"Gimana 'acara keluarga' ngerayain ulang tahun lo sama Leon?" tanya Senja yang terlihat penasaran sambil menatap raut wajah Leoni yang datar.
"Biasa aja."
"Biasa aja? Biasa tuh yang kayak apa? Pake acara hajatan terus prasmanan?"
"Ya, enggak gitu juga sih. Tapi, sumpah gue ngerasa bored banget. Leon juga. Semacam 'acara keluarga' tapi mama-papa ngundang teman kantornya." Leoni melipat tangannya, memerhatikan ekspresi Senja yang sepertinya tengah melamun.
"Woyy, sadar! Disini nggak ada hujan oppa!"
"Ehh, ya? Ya? Apa?" Senja tersadar dari lamunannya dan Leoni hanya menggeleng.
"Tadi lo bilang apa, Le?"
"Oppa."
"Sebelumnya?"
"Apa? Hujan?"
"Oh," jawab Senja tidak peduli sambil melempar pandangannya ke jendela kelas. "Gue kira apaan."
Dari awal Senja bertemu dengan Hujan melalui 'kejadian' tak disengaja, Leoni menyadari ada sesuatu yang berbeda dan baru pada diri Senja.
"Anja kangen bang Hujan, ya?" goda Leoni sambil menyenggol lengan Senja.
"Kangen siapa?"
"Halah, sok-sok nggak denger," jawab Leoni kesal.
Masalahnya Senja selalu bersikap naif apabila sedang membicarakan tentang Hujan. Leoni sebetulnya senang karena Senja akan membuka hatinya untuk seseorang yang menurutnya lebih bisa menjaga Senja daripada Angga. Leoni juga tahu keburukan apa yang kini sedang disembunyikan oleh Angga, tapi bukan saatnya ia mengungkapkan bejatnya Angga di depan Senja.
"Gue satu SMP sama bang Hujan," ujar Leoni tiba-tiba kepada Senja yang tengah santai meminum air.
"Benarkah? SMP mana?"
"SMP BUANA BRAWIJAYA, dulu Hujan itu kakak kelas gue."
"Terus?"
"Ya, lo mau denger sesuatu tentang Hujan, nggak sih?"
"Ya, terserah lo sih. Gue nggak masalah dengernya."
"Sebelum gue cerita, gue minta supaya lo tetap jaga rahasia ini buat kita berdua. Lagian ini juga biar lo tahu, siapa Hujan yang dulu dan sekarang."
"Gue janji," Senja melingkarkan jemari kelingkingnya di jemari kelingking Leoni.
"Hujan itu dulu pentolannya sekolah. Dia itu paling populer se-antero sekolah gue dan sekolah sekitar. Hujan itu terkenal sebagai badboy nggak jelas yang kerjaannya malakin orang dan suka berantem. Gue nggak tahu jelasnya gimana, tapi kelakuannya itu katanya ada sangkut pautnya sama pacarnya pas itu dan---"
"Hujan punya pacar? Mesti cantik, ya?" potong Senja saat Leoni baru serius-seriusnya cerita.
"Iya, pacarnya itu emang cantik. Malahan cantik banget, pake nget-nget deh. Pacarnya Hujan itu model plus ketua cheers, namanya Kayla Zeva Beatrixia Bosche. Lo bisa search dia di google, soalnya followersnya di setiap akun sosmednya itu bombastis banget. Dia keturunan Indo-Belanda. Mereka pacaran selama 2 tahun, dan pas kelulusan mereka putus---"
Senja diam, berusaha menyimak dengan baik yang akan dilontarkan sahabat di sebelahnya itu. Mimik wajah Leoni membuat Senja sadar bahwa sebenarnya Leoni ingin mengungkap kebenaran masa lalu Hujan yang tidak ia ketahui.
"Terus kenapa lo cerita semua tentang Hujan ke gue?"jawab Senja.
"Siapa tahu lo suka sama dia." jawab Leoni asal.
"Siapa bilang?" Senja memukul bahu Leoni, "Nggak mungkin gue suka Hujan."
"Serius gue, cinta itu datang nggak disangka-sangka!"
"Apaan, sih?" Senja melempar pandangannya dari Leoni. "Masalah Angga aja belum kelar, mana bisa gue kayak begituan?"
Leoni tidak menjawab, ia hanya menghela napas sambil berusaha untuk tidak menatap Senja. Kemudian Senja berdiri dari kursinya dan mengambil ponselnya dari saku, kemudian ia mengirim pesan pada Ares.
"Btw, Le, gue mau ke kantin dulu. Lo tunggu sini aja, ya?"
Senja meninggalkan Leoni di kelas, menunggu reaksi selanjutnya dari Ares. Kurang dari lima menit, Ares masuk ke kelas dan menghampiri Leoni. Mengetahui Ares ada disampingnya, Leoni membuka headset di telinganya.
"Ada apa, Res?" Leoni menaruh headsetnya di tasnya lalu menatap Ares. Ares tidak menjawab. Leoni kebingungan kemudian ia menyenggol lengan Ares.
"Kenapa, sih?"
Ares diam sejenak. "Maaf gue telat ngasih."
Tanpa harus berbicara panjang lebar, Ares mengeluarkan sekotak hadiah dari sakunya dan menyerahkannya di tangan Leoni. Entah kenapa saat itu juga, kupu-kupu berterbangan di perut Leoni dan hatinya berbunga-bunga. Tak sulit bagi Ares untuk menerka isi hati Leoni karena semua sudah tergambar jelas dari wajah Leoni.
