Happy Reading & Enjoy All
"Ya ampuuun, anak Mama yang cantik udah pulang..." Mama berseru senang saat melihat anak bungsunya datang meski wajahnya sedikit ditekuk. "Ya ampun, ada angin apa ya sampe anak Mama yang cantik ini mau pulang? Biasanya juga ke apartemen dan lupa rumah."
Itu sindiran yang membuat Ana menghela nafas.
"Ana baru pulang Ma, seharusnya ditanyain udah makan apa belom, bukannya disindir kayak gini."
"Ya abisnya, kamu jadi anak nyebelin. Mentang-mentang udah punya apartemen, rumah tua Mama sama Papa langsung dilupain."
"Ya kan lebih deket sama rumah sakit, daripada jauh terus ada apa-apa di jalan?"
"Hussh... mulutnya kalo ngomong!" sembur Mama marah.
Ana tersenyum dan mendekat.
"Assalamualaikum Mamaku yang cantik..." sapanya lalu mencium tangan perempuan yang sudah melahirkannya itu.
"Waalaikum salam, udah makan belom?" Ana menggeleng, lalu sang Mama langsung menggiring Ana untuk masuk.
"Mas Ilham mana? Kok sepi sih?" Ana bertanya karena bingung. Sekarang dia ada di dapur dengan Mama yang tampak sibuk mengambilkan lauk pauk untuknya. Ana tersenyum. Diusianya yang sudah kepala tiga ini Mamanya masih sangat memperhatikannya layaknya anak kecil.
"Biasa sih, kayak kamu gak tahu aja. Dia lagi telponan sama calon istrinya." Mama memberitahu sambil menghidangkan sepiring makanan penuh di hadapan Ana. "Makan yang banyak yah..."
Ana menyendok makanannya. Dikunyahnya pelan-pelan dan tersenyum cerah. Rasa masakan Mamanya tetap sama, tak ada bedanya.
"Gimana persiapan pernikahannya?"
"Lancar-lancar aja... semuanya beres dan tinggal nunggu akad doang." Jawab Mama dengan senyum sumringah. "Sebentar lagi Mas-mu menikah, kamu juga pasti bakal nyusul. Ah, ternyata anak-anak Mama udah pada gede-gede yaa..."
Ana melihat itu. Air mata Mama berkaca-kaca. Walau senyum yang Mama tampilkan mampu menipu, tapi tidak kepada Ana.
"Mama tenang aja, Ana gak akan nikah secepet itu kok. Ana bakal nemenin Mama sampe puas dulu, baru nikah."
"Ngomong apa sih kamu ini!" Mama menoel lengan Ana pelan yang membuat Ana merengut. "Mama malah pengen kamu cepet nikah, kamu tuh udah sepantasnya nikah. Liat temen-temenmu, udah pada gendong anak, kamu kapan?"
Ana memutar bola matanya. Kok kayak senjata makan tuan sih? Ana bilang seperti itu untuk menghibur Mama, tapi Mama malah mengungkit-ngungkit masalah kapan dia nikah.
"Kapan-kapan, Ma..." jawab Ana dengan malas-malasan.
"Kamu nih, kalo ditanyain soal nikah-nikah pasti jawabnya gitu. Gak baik perempuan gak menikah-menikah, nanti malah timbul perzinahan lho."
"Ya kalo gak ada calon memangnya mau gimana lagi?"
Mama memajukan tubuhnya. "Tapi masa gak ada calon sih? Laki-laki satu yang nyantol hatimu... masa gak ada satu pun?"
Dan pertanyaan Mama langsung mengingatkan Ana pada Fernando. Fernando yang sedang tersenyum tampan ke arahnya. Astagfirullah hal adzim... Ana langsung memasukkan sendok berisi nasi yang sebelumnya menggantung karena teringat pria itu.
"Gak ada, Na?" desak Mama.
"Gak ada, Ma!" jawab Ana cepat.
"Apa perlu Mama yang cariin? Kayaknya Mama punya kenalan deh ibu-ibu yang anak laki-lakinya ganteng, mapan, dan siap menikah."

KAMU SEDANG MEMBACA
It's Okay, That's Love
SpiritualCOMPLETED STORY - PRIVATE MODE Menikah? Anastasia Maharani tak terlalu memusingkan soal menikah. Baginya, menikah berada diurutan ke sekian. Prioritas utamanya saat ini adalah menyelamatkan nyawa seseorang. Meski sudah sering mendapatkan undangan pe...