TWENTY ONE [ Star Over ]

31 8 0
                                    

Emmanuel melepas rangkulan cewek yang sedari tadi ingin menggapainya. Padahal Emmanuel sudah melakukan apa yang seharusnya membuat cewek itu senang tetapi bukannya dilepaskan malah sebaliknya tubuhnya semakin ditarik untuk mendekati cewek itu. Emmanuel menepis halus tangan cewek itu dan membiarkan sosok itu kembali tertidur sementara dia bangkit mengenakan pakaiannya.

Emmanuel kembali pada kehidupan normalnya. Dia yakin dia baik-baik saja. Walau pun dia sudah berusaha menghapus pikiran tentang seorang gadis dari benaknya. Rupanya ingatannya sedang susah diajak bekerja sama. Apapun yang Emmanuel lakukan, wajah gadis itu selalu teringat.

Emmanuel memaki pelan. Itulah mengapa dia benci jatuh cinta.

Padahal gadis itu sudah pergi. Sesuai dengan apa yang pernah diucap gadis itu, dia memilih pindah kampus. Bahkan Emmanuel juga tidak tahu di kampus mana dia berkuliah sekarang. Harusnya Emmanuel senang, dia tidak dibatasi lagi. Dia tidak perlu takut untuk membuat masalah lagi. Toh, tidak ada yang peduli. Tapi dia tetap sulit melupakan bayangan gadis itu.

Emmanuel tahu seperti apa dia dan bagaimana caranya menjalani hidup. Dia sadar demi dendam bodohnya dia memanfaatkan gadis itu. Meski tidak sampai melukai gadis itu. Demi Tuhan, dia masih memiliki sisi manusiawi. Dan gadis itu berhasil menyalakan itu setelah sekian lama dipadamkannya. Emmanuel hanya tak ingin gadis itu semakin dalam mengenalnya. Dia berengsek dan sampai kapanpun dia tidak mau mengubah fakta itu demi seorang gadis. Walau dia harus merasakan sendiri akibatnya, dihantui dengan rasa kesepian. Karena dia kehilangan gadisnya.

Daniella Everza.

"Kenapa makanannya tidak dihabiskan Manuel? Tidak enak ya?"

Pertanyaan itu membangunkan Emmanuel dari lamunannya. Wajah ibu tirinya terlihat bingung ketika memandangi piring Emmanuel yang isinya masih penuh.

"Enak kok. Apa sih masakan Kakak yang nggak enak?"

Acancia Monica tersenyum. "Kalau begitu harusnya kamu makan sampai habis dong. Ada masalah lagi sama Paris?"

Sudut bibir Emmanuel tertarik ke atas. "Justru gue lagi malas ama dia. Kalo misalnya hari ini dia ada disini juga palingan makanan ini udah lari semua ke muka dia."

"Emmanuel."

"Bercanda Kak, santai."

Acancia terkekeh. Dia tidak tahu mengapa Emmanuel mulai berubah akhir-akhir ini. Lebih sering menginap dirumah. Bahkan mulai beraktivitas dengannya. Memang Emmanuel tetap menghilang kalau seandainya salah satu dari Ben atau Paris sudah berada lagi dirumah. Mereka masih saling menghindar tetapi Emmanuel tetap pulang. Itu kenyataan yang membuat Acancia bisa sedikit bernapas lega.

"Manuel... aku boleh bertanya sesuatu?"

"Apa sih Kak?"

Acancia menelan liurnya, dia menatap bocah itu baik-baik. "Begini, aku hanya sedikit penasaran. Bagaimana hubungan kamu dengan cewek yang tempo hari itu?"

Emmanuel menghentikan kunyahannya dan meneguk air dari gelas. "Cewek yang mana ya? Gue punya banyak kak, spesifik dong biar bantu gue ingat."

Acancia berdecak sedang Emmanuel terkekeh pelan. "Itu... ng, siapa ya namanya. Uhm, Dani..."

"Eww, kak cewek gue semua itu asli cewek tulen kok. Gue udah nyobain mereka semua. Nggak pernah dalam sejarah gue jalan ama cowok. Apalagi namanya Dani. Gini-gini masih nyuka yang..."

Acancia bingung antara melemparkan kepala Emmanuel dengan gelas atau menusuknya dengan garpu. Bisa-bisanya pertanyaannya serius dibalas dengan bercandaan tidak bermutu semacam itu.

"Aku tahu kamu tahu siapa yang aku maksud Manuel."

Kali itu Emmanuel menghentikan semua ocehan bodohnya tentang pengalamannya mengeskplor cewek selama ini. "Oh, Ella yang kakak maksud?"

Better EnemyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang