Saat ini aku dan Shin berada di dalam sebuah lift, yang akan menuju kamar kami. Kamar kami berada di lantai 3.
Jantung ku terus berdegup dengan kencang, setiap kali aku membayangkan jika aku akan tidur satu kamar dengan seorang pria yang kini telah resmi menjadi suamiku.
"Tinggg...!!!".
Suara lift membuyarkan lamunanku. Shin berjalan lebih dulu dan aku mengikutinya dari belakang.
Kamar kami berada di dekat lift. Saat memasuki kamar sudah banyak bunga mawar serta lilin yang di tata rapi seindah mungkin.
Yaa tentu saja kamar ini di dekor khusus untuk pasangan yang ingin menikmati malam pertama mereka.
'Tungguuuuu...!!! Malam pertama??'.
Otakku baru bisa kembali berfungsi. Aku baru ingat bahwa aku baru saja menikah. Dan otomatis kamar ini memang di tata khusus untuk aku dan Shin menghabiskan malam pertama kami.
Wajah ku terasa memanas mengingat hal itu. Aku mencoba mengalihkan pikiran negatifku mengenai malam pertama. Tetapi sial, mata ku dan Shin malah saling bertemu.
Shin berjalan ke arahku dan membuat seluruh tubuhku mematung seperti orang bodoh.
Shin semakin menepis jarak yang ada diantara kami. Pasokan oksigen seakan menipis.
"Sebaiknya kau membersihkan dirimu dulu".
Aku hanya mengangguk padanya. Bibir ku terasa sulit untuk berbicara saat ini. Shin tersenyum singkat lalu pergi meninggalkanku.
Tanpa banyak berpikir aku langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan membuang jauh-jauh pikiran kotorku.
Tidak hanya kamar tidur saja yang di tata dengan indahnya. Bahkan kamar mandi ditata sedemikian rupa. Banyak bunga-bunga dan lilin yang di susun berbentuk hati pada lantai dan juga bath tub.
Akhirnya badanku sudah lebih segar dari sebelumnya. Tetapi aku baru ingat, saat aku ke kamar mandi aku lupa untuk membawa pakaianku. Hal hasil aku masih bertelanjang di dalam kamar mandi.
Aku mencoba mengedarkan pandangan kesegala arah, berharap adanya suatu ke ajaiban. Sangat tidak mungkin aku keluar tidak mengenakan apapun.
Beruntung, sebuah jubah mandi tergantung di samping pintu sehingga aku bisa terselamatkan.
Saat keluar dari kamar mandi aku melirik ke arah Shin yang duduk di atas sofa sambil menonton tv.
Tuxedo yang sebelumnya ia kenak kan sudah di lepas dan dasi yang sebelumnya di pakai telah di kendurkan.
Shin sadar atas kehadiran ku dan dia menatapku.
"Kau sudah selesai??".
"Hmm iyaa, kau sudah bisa mandi".
Entah setan apa yang merasuki ku saat ini. Lidahku sangat keluh untuk berbicara. Hal itu pasti membuatku semakin terlihat bodoh di depan Shin.
Saat melihat Shin yang telah masuk ke dalam kamar mandi. Aku langsung bergegas mencari pakaianku.
Aku melihat sekitar untuk memastikan kalau Shin, benar-benar sudah mandi. Karena aku takut dia melihat keadaanku yang sedang telanjang.
Untungnya saat Shin selesai mandi aku sudah selesai memakai pakaianku.
Saat ini aku sedang menonton tv tanpa minat dengan acara yang ada. Karena otakku masih di penuhi dengan hal-hal yang bisa terjadi kepada ku dan Shin. Mengingat ini malam pertama kami.
Aku mencoba tidak menghiraukan Shin yang berada satu kamar denganku. Karena aku takut saat aku melihatnya, aku akan gugup seperti orang bodoh.
Tetapi lagi-lagi, Shin malah datang menghampiriku dan duduk tepat di sampingku.
Shin terlihat santai dan tidak menghiraukan situasi yang terjadi saat ini.
"Acara hari ini sungguh melelahkan, benarkan??".
Aku mencoba mengontrol tubuh serta detak jantungku, agar terlihat biasa saja di depan Shin.
"Yaa begitulah".
Malam ini aku dan Shin tidak tidur di atas tempat tidur yang sama. Aku tidur di atas tempat tidur dan Shin tidur di atas sofa.
Sebenarnya aku tidak tega melihatnya yang tidur di atas sofa, tetapi mau bagaimana lagi. Shin bersi keras tidak mengizinkanku tidur di atas sofa. Karena menurutnya lelaki lah yang harus mengalah.
Dia benar-benar terlihat biasa saja denganku yang tidur dalam satu kamar dengannya. Mungkinkah dia memang tidak tertarik kepadaku??.
Aku dan Shin check-out dari hotel sekitar jam 12. Hari ini kami ingin langsung mengemasi barang kami untuk segera pergi ke Singapura.
Sebelumnya kami telah meminta izin kepada kedua orang tuaku serta ibunya Shin untuk tinggal di sana.
------------------------------------------------------
SingapuraSeperti yang telah kami rencanakan sebelumnya. Setelah menikah aku dan Shin tinggal di sebuah apartemen yang berbeda.
Aku tinggal di apartemen yang sebelumnya di tempati oleh Shin, dan sekarang menjadi tempat tinggalku. Shin tinggal di apartemen yang jauh dariku.
Di dalam apartemenku terdapat 2 buah kamar tidur dengan masing-masing kamar mandi di dalamnya.
Satu kamar berfungsi untuk kamar tidurku dan yang satu nya untuk kamar tamu. Tetapi kamar tamu tersebut juga berfungsi sebagai kamar Shin yang sesekali ingin datang ke apartemenku untuk menemui ku.
Shin menunjukkan kepadaku dimana kafe tempatku akan bekerja. Dia juga mengarahkan kepadaku tentang pekerjaanku yang kini telah berubah menjadi pemilik sebuah kafe.
Shin mengajarkanku apa-apa saja yang harus aku pelajari dan aku ketahui untuk menjalankan bisnis tersebut.
Sebelum terbiasa dengan tempat kerja dan lingkungan yang baru. Shin membantuku dalam segala hal. Agar aku tidak kesulitan dan terbiasa dengan bisnis yang baru pertama kali aku jalankan.
"Jadi kau sudah mengerti Dizta??".
"Lumayan Shin".
Saat ini kami berada di dalam kefe tempat aku akan bekerja sebagai pemilik kafe nantinya.
"Kalau kau kesulitan dalam pekerjaan. Rista menejer kafe ini akan membantumu".
Shin mengenalkanku kepada seorang wanita yang berprofesi sebagai menejer di tempat aku bekerja.
"Perkenalkan namaku Rista".
Rista memiliki wajah yang cantik dan dia berdarah melayu. Aku harap aku dapat bekerja sama dan berteman baik dengannya.
"Namaku Dizta".
Aku memberikan senyuman terbaikku kepada semua orang. Rista memperkenalkanku dengan seluruh karyawan yang bekerja di kafe.
=Jangan lupa saran dan masukkannya ya readerss ヽ(^。^)丿=

KAMU SEDANG MEMBACA
I Hope You Love Me [FINISH]
Lãng mạnAku tidak pernah menyangkah bahwa hidupku akan penuh dengan teka-teki seperti ini. Kehidupan yang selama ini aku bayangkan tidak sesuai dengan kenyataan yang ada, ketika aku harus menebak-nebak perasaan pria yang telah tinggal bersamaku. Hii Reader...