CHAP : 1

112 8 0
                                    


[H. MIKUO]

"Kau dengar tidak! Katanya tubuh Kaito ditemukan dalam keadaan di mutilasi!"

"Katanya ia dibunuh saat pulang sekolah!"

"Ini tidak mungkin terjadi!"

Satu kelas. Tidak, mungkin satu sekolah telah dipenuhi tangisan dan ketakutan. Para gadis saja telah menyucurkan air matanya sejak tadi pagi. Wajar saja jika mereka menangis. Kehilangan pangeran mereka.

Aku sendiri bahkan hanya dapat diam. Kakiku lemas terduduk di kursi sejak mendengar berita. Kaito salah satu dari teman terbaiku sejak kecil. Memang ia dari dulu dialah yang selalu jadi pangeran sekolah. Dan kini...Ia malah dibunuh dengan kejam tanpa alasan.

Tentu saja aku sangat terpukul mendengar Kaito dibunuh dengan cara dimutilasi. Aku ingin sekali untuk menangis tapi air mata sama sekali tidak dapat keluar dari mataku.

Padahal sekelilingku sudah dipenuhi dengan suara ingus dan tangisan dari banyak orang baik gadis atau lelaki. Aku hanya dapat duduk di dekat jendela dengan pikiran kacau.

"Mikuo!" Seru Miku mendatangiku dengan mata merah, menandakan ia baru saja menangis. "Kau pasti sangat shock ya!?" Aku memandang kosong miku dan hanya dapat mengangguk pelan. Tanpa sadar badanku mulai bergetar.

"Kasian Kaito!" Isak Miku mengelap matanya yang basah. "Seharusnya kutemani dia kemarin pulang kalau tidak, tak mungkin jadi seperti ini!"

"Miku." Panggilku pelan. "Kemarin papa yang mengecek mayat Kaito bukan?" Miku mengangguk pelan. "Papa sendiri kemarin juga kaget waktu dengar Kaito diemukan dalam keadaan sudah tercincang-cincang."

Bagi yang belum tau, aku dan Miku saudara kembar. Kaito pacar Miku sejak awal masuk SMA. Kemarin saja ia langsung lari keluar rumah seperti dikejar-kejar setan, saat ditelfon papa mengenai keadaan Kaito.

Sedangkan aku? Aku hanya merungkup di kamar. Melindungi diriku dengan selimut kasurku. Memang aku sangat pengecut! Seharusnya aku melihat keadaan Kaito, tapi aku malah menurung diri. Aku hanya mendengar suara Miku saat pulang sudah penuh tangisan histeris. Terdengar juga mama yang juga menangis.

"Bagaimana keadaan Kaito?" tanyaku dengan suara bergetar. Tanpa sadar mataku sudah mulai basah. "Kemarin tubuhnya betul-betul tidak berbentuk lagi! Isi perutnya sudah keluar semua.. Kakinya sendiri telah lepas dari tubuhnya. Matanya saja sudah keluar dari rongganya. Anehnya mata kanannya..." Miku menangis sejadi-jadinya lagi. Suara histeris tangisannya memenuhi gendang telingaku.

Aku langsung memeluknya erat membiarkannya dalam pelukanku, sementara ingusnya membasahi seragamku. "Maaf telah memaksamu untuk menceritakannya.." Isaku. Air mata sudah jatuh dari pelipisku membasahi pipiku.

Miku semakin menangis di pundaku. Aku sudah tidak peduli dengan pandangan semua orang terhadap kami berdua. Aku hanya mendengar beberapa gadis jadi ikutan menangis karena miku sudah histeris sendiri. Beginilah kalau 1 gadis menangis yang lain ikutan.

Selama beberapa waktu ia hanya terus menangis di dalam rangkulanku. "Oh iya..." Ucap Miku saat ia sudah mulai berhenti menangis. Ia melepaskan dirinya dari rangkulanku, merogoh sakunya dan memberikan ku secarik kertas. "Aku ingin memberikanmu kemarin, tapi karna aku menangis terus sampai kecapekan, aku lupa memberikannya. Ini pesan yang diberikan di tempat pembunuhan Mikuo."

Aku tersentak. Tanganku gemetar waktu mengambil secarik kertas yang diberikan oleh Miku. "Dead message ?" tanyaku pelan. "Semacamnya... Tapi keliatannya juga bukan.."

"Maksudnya?" Aku membuka secarik kertas yang diberikan Miku dengan pelan. "Itu keliatannya pesan dari sih pembunuh." Jelas Miku dengan gemetar karena ketakutan. "Murder Message"

Aku masih memandang Miku ngeri, sebelum aku membaca isi dari kertas itu. Tertulis "MIHAEL-SAMA."

"Aku tidak tau siapa itu MIHAEL." Miku iku melihat kertas yang kupegang. "Ampun Mikuo kau kenapa!"

Aku sudah tidak tau apa yang terjadi dengan mukaku kali ini. Yang pasti keringat dingin sudah mulai bercucuran dari jidatku. Tanganku semakin gemetar ketika membaca nama yang tecantum itu.

"Mikuo kau baik-baik saja!" Miku memegang kedua pundakku membiarkan diriku dalam rangkulannya.

Selama beberapa waktu aku masih hanya dapat berdiam diri. "Aku tau siapa itu MIHAEL."

"Apa maksudmu!?" Sentak Miku kebingungan.

Mulutku sudah gemetaran antara ingin mengucapkannya serta ketakutan. Akhirnya mulutku sendiri yang bandel mengataknnya.

"MIHAEL itu aku sendiri."

Callous Murder [ Vocaloid Fanfiction ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang