7 | Gusti Putri (1)

346 56 7
                                    

Jatuh cinta pada pandangan pertama. Itulah kesanku saat pertama kali melihat kegiatan memanah. Hatiku bergetar, jantungku berdegup cepat, aliran darahku berdesir begitu terasa dari ujung kepala hingga ujung kaki ketika anak panah melesat secepat kilat dari busurnya.

Kupikir awalnya memanah adalah kegiatan yang melatih fisik saja. Tetapi, aku salah. Ternyata, dalam memanah ada suatu koordinasi luar biasa antara fisik dan jiwa.

Kerja sama antara otak dan otot adalah hal terpenting. Dalam hal ini, baik otot tangan, otot dada, bahu dan punggung berada dalam satu tekanan saat menarik busur. Fokus dengan mengabaikan semua hal yang dapat mengalihkan perhatian, baik itu suara ataupun benda-benda di sekitar, dapat melatih diri dalam menjernihkan pikiran. Konsentrasi mengarahkan anak panah ke sasaran bermanfaat dalam mengambil keputusan, melakukan tanggung jawab, dan kedisiplinan. Kesabaran dengan melesatkan anak panah berulang-ulang apabila belum juga mengenai sasaran dapat menumbuhkan pribadi yang lebih bijak. Kepercayaan diri akan muncul dengan sendirinya sehingga menjadikan diri pribadi yang kuat dan tidak mudah menyerah. Hal itu juga berkaitan dengan bagaimana mengontrol emosi, yaitu bersikap tenang dalam menghadapi permasalahan. Insting akan terasah dengan baik, bagaimana memastikan tujuan, melakukan tindakan yang tepat, dan mengeksekusi tujuan tersebut. Bukan hanya soal latihan dan latihan. Memanah bisa menjadi obat tersendiri dalam menghilangkan stres, yaitu saat anak panah dilepaskan dari busur, melayang di udara, dan berakhir mengenai sasaran dengan tepat. Namun, dari semua itu ada manfaat yang lebih menakjubkan, tentunya berkaitan dengan kejiwaan. Seseorang yang sudah terlatih dengan sangat baik akan menjadi pribadi bermental kuat dan memiliki keberanian yang besar.

Memanah sama halnya dengan berkuda. Berkuda juga membutuhkan fisik yang kuat. Akan tetapi, ada 2 unsur penting lain yang berperan di dalamnya, yaitu emosional dan kecerdasan. Intensitas kebersamaanku dengan Yodha menjadikan aku lebih sensitif pada lingkungan sekitar. Kewaspadaan juga semakin berkembang, sehingga aku bisa mengatasi situasi dan kondisi darurat. Selain menumbuhkan keberanian, berkuda juga mengajarkanku tentang kerja sama tim. Dua pihak yang terlibat di dalamnya, aku dan Yodha, bekerja sama bergerak menuju satu tujuan, menyesuaikan gerak satu dengan yang lainnya sampai meraih sesuatu yang diinginkan. Rasa kepemimpian muncul di dalam diriku selaku penunggang kuda yang sepenuhnya memegang kendali. Meski seperti itu, aku tidak memaksakan kehendakku pada Yodha. Kalau aku melakukan hal yang salah malah akan berujung fatal. Dan tentunya Yodha tidak mau mendengar instruksiku. Rasa kepemimpinan ini membuatku menjadi seorang yang tepat dalam bertindak, cerdas, dan tanggap menghadapi situasi. Hal ini sesuai dengan ucapan seseorang kepadaku, sesungguhnya pemimpin yang bijak adalah pemimpin yang pandai. Sebenarnya, ada hal mengejutkan yang kuketahui sewaktu aku belajar menunggangi kuda. Tenyata, kuda bisa merasakan emosi sang penunggang. Jika sang penunggang sabar dan tenang, maka kuda juga akan melakukan hal yang sama. Dampak lainnya yang luar biasa dalam berkuda adalah mentalku menjadi lebih kuat dan siap secara psikologis dalam menghadapi apapun. Hubungan yang terjalin semakin lama antara kuda dan sang penunggang, maka akan terwujud suatu ikatan emosi pada kedua belah pihak. Perasaan kasih pun ikut andil yang membuat kuda mau mendengarkan dan menuruti perintah sang penunggang.

Persabatanku dengan Yodha membuktikan itu semua. Kedekatan kami berdua tidak seperti anggapan orang-orang yang hanya tahu bahwa kuda merupakan hewan yang digunakan sebatas sebagai alat transportasi atau hewan yang dapat dikonsumsi. Lebih dari itu. Hewan juga seperti manusia yang memiliki perasaan. Dan pertemanan menjadi kunci dari segala sesuatu. Termasuk bagaimana aku menghadapi Yodha pertama kali. Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta.

**********

Aku duduk di atas Yodha yang berlari dengan kecepatan stabil menuju tempat latihan. Busur dan anak panah berada di belakang punggungku, siap untuk berlatih bersamaku hari ini. Cuaca yang cerah dan sinar mentari yang hangat seolah mengirim energi agar aku semakin bersemangat. Sepertinya semesta sedang bergembira. Maka dari itu, aku tak boleh berleha-leha menjalani aktivitasku seperti biasa, yaitu latihan dan terus latihan. Sampai akhirnya, sesuatu mengalihkan perhatianku. Seekor rusa tengah asyik mencari makan di sela-sela rumput liar yang sudah nampak meninggi sejak minggu lalu. Tubuhnya besar dan tinggi menyamai tinggi manusia dewasa. Kulitnya berwarna coklat gelap. Di kepalanya ada sepasang tanduk panjang ke atas menyerupai mahkota. Dengan cepat, kuhentikan Yodha yang tentu saja membuatnya tersentak dan berhenti seketika.

Get In Touch (TAHAP REVISI) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang