9 | Sang Bintang (2)

285 52 20
                                    

Pesawat berjenis Boeing terbang membelah gumulan awan-awan putih. Tubuh pesawat yang berwarna biru dan putih seolah menyatu dengan cerahnya langit pagi. Transportasi udara berkapasitas besar dan bertubuh lebar yang identik dengan sebutan 'burung besi' itu melaju begitu gagah sekaligus anggun melakukan perjalanan antar benua.

Salah satu fasilitas eksklusif di dalam pesawat tentunya ialah pelayanan kelas satu bagi penumpang prioritas dengan suite pribadi yang mewah. Kursi super empuk dengan jarak kursi satu dan lainnya yang luas, dapat diubah menjadi tempat tidur dengan seat control menggunakan panel layar sentuh. Ada pula in-flight entertainment, yaitu live streaming acara TV, film, sampai musik. Lalu, tersedia juga power supply untuk laptop di kursi, akses WiFi yang kencang, serta brankas pribadi. Berbagai menu makanan pilihan disajikan, mulai dari kuliner Indonesia hingga internasional dengan pelayanan sekelas restoran bintang lima. Satu lagi yang tak ketinggalan, yaitu perlengkapan mandi dari brand ternama. Tampilan sekeliling suite bernuansa coklat dan krem yang lembut, membawa kenyaman bagi penumpang dalam beristirahat selama penerbangan. Penumpang benar-benar dimanjakan bak seorang raja.

"Good Morning! Selamat pagi semuanya! Kembali lagi bersama Panca di sini dalam Vlog Good Manager Episode 26! Jreng jreng jreng! Tarara-rara!" Panca heboh merekam aksinya melalui kamera ponsel. "Oke! Kali ini aku akan share ke kalian tentang..." Kalimat Panca terhenti. "Sebentar, di mana kaca mata hitamku?"

Baru beberapa detik Panca merekam, ia ingat pada kacamata hitam yang di belinya sebelum berangkat ke bandara. "Sial! Padahal baru saja mulai, mengapa aku lupa pakai kacamata hitamnya?" Panca mengumpat kesal sambil terus mencari keberadaan kacamata hitam dengan kamera ponsel yang masih terus merekam di tangannya. Ia berdiri dari kursi lalu mencari ke sekeliling, mulai dari meja, kursi, sampai kolong. Namun, ia tak kunjung menemukan kacamata hitamnya. Sampai akhirnya, tangannya menyentuh sesuatu yang aneh di balik jasnya. Ternyata, kacamata hitamnya berada di sana.

"Mengapa kau ada di sini?" tanya Panca sembari mengeluarkan kacamata hitam dari saku dalam jasnya. "Oh, iya. Aku lupa. Aku sendiri yang meletakkanmu di sini supaya aku mudah mengambilmu untuk membuat vlog di pesawat."

Setelah kerisauan berakhir, Panca mengenakan kacamata hitamnya, berdeham pelan seraya merapikan jasnya yang jelas-jelas tidak berantakan, kemudian kembali duduk memposisikan diri dengan keren bersilang kaki.

"Ehm ... maaf atas insiden tadi. Ingatkan aku untuk mengeditnya nanti ya. Jadi, bagaimana penampilanku sekarang? Ganteng? Keren? Berkelas? Ah! Kalian terlalu memuji! Aku tidak seperti itu. Tetapi, kalau kalian mengakuinya, apa boleh buat, sepertinya aku memang terlahir seperti ini! Hahaha!" lanjut Panca menyombongkan diri.

"Sampai mana tadi? Sharing tentang apa yang sedang kulakukan? Betul sekali! Nah, apakah kalian tahu aku sedang berada di mana?" jeda Panca meletakkan tangan di samping telinga seakan menunggu jawaban. "Baiklah, baiklah. Aku adalah orang yang sangat baik, yang selalu sharing ke kalian tentang apapun. Jadi, sekarang aku sedang dalam penerbangan dengan pesawat kelas satu menuju Indonesia. Kalian tahu apa itu kelas satu? Itu adalah pelayan eksklusif bagi penumpang pesawat dengan harga fantastis. Pelayanannya, kenyamanannya, dan fasilitasnya pastilah berbeda jauh dengan harga yang biasa-biasa saja. Apakah kalian juga pernah naik pesawat kelas satu sepertiku?"

Tangan Panca bergerak mengambil secangkir kopi, lalu memperlihatkannya di depan kamera. "Lihatlah ini, secangkir kopi di tanganku. Aku sarapan di atas awan dengan kopi yang disajikan hangat-hangat dan tentu saja rasanya pasti sangat nikmat." Panca menyeruput kopi di tangannya, kemudian menggelengkan kepala perlahan--mengekspresikan rasa kopi itu. "Ah! Benar-benar nikmat!"

"Jadi, kopinya enak?" tanyaku yang duduk tepat di sebelah kanan Panca.

"Bukan hanya enak. Tapi, enak sekali," jawab Panca tanpa mengalihkan pandangan dari kamera ponsel.

Get In Touch (TAHAP REVISI) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang