"Dia gadis yang baik..."
Sesaat Paris mengalihkan pandangannya dari cermin. Dia tidak tahu bagaimana caranya menghilangkan bekas luka diwajahnya saat masuk kampus besok. Dalam benaknya sudah bersarang semua kekesalan yang bermuara pada satu nama. Emmanuel. Untung anak itu tidak menampakan lagi wajahnya di rumah atau Paris benar-benar akan membunuhnya.
"Begitulah."
Acancia menghela napas. Dia tahu Paris sedang kesal. Berulang kali lelaki itu meyakinkan ayahnya untuk tidak melarangnya berhubungan dengan Daniella, namun Ben tetap pada penolakannya. Paris tidak mengerti mengapa ayahnya sampai secepat itu menarik kesimpulan terhadap gadis pilihannya. Padahal sebelumnya Ben kelihatan setuju bahkan antusias ingin dikenalkan dengan Daniella. Sekarang semua berantakan. Sumbernya tidak lain adalah satu nama. Emmanuel.
"DImana anak itu?"
Mimik Acancia berubah. Dia membuka mulutnya tetapi menutupnya lagi. Langkahnya untuk duduk segera ditahannya.
"Kenapa?" Paris memerhatikan gelagat mundur dari wanita muda itu. Acancia menggeleng pelan. Sesaat Paris menatap mata Acancia kemudian memandang ke arah bangku panjang dekat lemari yang kosong, barulah Acancia berani mengambil posisi duduk. Selama ini dia tidak pernah berhak menginjakkan kaki dengan leluasa dalam kamar lelaki itu tanpa izin pemiliknya.
"Tadi... saat kau bicara dengan Ben, kulihat diluar Manuel sudah membawa gadis itu pergi,"
"Aku tahu." gumam Paris sebelum melarikan tangannya untuk melepas ikatan dasinya yang semraut. "Anak sialan itu dan semua rencananya. Kukira dia sudah berhenti. Tetapi sepertinya belum..."
"Apa maksudmu?"
Paris menarik napas panjang. Tubuhnya dijatuhkan pelan ke atas kursi kerjanya. "Emmanuel selalu mengancam Daniella. Karena dia tahu Daniella sedang bersamaku, makanya dia bertindak nekat."
"Itu alasanmu tidak mau melepas gadis itu..."
Kerutan pertama muncul di dahi Paris. Dia menatap tajam ke arah Acancia yang sedang memerhatikannya dari seberang. "Dia gadis baik-baik Monic. Kau sendiri bisa melihatnya kan? Bagaimana mungkin aku melepasnya untuk Emmanuel. Lagipula anak itu tidak benar-benar serius dengan Daniella. Dia hanya memanfaatkan gadis itu karena tahu aku menyukainya."
"Darimana kau tau Manuel tidak serius?"
Paris menahan napas sebentar. Entah mengapa dia merasa Acancia seperti ingin menguji ulang emosinya malam itu. Sisi lain dalam diri Paris mengingatkannya bahwa orang seperti Acancia tidak pernah tahu apapun, jadi pertanyaan semacam itu sudah pasti akan diberikannya bila posisi mereka tertukar. Dan Paris memilih pilihan terakhir. Menggunakan akal sehatnya, tanpa melibatkan emosi lagi.
"Karena sebelum ini anak sialan itu pernah meminta Daniella menjadi pacarnya. Kemudian mereka putus begitu saja. Itulah yang membuatku akhirnya bisa mendapat kesempatan bersama Daniella sekarang, tetapi bajingan kecil itu kembali merusak semuanya."
Kali ini Acancia tidak punya satu kata pun untuk diucapkannya. Mendengar semua dari mulut Paris mau tak mau membuatnya hanya bisa menggeleng ajaib. Pengakuan Paris barusan jelas menunjukkan bahwa Emmanuel tidak pernah ketinggalan cara untuk mengacaukan semua usaha lelaki itu untuk mendapat gadis incarannya. Bila kenyataannya Acancia berada dipihak Emmanuel, dia pasti akan senang mengetahui keberhasilan strategi anak itu.
Sayang Acancia tidak punya hak untuk menjatuhkan keberpihakan pada siapapun. Walau dia sering mendengar Paris tidak berarti dia setuju dengan semua yang lelaki itu buat.
"Monic..."
"Ya?"
"Ada yang kauingin katakan?"

KAMU SEDANG MEMBACA
Better Enemy
RandomEmmanuel Juan adalah musuh abadi Paris. Dia akan melakukan apapun agar bisa melihat kembali luka dimata sang kakak atas kesalahan dimasa lalu keduanya. Termasuk menyeret Daniella mahasiswi idaman sang kakak ke dalam pusaran permainannya. Dia berhara...