.
Aku memang tidak suka makanan ringan, karena tidak mengandung gizi, "menimbulkan penyakit saja", kataku.
"Ya sudah. Sebagian untuk Mba Okta ya. Bawa ke atas gih. Buat camilan sambil nonton drakor kan asik", kata ibu.
Ibu sudah hafal kebiasaanku dengan Mba Okta setiap sore, yaitu menonton drakor atau drama Korea.
❤❤
"Wih banyak banget ntu jajan. Buat gue ya?", tanya Mba Okta segera beranjak dari tidurnya.
"Iya. Bagi dua.", kataku sambil meletakkan seluruh jajan yang ku bawa ke atas ranjangku.
"Kamu mau pilih yang mana aja?", tanya Mba Okta. "Roti-rotian aja deh mba. Jajanan ciki buat elu aja", jawabku.
"Pola makan sehat ceritanya", Mba Okta menyikutku. "Iya dong. Biar badannya ngga melar kaya elu! Kabur..", ejekku kemudian lari keluar kamar.
BERSAMBUNG
Salam,🙏

KAMU SEDANG MEMBACA
My Junior High School Story
Teen FictionThis Monday!. Kringg... Alarm doraemonku berdering menandakan pukul 5. Aku segera bangun dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk berwudhu karena sekarang sudah waktunya shalat subuh. Namaku 'Ivona Zahrah' . Hari ini adalah hari pertamaku menjadi...