17 | Asing (3)

186 33 15
                                    

Gelap ...

Lembab ...

Dingin ...

Apakah aku sudah mati?

Aku membuka mataku perlahan. Jauh di atasku tampak cahaya, namun tidak seperti cahaya yang sebelumnya kulihat. Cahayanya berupa titik-titik berukuran sangat kecil dan sangat banyak. Apakah itu bintang-bintang?

Seluruh inderaku mencoba beradaptasi dengan lingkungan sekitar--memastikan apakah aku masih hidup atau memang benar-benar sudah mati. Lama-kelamaan, aku mendengar suara-suara gaduh. Suaranya agak jauh dan sepertinya dari atas sana. Aku tidak tahu suara apa itu. Aku masih termangu di tempatku.

Mataku melirik ke segala arah. Gelap. Lalu, aku mencoba menggerakkan jemariku. Benar-benar terasa nyata! Aku bisa merasakan kulitku yang lembut dan hangat. Perlahan-lahan, kuangkat tanganku menggapai apapun yang bisa kusentuh. Tanganku membentur sesuatu di sampingku. Itu seperti dinding. Permukaannya keras, tidak rata, dingin, dan bertanah. Seluruh indraku yang masih berfungsi dengan baik membuatku yakin bahwa aku masih hidup.

Aku penasaran, sebenarnya aku berada di mana? Akhirnya, aku memutuskan untuk memeriksa keadaan. Kuubah posisi tubuhku yang semula berbaring menjadi duduk.

"Ah! Leherku!" Aku memekik kesakitan. Tanganku bergerak menyentuh leher perlahan. Leherku kaku. Entah sudah berapa lama aku berbaring dengan posisi yang sama. Aku terdiam sejenak, berusaha untuk tenang dan membiarkan saraf-saraf leherku mengendur. Bukan hanya leherku yang terasa sakit, sekujur tubuhku seperti remuk saat aku mencoba berdiri, namun Namun, aku paksakan. Sebisa mungkin, meski tertatih-tatih, aku harus berdiri dan menguasai situasi. Aku tak boleh lengah sedikitpun.

Tanganku menggapai-gapai sekeliling--kembali merasakan permukaan dinding yang keras, tidak rata, dingin, dan bertanah itu. Aku terus berjalan dengan kedua telapak tangan terus mengusap dinding. Selama itu pula, aku merasa kalau dinding di hadapanku tidak ada ujungnya. Aku seolah berputar-putar di tempat yang sama. Logikaku mengatakan bahwa aku berada di tempat berbentuk melingkar. Aku semakin bingung. Tak lama kemudian, aku teringat pada peristiwa yang menimpaku sebelumnya.

"Ah! Aku ingat! Aku jatuh ke dalam sumur!" Pantas saja sedari tadi aku merasa ada hal yang aneh dengan tempat ini, apalagi ditambah penampakan bintang-bintang bertaburan jauh di angkasa sana. Aku kembali mengingat-ingat. Sepertinya masih ada hal janggal yang lain. "Bukankah sumurnya berair? Aku tenggelam dan tidak sadarkan diri. Tapi, mengapa sekarang sumurnya kering? Pakaianku juga tidak basah."

Aku jatuh ke dalam sumur di siang hari dan baru sadar saat sudah malam. Itu artinya aku tidak sadarkan diri selama sehari. Baiklah, itu masuk akal. Tetapi, melihat keadaan sumur dan pakaianku yang kering, juga pada apa yang terjadi padaku, berawal dari aku yang seolah terhipnotis sewaktu memasuki hutan karena mengejar rusa, sampai akhirnya aku jatuh ke dalam sumur, masih meninggalkan tanda tanya besar di kepalaku.

Aneh bin ajaib.

"Aku harus keluar dari sini." Aku mengangguk mantap. Kudongakkan kepalaku ke atas. "Sumurnya dalam juga."

Tunggu! Sepertinya aku melupakan sesuatu. Beberapa detik kemudian, mataku membelalak--menyadari bahwa aku tidak sendirian sebelum jatuh ke dalam sumur.

"Yodha!" teriakku sambil mendongak--memanggil sahabatku itu dari dasar sumur.

Tak ada jawaban.

"Yodha! Apa kau di sana? Cari sesuatu atau panggil seseorang untuk membantuku keluar dari sini!"

Tidak ada yang datang.

"Yodha! Kau dengar aku tidak?"

Hasilnya tetap sama.

Get In Touch (TAHAP REVISI) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang