Bab. 15

35 1 0
                                    

Sepulang sekolah, Senja melihat Sarah sudah berdandan cantik dan berpakaian anggun layaknya hendak pergi ke pesta. Dengan balutan dress bermotif bunga dandelion, penuaan pada dirinya tertutupi oleh kecantikan dan keanggunan dandanannya yang natural, namun tetap elegan.
"Ciee, Bunda. Mau pergi kemana nih? Tumben rapi," goda Senja sambil mencolek lengan kanan Sarah.
"Eh, kamu sudah pulang? Ayo siap-siap! Bunda tunggu 15 menit, kamu harus tampil cantik."
"Wait, wait. Buat apa? Emang aku mau kemana?" potong Senja bingung.
"Nemenin Bunda datang ke acara keluarga temen Bunda."
"Kak Niko?"
"Niko ada lembur skripsi, biasalah pasti pulang larut malam." ucap Sarah sambil membenarkan busananya.
"Oh God, kenapa Senja harus ikut? Ntar kalo Senja nggak guna gimana?"
"Maka dari itu Bunda ajarin kamu berguna malam ini."
"Apa? Tapi, Bun---"
"Nggak usah banyak 'tapi', cepet mandi terus dandan dan pake baju yang pantas. Ingat! Baju yang pantas!" sergah Sarah sambil mendorong putrinya itu naik ke atas tangga.
Setelah lima belas menit berlalu, Senja melangkahkan kakinya ke luar kamar dan menuruni tangga, ia terlihat tak kalah anggun dengan busana dress selutut berwarna maroon dan pita kecil yang melingkar di pinggangnya yang menambah kesan manis nan anggun. Bunda mengangguk, lalu ia mengacungkan kedua jempolnya pada putrinya itu. Senja tersenyum, ia tahu kapan ia harus berpakaian anggun dan kapan ia harus berpenampilan urakan dan petakilan.
Sarah mengambil kunci mobil sedan milik Niko lalu menghidupkannya dan membiarkan Senja duduk di sebelahnya. Senja terkekeh, "Bunda bisa naik mobil sejak kapan?"
"Sejak nenek moyang Bunda naik delman." gurau Sarah sambil mencubit lengan Senja.
"AWWWHHH!" jerit Senja diiringi tawa kecil.
Perjalanan dihabiskan dengan gelak tawa saat Sarah menceritakan betapa senangnya ia yang bisa mengendarai mobil melalui kursus setir mobil yang diikutinya seminggu ini dan Senja yang menceritakan Ares yang tadi siang masuk selokan karena dikerjai oleh Leoni dan Ara yang berpura-pura bahwa kalung Leoni terjatuh.
Kemudian, mobil mereka terhenti di sebuah rumah bernuansa putih susu dan di sekelilingnya ada taman yang di penuhi bunga. Mereka sampai pada tujuan. Sarah keluar duluan dari mobil, kemudian ia melangkah masuk ke dalam rumah tersebut. Senja berjalan menyusuri rumah yang ramai akan orang itu. Ia baru saja akan mengatakan bahwa rumah ini sangat indah dan mewah.
Desain interior yang dibuat sederhana, dan dekor bunga lily putih yang cantik menghiasi dinding rumah itu. Klasik namun elegan.
"Yang tinggal di rumah ini pasti betah banget." gumam Senja.
"Pengen deh tinggal disini, hehe" lanjutnya lalu terkekeh.
"MA!! WHERE'S MY SHOES? MA!!"
Senja mendengar teriakan itu dari arah atas rumah itu, ia yakin bahwa mungkin anak pemilik rumah itu yang berteriak.
Dari arah tangga, Senja membelalakkan matanya dan tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia terlonjak kaget dan... Kesal?
"Lo?"
"Lah lo?"
"Ngapain lo disini?"
"Harusnya gue tanya gitu."
"Ini rumah gue, ngapain lo disini?"
"Rumah---, tunggu? Apa? Ini rumah lo? Yang bener aja!"
"100% gue nggak lagi bercanda. This is my house!"
"...."
"Ngapain lo bengong?"
"Nggak papa. Bawel."
"Ngaca! Lo punya kaca kan di rumah lo?"
"B aja." Senja mendengus.
Ia tak percaya sama sekali tentang ini. Bagaimana mungkin, rumah ini, rumah yang ia datangi ini adalah rumah Hujan? Permainan macam apa ini? Apakah Hujan sedang mempermainkannya? Ataukah Tuhan yang mempermainkannya?
Hujan mengernyit. "Btw, lo sama siapa datang ke sini? Jangan bilang lo kesini cuma mau numpang makan."
Senja menghela napas, sudah cukup kesabarannya untuk cowo yang satu ini.
"Heh, cowo rese! Lo nuduh gue tanpa alasan. Gue kesini cuma nemenin nyokap gue, dan lo? Please, gue tahu gue harus jaga sikap sama tuan rumah. Tapi, gue mohon dengan sungguh sama lo, jangan uji kesabaran gue. Please!" balas Senja kesal lalu meninggalkan Hujan dan menjauh dari kerumunan.
"Aneh banget jadi cewe." sungut Hujan menatap punggung gadis itu.
