16 | Sang Bintang (2)

217 35 16
                                    

Tempat yang remang-remang, lampu disko yang berkedip-kedip, dan suasana yang bising dengan hingar-bingar musik memenuhi segala penjuru kelab malam.

Di salah satu sudut, tepatnya di sebuah lounge VIP, ada orang-orang yang juga sedang merasakan kesenangan. Bukan untuk mengusir stres karena persoalan hidup, asmara, ataupun pekerjaan, tetapi untuk merayakan sebuah kesuksesan. Ya, kesuksesan dari seorang bintang yang sangat bersinar saat ini.

"Mas Panji!" teriak Ali.

"Apa?" Panji balas berteriak.

"Mas Panji senang sekali!"

"Harus! Aku bahagia karena kalian adalah asetku yang berharga! Hahaha!"

"Maksudnya?" Kening Ali berkerut. Aset? Apa mungkin telinganya salah dengar?

"Ma-maksudku ... aku senang sekali karena Judo berhasil dalam karirnya!" ralat Panji menyadari sudah kelepasan bicara.

"Oh! Hahaha! Aku juga senang, Mas! Sahabatku benar-benar hebat!" tanggap Ali yang gagal paham.

"Ckckck ... lihat dua orang itu," ucap Bunga yang duduk tenang di salah satu sofa. Kepalanya geleng-geleng memperhatikan tingkah konyol Ali dan Panji yang berangkulan, jingkrak-jingkrak, dan saling berteriak dalam jarak dekat. "Mereka seperti sudah kehilangan pikirannya."

"Siapa?" Kris bertanya memandang Bunga yang duduk di sampingnya. Bunga menggerakkan dagu ke depan--menunjuk objek yang sedang berjoget ria mengikuti alunan musik.

"Oh," sahut Kris mendapati dua orang yang dimaksud Bunga. "Mereka kelihatan senang sekali," lanjutnya sambil tersenyum melihat keakraban produser dan artisnya itu.

"Mana Judo?" tanya Bunga.

"Dia belum datang?" Kris balik bertanya.

"Bukankah dia datang bersamamu? Biasanya kalian datang bersama."

"Tidak. Aku baru saja menyelesaikan pemotretan dan menyiapkan keperluan untuk menjenguk nenek besok pagi. Setelah itu, aku langsung ke sini."

"Kukira kau tidak akan datang soalnya sewaktu di bandara kau kelihatan sedang banyak pekerjaan."

"Aku berusaha menyelesaikannya dengan cepat. Masa' aku tidak datang ke pesta sahabatku sendiri?"

"Kalian berdua manis sekali. Aku juga ingin merasakan persahabatan semanis kalian."

"Kau juga sahabat kami, Bunga. Jangan karena melihat kedekatanku dengan Judo, kau jadi merasa asing. Kau, Judo, dan Ali adalah sahabatku. Aku sayang kalian semua."

"Terima kasih sudah sayang padaku," jeda Bunga sesaat, "juga pada cecunguk itu." Mata Bunga mengarah pada Ali yang sedang bertingkah menjengkelkan dengan menggoyang-goyangkan bokong. Meski jarak antara dirinya dan Ali tidak terlalu dekat, namun Bunga yakin apa yang dilakukan Ali itu ditujukan kepadanya. "Aku akan memukulnya jika dia berani melakukan itu lagi."

Tak lama kemudian, Panji menghampiri Bunga dan Kris sambil setengah berlari. Wajahnya nampak lelah, namun sama sekali tidak memudarkan perasaan bahagia yang menyelimutinya.

"Judo?" Panji bertanya pada Kris dan Bunga. Tetapi, kedua artisnya itu hanya mengendikkan bahu seraya mengatakan 'tidak tahu'.

"Aku belum melihatnya," jawab Bunga.

"Hah? Bagaimana bisa dia belum datang? Ini pestanya! 'Kan tidak lucu kalau yang punya pesta malah tidak datang?" risau Panji bergerak gelisah.

"Aku di sini," ucapku di belakang punggung Mas Panji. Mas Panji sepertinya bisa mendengar suaraku di tengah-tengah bisingnya keadaan dan musik yang sangat kencang. Tubuhnya memutar dan melihatku dengan tatapan sangat bahagia. Tiba-tiba, Mas Panji membuka tangannya lebar-lebar. Aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Get In Touch (TAHAP REVISI) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang