Tatia's Point of View
Sabtu pagi.
Mungkin untuk remaja seumuranku, Sabtu pagi bukanlah waktu untuk melakukan hal-hal produktif. Biasanya, mereka masih tidur, atau bahkan belum tidur karena baru pulang dari club, bar, atau mall tempat mereka menghabiskan waktu di Jumat malam. Tetapi untukku, Sabtu pagi adalah satu-satunya waktu untuk memiliki quality time bersama orang tuaku.
Ya, ibuku adalah wanita karir yang jarang sekali ada di rumah, dan ayahku juga sibuk dengan pekerjaannya sehingga kami jarang bertemu walaupun kami tinggal di rumah yang sama. I don't mind at all sih sebenarnya. Karena aku juga sibuk dengan sekolah dan pelajaran-pelajaran tambahan yang aku ambil demi mendapatkan nilai yang sempurna di sekolah.
Sabtu pagi.
Rumah kami berlokasi di Bintaro, tepatnya di Sektor 9. Oleh karena itu, biasanya kami lari pagi bersama di jogging track Bintaro Xchange, mall yang sangat dekat dengan rumah kami, lalu dilanjutkan dengan sarapan pagi di restoran favorit kami, Eastern Kopi TM. Tetapi, Sabtu pagi kali ini berbeda dari biasanya. Kali ini, Fariz ikut serta dengan keluargaku untuk melakukan rutinitas Sabtu pagi kami.
Fariz Adrianzalta. Dia adalah sahabatku sejak kami duduk di bangku SMA. Sebenarnya, aku sudah kenal Fariz sejak kami masih SD, tapi aku dan Fariz tidak berasal dari geng yang sama. Fariz adalah salah satu cowok eksis yang dipuja-puja oleh adik kelas, teman seangkatan, bahkan kakak kelas karena kegantengan dan keramahannya.
Sedangkan aku? Well, I can say that I'm more like a wallflower. I don't prefer being a center of attention, but if I have to, that's okay. I prefer not to, though. I love to observe people around me, from my perspective. Tapi bukan berarti aku ini nerd ya! Aku hanya nggak suka aja sama pergaulan anak-anak eksis di sekolahku.
Nah, kenapa aku dan Fariz bisa berteman baik? Aku sendiri juga bingung. Aku dan Fariz satu sekolah dari SD, tapi kami baru kenal satu sama lain sejak SMP. Kami lumayan dekat saat itu, sering ngobrol dan bercanda-canda lah. Tapi tidak sedekat sekarang.
Kayaknya sih kalau aku nggak salah ingat, aku dan Fariz mulai dekat karena kami satu kelompok pada saat MOS SMA. Karena kami berasal dari SMP yang sama, kami hanya kenal satu sama lain. Dulu kan tugas-tugas MOS yang diberikan oleh kakak kelas pasti aneh-aneh dan ribet, karena itu aku dan Fariz saling membantu.
Ternyata obrolan kami nyambung dan kami memiliki banyak kesamaan, kami juga memiliki sense of humor yang sama. Fariz suka curhat kepadaku mengenai apapun, dan begitupun aku. Karena itu kami jadi dekat. Seingatku ya itu, nggak tahu deh Fariz ingatnya gimana.
Okay, long story short, here we are. Duduk di kelas 12, sebentar lagi akan menghadapi Ujian Nasional dan Ujian Akhir Sekolah, lalu dilanjutkan mencari universitas untuk belajar ke jenjang berikutnya.
****
Fariz's Point of view
Sabtu pagi.
Biasanya jam segini gue masih tidur. Boro-boro nelpon Tatia, nyautin bokap pas dia manggil aja kagak. Gila, kesambet apa ya gue pagi ini mau jogging sama Tatia dan om tante? Tapi ini penting banget, gue gabisa nunggu sampe besok untuk cerita soal ini ke Tatia. Kejadian tadi malam bener-bener membuat gue gabisa tidur semalaman.
Kalo lagi kayak gini, cuman Tatia dan Reval yang bisa nenangin dan dengerin gue, tanpa nge-judge keadaan gue samasekali. Yah, cuman mereka sih yang tahu keadaan gue. Mereka emang sahabat gue yang baik,bisa diandalkan, dan yang paling gapernah nge-judge gue dalam hal apapun.

KAMU SEDANG MEMBACA
PRETEND
Chick-Lit"I don't want to have you to fill the empty parts of me I want to be full of my own. I want to be so complete I could light the whole city and then I want to have you. Cause the two of us Combined Could set it on fire."