Kenapa, ya? Setiap gue ngasih sesuatu ke Leoni, mesti ekspresi beda dari yang lain.
"Makasih, Res." gumamnya sambil memandangi kotak itu dan memainkannya. Dari sudut mata Ares, dia melihat Leoni berharap terlalu banyak padanya. Ia sebenarnya tak pernah berharap Leoni akan bereaksi seharu itu, ia takut, ia akan mengecawakan Leoni pada akhirnya.
******
Hujan sudah sampai pada tujuannya. Rumah yang selalu menjadi persinggahannya disaat ia merasa lelah. Rumah yang nyaman dan hangat. Rumah yang mengubah kepribadiannya. Rumah yang juga merupakan sebagian memori kelam masa lalunya. Rumah itu, rumah yang tak biasa, persinggahannya saat berlayar di dunia berbeda, pelabuhan hatinya, tempat masa kelam dari dirinya yang menjerumuskannya dalam lubang kebinasaan. Kayla. Mantan pacar Hujan.
"Kay, lo udah nunggu lama ya?" Hujan menghampiri Kayla yang tengah duduk di salah satu bangku di coffeshop.
"Eh, nggak dong. Gue juga barusan dateng, woles aja." Kayla mengatur deru napasnya. Sekaligus degup jantungnya.
"Gimana? Lo udah balikan sama Dion?"
"Belum. Gue takut ngomongnya."
"Kenapa takut? Kalo lo mau balik, ya terus terang aja." Hujan mengangkat tangannya, lalu seorang pelayan datang dan ia pun memesan secangkir Greentea Latte untuknya. "Lo mau pesen apa?"
"Americano, oh ya, jangan terlalu pahit ya, mungkin gulanya seperempat aja."
"Lo suka americano? Itu pahit tauk!"
"Lah lo? Kenapa lo selalu pesen greentea latte?" tanya Kayla sambil menyengir ke arah Hujan.
"Lo tahu kalo itu kebiasaan gue dari bahoela." Hujan ikut menyengir, lalu ia memandang ke arah luar jendela kafe.
"Lo gimana?"
Hujan terdiam sejenak, ia mengernyit. "Gimana apanya?"
Beberapa menit kemudian, Kayla yang tengah memainkan layar ponselnya kemudian menatap Hujan dalam-dalam.
"Lo udah ada pacar?" ujar Kayla langsung sambil memegang tangan Hujan.
Hujan melepaskan tangannya dari genggaman Kayla, "Nggak."
"Maksudnya 'nggak'?"
"Gue nggak pacar untuk saat ini. Gue lagi males."
"Sumpah?"
Hujan mengangguk.
"Ya udah deh. Nggak apa-apa juga, sih, kalo lo belum punya pacar."
"Nggak perlu ada pacar pun, hidup gue tetap berjalan kok," sahut Hujan pelan. Perkataannya membuat mata Kayla menyipit, ia berpikir sejenak apa yang dimaksudkan Hujan.
"Ya iya, sih. Tapi seenggaknya hidup lo lebih berwarna kalo ada cewe di samping lo."
Hujan menoleh.
"Maksud gue, lo mungkin butuh seseorang yang bakal selalu support lo, jaga lo, mencintai lo, sayang sama lo, selalu ada di samping lo, ngertiin lo, peduli sama lo, and anyelse."
"Kayak lo, gitu?"
Setelah Kayla menghela napas, ia menggoda Hujan, "Jangan-jangan, lo nggak bisa move on dari gue, ya?"
Hujan terdiam. Ia sama sekali tak menggubris ucapan Kayla. Ia tak ingin membahas hatinya, ia tak ingin ada seorangpun yang tahu keadaan hatinya saat ini. Walau, sebagian kecil dari hatinya membenarkan ucapan Kayla.
Melihat ekspresi Hujan yang cenderung muring, ia memiringkan kepalanya lalu tersenyum.
"Gue cuma bercanda kok, Sat."
"Santai aja." Tak lama setelahnya, pelayan datang membawakan pesanan mereka. "Nih, americano punya lo."
"Yeyyy, kopi item tercinta gue datang."
"Apaan si lo."
"Gue kan cinta berat sama americano disini. Dia selalu melekat di hati gue." Kayla meringis sambil membentuk love dengan tangannya.
"Serah deh serah."
"Sat, lo kebiasaan minum itu sambil ngaduknya pake jari belum hilang juga, ya?" Kayla menyengir sambil menatap tingkah Hujan yang mengaduk kopinya dengan jari telunjuknya.
"Ah, iya. Gue baru sadar. Hehe." Hujan tertawa kecil lalu diikuti tawa dari Kayla.
"Dasar kebiasaan lama!"
"Biarin!" Mereka pun langsung tertawa lalu menikmati kopi masing-masing.
Andai lo tahu, Sat. Hati gue lagi pengennya balikan sama lo, bukan sama Dion. Batin Kayla.

KAMU SEDANG MEMBACA
HUJAN DAN SENJA
Novela JuvenilLangit sudah menghitam. Matahari sudah tertutup awan kelabu. Hawa dingin menyergap. Orang-orang berkata, "Wah, hujan akan turun!" Hujan. Nama itu. Namamu. Indah dihiasi rintik air yang statis membasahi tanah. Hujan. Senja Senja. Hujan. Hujan dilang...