******
Senja menemui Sarah, ia membuntuti kemana pun Sarah melangkah dan menempel terus layaknya anak ayam yang tak ingin kehilangan induknya.
"Kenapa sih, Nja?" tanya Sarah dengan nada heran.
"Kenapa sih, Bun?" tanya Senja balik. Pandangannya beralih ke arah Sarah.
"Lah, nih bocah malah nanya balik."
"Bun?" panggil Senja sambil merengek.
"Idih, kenapa lagi ini? Apa Senja, anakku yang bontot?"
"Kita pula---"
Tiba-tiba seorang wanita yang sekiranya seumuran dengan Sarah datang menghampiri mereka berdua seraya tersenyum.
"Halo, Sarah! Lama kita nggak ketemu lagi," ucapnya lalu cepika-cepiki dengan Sarah yang dengan senang hati disambut hangat.
Dasar ibu-ibu. Batin Senja.
Sarah menyenggol tangan Senja, ia memberi kode bahwa Senja harus memberi salam padanya.
"Selamat malam, Tante." sapa Senja seramah mungkin.
"Wah!! Ini Senja, ya? Sudah besar juga rupanya, ya? Cantik seperti ibunya. Apa kabarmu, sayang?" tanya Riana alias pemilik rumah tersebut alias juga yang ia baru sadari sebagai ibu dari Hujan.
"Baik, Tante. Tante sendiri gimana kabarnya?"
"Alhamdulillah, baik. Kamu mesti sudah lupa sama anak Tante, kan? Dulu kamu sering main lo sama dia."
Hah? Main? Sama Hujan? Kapan? Sejak dari Hongkong?!!
"Ah, iya Tante. Senja udah lupa. Hmm?" Senja lalu beralih tatap ke arah Sarah.
"Loh, Nja? Masa kamu lupa? Dulu kan kita juga tinggal di kompleks sini sampai kamu 7 tahun? Idih, sok lupa nih jangan-jangan. Baru juga pindah beberapa tahun lalu, kamunya kok cepet lupanya." oceh Sarah sembari tertawa kecil pada Riana.
Senja menatap Sarah malas. "Bun, itu kan udah lama. Mana Senja inget, lah. Sudah berapa tahun lalu itu."
"Sebentar, biar Tante panggilkan anak tante dulu, ya?" Riana menoleh ke arah belakang lalu berteriak, "HUJAN!! TURUN LO ANAK DURHAKA! MAIN KOK DIKAMAR TERUS! TURUN SINI, NGGAK?!!"
"Iya, Ma. Bentar!" suara itu terdengar dari atas.
Tak beberapa lama, Hujan turun dengan setelan jas hitam yang dipadukan dengan dasi biru lengkap dengan celana hitam dan sepatu yang kontras dengan pakaiannya.
"Nah, Sarah, Senja, ini anakku. Namanya Hujan. Satunya lagi namanya Tissa, tapi si Tissa itu lagi camping jadi dia nggak ada di rumah."
"Gue mah udah kenal, nggak usah dikenalin juga gapapa," gumam Senja pelan.
"Ehm, aku sama Senja satu sekolah kok. Jadi aku udah kenal dia." jawab Hujan santai. Ia melirik Senja lalu Senja membuang pandangannya dari Hujan
Mata Riana langsung berbinar. "Wah!! Kebetulan macam apa ini? Ahh, senangnya."
Hujan menatap Riana heran. "Apaan sih, Ma?"
"Gini, nih. Jadi ceritanya, Mama sama Tante Sarah, mamanya Senja mau nostalgiaan gitu deh. Tapi, by the way, kita perginya cuma berdua aja. Kalian semua tinggal, okay? So, rencana Mama and Tante Sarah adalah mending kalian berdua mulai dari nanti kita pergi, kalian berangkat dan pulangnya barengan, ya? Kasian kan, si Niko, kakaknya Senja yang lagi sibuk kejar skripsi harus bolak-balik antar jemput Senja?" terang Sarah sambil tersenyum puas.
"WHAT?!!" ucap Senja dan Hujan bersamaan. Mereka saling menatap satu sama lain, lalu menggeleng.
"Ma, ide Mama itu buruk. Buruk banget!" Hujan mendecak sembari memutar matanya.
"Bun, Kak Niko nggak sibuk-sibuk amat kok. Senja nggak mau pulang sama ikan cupang." balas Senja kesal.
"Sopan ya, Senja. Dia lebih tua daripada kamu." sergah Sarah.
"Intinya, aku nggak mau!" sinis Hujan berbarengan dengan Senja yang mengucapkan hal serupa.
Riana terkekeh, "Atuh-atuh, ngomong aja barengan. Jodoh kalik, ya?"
Senja menggeleng. Hujan mendengus.
"Mereka keliatan serasi, ya?"
"Iya. Dijodohin cocok kali, ya?"
"Ah, nice idea. Great! I'll think it more."
"Ma, don't think that---" potong Hujan melotot.
"Oh, I really know you well. Sar, mending kita omongin ini pas kita liburan, gimana?"
"Setuju. Seenggaknya mereka nanti ujung-ujungnya setuju."
"Bun, Senja nggak suka ah!" sinis Senja.
"Well, you're gonna be know each others for a long day! Enjoy it!" Riana mengelus kepala putranya itu lalu tersenyum ke arah Senja.

HUJAN DAN SENJATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang